LGBT, Penyimpangan Seksual yang Mustahil Dilegalkan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





index
Gambar ilustrasi/istimewa

Banjarmasin, Jelasberita.com| Zaman modern ini, masalah tidak memiliki pasangan merupakan permasalahan besar yang kerap-kali menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang, khususnya remaja atau dewasa yang sudah memasuki usia rawan di mana orang-orang akan selalu bertanya ‘kapan nikah?’. Tak jarang olol-olokan karena kelamaan menjomblo sering dilontarkan oleh teman-teman atau orang-orang terdekat. Sebagian orang sering mengatakan bahwa cinta tidak memandang rupa, pangkat, harta dan jenis kelamin hanya sebagai lelucon belaka. Namun siapa sangka, bagi kaum LGBT (Lesbian, Gay Biseksual dan Transgender), lelucon tersebut adalah perkara yang serius. Hampir seperti mendekati hidup dan mati.

Di Indonesia, LGBT bukannya tak ada. Hanya saja mereka masih belum berani untuk mengekspose diri mereka sendiri. Di Banjarmasin sendiri, memang belum ada lembaga swadaya masyarakat yang berani mengkampanyekan hak-hak LGBT secara terbuka. Namun mereka memiliki komunitas sendiri yang orang tidak tahu.




Bagi orang biasa atau dikatakan memiliki perilaku sex yang normal, sebuah penyimpangan seksual adalah hal yang dipandang menjijikan. Namun di beberapa negara barat, perkawinan sesama jenis bahkan sudah dilegalkan.

“Tapi tetap saja, di dalam ilmu psikologi, perilaku menyukai sesama jenis tetap dipandang abnormal,” tegas psikolog Ririanti Rachmayanie, seperti yang dikutip dari ProKalsel, Senin (1/2).

Dia juga mengatakan, kecenderungan menyukai sesama jenis bisa dilacak dari masa kecil. Seringnya karena terjadi pelecehan seksual oleh orang terdekat. Atau pun karena menjadi saksi atas kekerasan dalam rumah tangga yang dipraktekkan oleh orangtua.

“Dia menjadi trauma untuk berumah tangga dengan lawan jenisnya,” jelas psikolog yang juga adalah Ketua Prodi Bimbingan Konseling di FKIP Unlam ini.




Tapi walau begitupun, menurutnya, keluarga yang tentram juga jangan dikira aman. Contoh kasus anak lelaki yang kehilangan sosok panutan dari ayahnya. Pun dengan anak perempuan pada ibunya.

“Misal, si ibu malah mendukung anak cowoknya untuk rajin dandan. Akhirnya karena sebiji jerawat, si anak ributnya minta ampun,” tukasnya.

Ririanti juga meminta perhatian orangtua untuk mendeteksi dini anak-anaknya dengan bersikap awas. Dia menegaskan, jika anak lelaki berdandan pada taraf yang berlebihan mestinya harus dicurigai. Atau anak perempuan yang tidak menunjukkan rasa ketertarikan pada teman lawan jenisnya. Dia pun menambahkan, untuk kasus pada anak perempuan justru lebih sulit mengetahuinya, karena kebanyakan perempuan yang tomboi seringnya dicurigai sebagai lesbian padahal tidak selalu begitu.

Pada contoh kasus yang lebih jauh, keputusan menjadi lesbian atau gay justru bisa terjadi setelah dewasa. “Saya pernah baca. Seorang TKW yang memutuskan menjadi lesbi karena sakit hati dengan perilaku suaminya. Padahal ia sudah punya satu anak,” tambahnya lagi.

Masalah LGBT ini sendiri, jika dipandang dari sudut psikologi adalah penyimpangan seksual. Sedangkan dalam ajaran Islam sendiri, maka hubungan sesama jenis ini dicap haram. Di dalam AlQuran kisah tentang kaum Sodom tersebut muncul di masa dakwah Nabi Luth AS.

Akhmad Saghir, Dekan Fakultas Dakwa dan Komunikasi IAIN Antasari mengatakan, adanya LGBT ini tidak terlepas dari pergeseran nilai di masyarakat. Adanya impor nilai barat dan globaliksasi juga menjadi pemicu adanya gaya hidup cinta sesama jenis tersebut.

Seperti yang dilansir dari ProKalsel, Saghir meminta agar orangtua mengantisipasi anaknya untuk menjauhi perilaku menyimpang tersebut.

“Sebelum akil baligh, orangtua sudah membuat garis tegas tentang jenis kelamin mereka. Bahwa itu sudah sunnatullah yang harus mereka terima,” ucap dosen Ulumul Hadits ini.

Saghir juga mengatakan, jika sudah terlanjur berkecimpung di perilaku menyimpang tersebut, pendekatan halal dan haram disebut tidak efektif lagi.

“Dicap berdosa mereka pasti makin menjauh, menutup diri. Pendekatakannya harus dari hati ke hati,” katanya. Dia mengatakan, pendekatannya harus dengan membujuk anak agar mau bertobat dan mengikuti terapi psikologis untuk penyembuhan.

Saat ditanyai tentang kampanye LGBT yang muncul di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, Saghir menyebutkan bahwa tujuan mereka itu mustahil.

“Ulama kita masih banyak. Ormasnya juga masih teguh menjaga umat. Kalau mereka minta perkawinan sesama jenis dilegalkan, perlawanannya bakal sangat sengit,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.