Celana Dalam Bertaburan di Pintu Masuk Gedung DPRD Pematang Siantar, Apa Alasannya?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





pedagan memebntangkan celana dalam di depan pintu masuk gedung DPRD Pematang Siantar, sumber : medan.tribunnews.com
pedagan memebntangkan celana dalam di depan pintu masuk gedung DPRD Pematang Siantar, sumber : medan.tribunnews.com

Siantar, Jelasberita.com| Tampak bertaburan beberapa celana dalam bekas di depan pintu masuk gedung DPRD Pematang Siantar yang sengaja dibentangkan oleh para pedagang yang digusur dari eks Gedung Bioskop Deli. Ini merupakan aksi demo yang unik yang dilakukan oleh para pedagang sebagai protes kepada anggota DPRD Kota Pematang Siantar yang tidak bersedia menemui pera pedagang yang datang ke Kantor DPRD, Selasa (2/2/2016).

“Kami datang kesini untuk menanyakan nasib kami, tapi kenapa tak ada satu pun anggota DPRD yang datang menemui kami. Mereka pengecut, mereka pantas memakai celana dalam ini,” ujar Renta Sitanggang, slah seorang pedagang eks Bioskop Deli.




Tak hanya celana dalam yang dibawa ke kantor DPRD Pematang Siantar saat ini saja yang mereka miliki, mereka juga mengatakan jika celana dalam ini tidak cukup untuk para anggota DPRD, mereka masih menyediakan celana dalam bekas lainnya yang disediakan khusus bagi para anggota DPRD.

“Kalau perlu, masih banyak lagi celana dalam yang seperti ini, bahkan kalau perlu BH (breast holder) juga kami sediakan. Kalau tak mau yang bagus yang rombeng pun banyak,” tegas Renta.

“Apa mau diantar satu-satu kepada anggota dewan. Mereka itu pengecut yang sangat pantas mengenakan pakaian dalam rombeng (bekas) ini,” tambah Renta.

Sebelumnya diketahui aksi para pedangang ini sebagai rasa ketidakpuasan para pedagang eks Bioskop Deli terhadap penggusuran gedung bioskop tempat mereka berdagang oleh Pengadilan Negeri Siantar berdasarkan putusan Mahkamah Agung. Berdasarkan putusan itu, Yempo berhak penuh atas gedung yang dibeli dari PT ODT. Sementara, menurut para pedagang, mereka telah membeli kios  yang berada di gedung tersebut seharga satu kilogram emas.




Mereka juga tidak puas terhadap anggota DPRD yang dianggap tidak dapat mendengarkan keluhan para pedagang. Padahal sebelum penggusuran terjadi, DPRD menerima semua keluhan mereka secara manis ketika mendatangi gedung DPRD Kota Pematang Siantar.

“DPRD ini racun bagi kami. Kemarin sebelum penggusuran, mereka menyambut kami dengan manis, nyatanya apa, setelah dieksekusi mereka tak mau mendengar keluhan kami,” ungkap Renta.

Ia menuturkan bahwa Anggota DPRD Siantar adalah racun yang bermuka madu saat berjumpa dengan masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.