Laporan Jaksa Yulianto Terhadap Harry Tanoesoedibjo ke Bareskrim Dinilai Berbau Politis

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





foto : radarpena.com
foto : radarpena.com

Jakarta, Jelasberita.com| Pesan singkat (SMS) yang diduga merupakan ancaman dari CEO MNC Group, Harry Tanoesoedibjo kepada Kepala Subdirektorat Penyidik Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Agung Yulianto berujung kepada pelaporan yang dilakukan oleh Yulianto ke Bareskrim Polri pada Kamis (27/1/2015) yang lalu.

Beberapa pengamat politik menuding laporan tersebut sangat tidak masuk akal, selain dari konten SMS yang tidak mengandung unsur ancaman, para pengamat politik juga beranggapan bahwa pelaporan ini menunjukkan Kejaksaan Agung telah mengingkari tugas dan tanggung jawabnya sebagai penegak hukum karena lebih memilih memprioritaskan kasus ini ketimbang kasus-kasus korupsi lainnya. Tak hanya itu, laporan ini juga dianggap sangat berbau politis. Hal ini seperti yang diungkapkan pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Pangi Syarwi Chaniago.




“Saya rasa laporan Yulianto itu tidak masuk akal dan lebih memperlihatkan ada unsur politis disini. Sangat aneh jika Jaksa ini terlihat ngebet untuk mempermasalahkan kasus SMS ini, padahal masih banyak kasus yang lebih besar yang perlu ditangani, contohnya kasus Freeport atau kasus lainnya. Saya curiga ini ada apa-apanya,” ujar Syarif, Senin (8/2/2016).

“Harusnya penegak hukum itu lebih mengedepankan penegakan hukum bukan malah ikut campur tangan dalam intervensi politik, tidak boleh ada agenda politik. Menurut saya ini bukanlah merupakan kasus yang pantas ditangani seorang penegak hukum. Ini dapat dikatakan hanya sebagai opini saja,” tambahnya.

Sebelumnya Yulianto mengaku ada sebuah pesan singkat (SMS) yang masuk ke ponselnya yang menurutnya mengandung ancaman pada 5 januari 2016.

Mas Yulianto, nanti akan terbukti siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Tidak akan ada kekuasaan yang bersifat selamanya.  Saya masuk ke politik tujuannya untuk memberantas oknum-oknum penegak hukum yang bertindak semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power atau memanfaatkan kekuatan jabatannya. Catat kata-kata saya disini, Ketika saya jadi pemimpin di Negeri ini, disitulah saatnya Indonsia dibersihkan.”isi sms yang masuk ke ponsel Yulianto.




Sedangkan pada tanggal 7 Januari 2016 Yulianto juga menerima pesan masuk dari WhatsApp, yang menurutnya merupakan orang yang sama yang mengirim SMS pertama. Isi WA tersebut diduga merupakan lanjutan dari SMS pertama yang menyinggung jabatan profesinya sebagai pebegak hukum. Tulisannya, yakni “Kasihan rakyat yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan semakin maju.”

Yulianto yakin bahwa pengirim SMS tersebut adalah CEO MNC Group, Harry Tanoesoedibjo setelah dilakukan penyelidikan. Namun, saat itu Yulianto tidak memberitahu dari mana ia mengetahui bahwa nomor si pengirim merupakan nomor Harry Tanoesoedibjo. Ia menduga hal ini juga berkaitan terhadap pemeriksaan Jaksa Agung kepada Harry Tanoesoedibjo yang diduga melakukan korupsi pada restitusi (ganti kerugian) pajak yang diajukan PT. Mobile 8 Telecom Tbk periode 2007-2009, yang saat itu Harry Tanoesoedibjo merupakan pemilik PT. Mobile 8 Telecom Tbk.

Atas kasus ini, Yulianto melaporkan Harry Tanoe Soe dibjo atas dasar dugaan telah melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Laporan Polisi (LP) Yulianto teregister dengan Nomor LP/100/I/2016/Bareskrim.

Leave a Reply

Your email address will not be published.