Dua Janda Melarat Tinggal di Bekas Pos Jaga

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Dua Janda Melarat Tinggal di Bekas Pos Jaga

Medan, Jelasberita.com | Ditinggal mati suaminya, Nuraini (60), seorang janda miskin tak lagi mampu mengontrak rumah. Akhirnya ia hidup dari belas kasihan orang.







Kesengsaraan hidupnya makin berlipat ketika putrinya bernama Idahwati (35) juga harus berbagi hidup dengannya di sebuah gubuk di Desa Kelambir V Kebun, Kecamatan Hamparan Perak, Deliserdang. Pasalnya, Idahwati alias Ela juga menjadi janda semenjak diceraikan suaminya empat tahun silam.

Waktu itu, Idahwati tengah mengandung anak kedua mereka yakni Siti Kadijah yang kini berumur empat tahun. Anak sulung mereka, Amsari (17) sendiri menjadi buruh bangunan karena putus sekolah dan tak punya ijazah.

“Saya jadi buruh cuci sekaligus membotot. Kalau gak begitu, mau makan apa? Keuangan kami ada sedikit karena dibantu-bantu anakku yang kerja buruh bangunan. ” kata Ela saat ditemui di gubuknya, Jumat (12/2)

Lantaran tak punya pendidikan yang memadai, keluarga ini pun secara tak sadar telah mewariskan kemiskinan. Celakanya, akibat mengurus administrasi  kependudukan ibarat menghadapi tembok, keluarga ini berpuluh tahun tak punya kartu keluarga dan kartu penduduk. Sebagai imbasnya, banyak hak-hak sipil mereka yang terpinggirkan.




Ela sendiri ikut ibunya semenjak ia ditinggal cerai suaminya. Kala itu, suaminya kawin lari dengan wanita lain, padahal istrinya sedang hamil tua. “Waktu itu Siti Kadijah masih dalam kandungan. Dia tidak bertanggung jawab. Dia satpam,” bebernya.

Sudah tak punya KK dan KTP, cucunya Siti Kadijah juga tak punya akte lahir. Hanya ada selembar surat keterangan lahir dari bidan. Sialnya, pemerintah tak pernah memberi bantuan kepada mereka.

Mereka hidup melarat. Berusaha bertahan hidup sebagai pemulung dan buruh cuci. Gubuk itu sendiri dulu hanya sebuah pos ronda untuk jaga malam yang mereka poles sedikit agar punya bilik dan dinding untuk menangkis angin dan panas. Untuk kebutuhan harian, mereka seperti ayam mengais-ais rejeki. “Kami harus beli air minum atau masak air sungai,” ujar Ela.

Baru-baru ini mereka menggali sumur karena tak punya uang membeli air minum. Mereka menggali sendiri sumur itu karena tak punya duit untuk menggaji orang lain.

Selain menggali sumur, mereka juga harus beberapa kali memperbaiki atap rumbianya. Sebab belakangan ini musim hujan. Beberapa bagian dari rumbianya, ada yang bocor. “Kami baru perbaiki atapnya senilai Rp 250 ribu. Kemarin hujan,  bocor atapnya, basah semua,” terang si nenek.

Di gubuk itu cuma ada segulungan tikar dan ambal. Dan itu merupakan pemberian majikannya. Juga ada satu bantal. Tapi tak ada kasur. “Semua harta kami ini pemberian orang. Gaji kami hanya ke dapur. Kami gak dapat menabung,” pungkas Ela. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.