Pemprovsu “Tidak Peduli” Danau Toba

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Danau Toba

oleh : Franzul M Sianturi, SE







Sebagai bukti pemerintah pusat dengan motto ayo kerja yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, Danau Toba dengan segala potensinya akan disulap menjadi destinasi wisata dunia dengan julukan Monaco Of Asia.

Keseriusan itu dibuktikan dengan kehadiran beberapa menteri kabinet kerja ke Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa awal Januari silam.

Kehadirannya juga sedikit memicu semangat para perangkat daerah di tujuh wilayah kawasan Danau Toba, secara khusus di Samosir tempat saya bertugas.

Program dan rencana revitalisasi beberapa objek wisata di Kabupaten Samosir sudah diagendakan untuk dibenahi pada APBD Tahun 2016 dengan tujuan menggairahkan semangat pemerintah pusat terhadap danau vulkanik yang bersejarah ini.




Kepala Dinas Pariwisata Samosir Drs Ombang Siboro, Msi juga berkomitmen menyambut baik keseriusan pemerintah pusat untuk Danau Toba. Oleh karenanya, untuk Tahun 2016, beberapa objek wisata akan dibenahinya dan para pelaku wisatanya akan dibekali dengan berbagai pengetahuan wisata yang mumpuni.

Komitmen pemerintah pusat tertuang, dalam sebuah informasi di yang saya baca belum lama ini, pemerintah pusat tidak henti hentinya memberi hati dan pemikiran untuk geliat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Danau Toba. Pemerintah pusat serius memoles Danau Toba yang masuk dalam Top ten Pengembangan Kawasan Destinasi Prioritas Pembangunan Nasional.

Bahkan Rizal Ramli menteri yang dikenal dengan jurus Rajawali kepret ini mengatakan, pembangunan destinasi wisata Danau Toba telah dinanti rakyat Sumut selama puluhan tahun. Tahun ini, mimpi itu harus jadi kenyataan.

Pemerintah pusat diakuinya, akan melakukan pembangunan infrastruktur menuju Danau Toba. Bukan hanya itu, waduk danau yang terbesar di Asia Tenggara ini akan disulap menjadi destinasi unggulan Sumut yang bakal menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Namun, dalam pembangunannya butuh dukungan dari pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar Danau Toba yang mayoritas bersuku Batak. Kendati miliki keindahan alam yang elok dipandang, namun kondisi lingkungan dan air tawarnya jorok dan bau.

Selain Rizal Ramli, Menteri Pariwisata Arief Yahya tidak kalah seriusnya, Mantan Dirut Telkom ini juga menambahkan, anggaran pembangunan infrastruktur kawasan Danau Toba dialokasikan sebesar
Rp 21 triliun, dimana Rp 10 triliun bersumber dari APBN dan sisanya dengan menggandeng pihak swasta untuk ikut dalam membangunan destinasi Sumut. Sehingga target akan mendatangkan 1 juta kunjungan wisatawan ke Danau Toba bisa tercapai.

Yang tidak kalah hebatnya Menteri PU Pera, Basuki Hadimuljono dengan menyebutkan, insfrastruktur jalan tol akan dibangun menuju destinasi Danau Toba sepanjang 116 kilometer dengan jarak tempuh waktu 90 menit. Sehingga, jarak mencapai Danau Toba dari Medan-Parapat yang biasanya membutuhkan waktu 5-6 jam bisa dipangkas menjadi sangat sangat singkat.

Selain sarana jalan, pemerintah juga sangat konsen membenahi, jaringan komunikasi hingga sanitasi air bersih. Lantas, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dimana? Apa tidak peduli sama sekali, atau bahkan hanya sibuk mengurus berbagai kasus korupsi yang menerpa, sehingga tidak ada komitmen perencanaan yang dibangun untuk Pariwisata Danau Toba.

Penjelasan secara rinci tentang plot anggaran APBD Sumut 2016, untuk perkembangan pariwisata Danau Toba secara khusus untuk pembangunan infrastruktur jalan sampai detik ini menurut saya “abu-abu”.

Janji-janji sumbang belaka yang tidak kunjung terealisasi. Betapa tidak, dalam beberapa kali wawancara dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) PU Bina Marga di Dolok Sanggul perihal pembangunan jalan di Kabupaten Samosir, Pemprovsu sepertinya tidak menunjukkan keseriusan.

Infrastruktur yang katanya dibangun di Kabupaten Samosir malah diperparah dengan kwalitas jalan asal asalan. Sebagai contoh, hampir dua km jalan penghubung Tomok, Simanindo dan Pangururan tepatnya di Desa Simarmata, rusak dan pembangunannya tidak dilanjutkan.

Akibatnya, beberapa wisatawan dan masyarakat sangat terganggu dengan kondisi jalan yang tidak layak. Bahkan, beberapa wisatawan terjatuh dan mengalami luka luka saat melintas dijalan itu.

Oleh karena itu, sebagai tuan rumah dan pemilik sah Danau Toba, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) yang dipimpin oleh Plt Tengku Ery Nuredi seharusnya jauh lebih serius dan jauh lebih berkomitmen untuk membenahi Danau Toba yang sudah sangat lama tertinggal dari daerah lain.

Tidak semata mata hanya tampil pada perhelatan acara acara seremonial seperti Festival Danau Toba (FDT) yang sangat membosankan dan hasilnya sangat sia sia.

Saatnya menyambut dan menjadikan Danau Toba sebagai kebanggaan milik Sumatera Utara. Saya sendiri tetap optimis, suatu saat masyarakat akan hidup berkelimpahan dan berkecukupan dari alam Danau Toba yang merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan Allah bagi manusia Sumatera Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published.