Papa Selingkuh, Anak Pemulung Putus Sekolah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Anak Butuh BantuanGADIS remaja itu duduk di tangga batu dengan muka cemberut. Ia malu saat berpapasan dengan orang lain. Apalagi, siang tadi, ada hajatan di ruang Nafiri Lt1, Jalan Wahid Hasyim, Medan. Ia tak kuasa menghadapi tatapan mata ratusan orang.

Rosalinda Pasaribu (14) namanya. Seorang anak putus sekolah. Oktober 2015 lalu ia akhirnya cabut dari sekolah dan sampai sekarang tak lagi masuk kelas. Ia bukan tak cinta sekolahnya, atau alergi belajar. Tetapi, ada sesuatu membebani pikirannya. Ia hanya bisa sesekali mengintip dari pagar sekolahnya kala rindu dengan teman-temannya, SMP.







Rosa, nama akrabnya, sudah mengangguki permintaan ibu kandungnya, Risma Manullang (35) untuk tunda sekolah tahun ini. Ia kini lebih banyak membantu ibunya mencari botot dan nasi sisa di seputaran Helvetia, siang hari. Kalau petang, ia harus memasak untuk santap malam keluarganya yang mengontrak di Jalan Eka Prasti Helvetia.

Anak keempat dari 8 bersaudara terpaksa membotot meski keinginannya masih tinggi. “Saya pengen jadi dokter Bang. Tapi kalau punya uang, pertama akan kubangun rumah untuk mama, biar nggak ngontrak-ngontrak lagi,” katanya menaruh harap.

***
KEPUTUSAN Rosa untuk berhenti sekolah karena ia juga tak kuasa melihat ibunya banting tulang. Semenjak Samser Pasaribu (40), ayahnya kabur ke pangkuan wanita lain, ibunyalah tulang punggung keluarga.

Telah enam tahun ayahnya minggat. Saat itu, adik Rosa yang paling bungsu (anak kedelapan) masih balita. Hingga kini, ayahnya¬† tak pernah kembali. Bahkan tak lagi menafkahi. “Dulu suamiku itu baik, perhatian dan sayang keluarga. Tidak pernah minum (mabuk-mabukan). Tidak mau keluar (begadang). Namun sejak kenal perempuan (WIL), ia jadi jahat,” beber Risma.




Ayah Rosa dulu kerjanya pemulung dan sesekali jadi kuli bangunan. Tapi semenjak mengenal perempuan lain, ia kawin lari dan tak kembali. “Sekarang masih ada empat anakku yang masih sekolah,” cetusnya. Saat ia meladeniku interviu, si bungsu merengek di lantai.

Saat kutanya, kenapa meminta Rosa berhenti sekolah, Risma menerangkan bagaimana sulitnya perekonomian keluarganya. “Kakaknya SMA. Uang sekolahnya Rp 175. Dia lagi. Adiknya lagi SD. Seorang pemulung upahnya, kotor Rp 60 ribu. Padahal pengeluaran besar. Tanggungan banyak. Jadi aku gak sanggup,” ungkapnya.

Risma mengakui pentingnya sekolah. Ia bilang, masih tetap akan memperjuangkan Rosa sekolah. “Nanti kalau ada uang kusekolahkan pun lagi kau. Semampuku kusekolahkan, minimal tamat SMA,” katanya.

Risma mengaku sudah berusaha bekerja keras, namun rejeki pemulung kayak pasar loak, kadang mujur, kadang apes. Ia juga berharap dapat keringanan biaya sekolah anaknya, namun harapan itu selalu kandas, lantaran sekolah menuntut melengkapi berkas berupa Kartu Keluarga dan Kartu Penduduk. “Kamu gak punya KK dan KTP. Sudah lama di Medan ini. Di kampung tak mau urus surat pindah. Ya, jadi gak dapat bantuan,” katanya sedih.

Satu permintaan Risma ke pemerintah supaya dibantu mengurus KK dan KTP. “Aku minta tolong kali ke bapak ibu pemerintah supaya dibikinkan KTP dan KK kami. Sulit kali kehidupanku sekarang. Satu harian aku bekerja, susah sekali dapat uang 40 ribu. Makan seadanyalah orang ini. Kalau ada KK dan KTP, mudah-mudahan bisa cair bantuan biaya sekolah anak-anakku,”¬† harapnya.

Akankah pemerintah mendengarnya? Dan adakah kita mau membantu Rosa agar bisa sekolah. Saatnya berlomba-lomba berbuat kebaikan. (dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.