Modus Buka Bimbel, Pria Ini Cabuli Anak Didiknya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




ilustrasi-pencabulan-anak




gambar ilustrasi pencabulan anak/istimewa

Jakarta, Jelasberita.com| Berdalih dengan alasan kesepian setelah lama cerai dengan istrinya, Muhammad Sholehan alias Rehan (41) tahun, diduga mencabuli sejumlah anak didiknya yang masih berusia sekolah dasar (SD). Rehan membuka jas les atau bimbingan belajar di rumah kontrakan di Desa Kedunggede, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Rehan tercatat sudah membuka jasa bimbingan belajarnya itu selama tiga tahun. Hingga kini, terhitung sudah tujuh anak SD kelas II-VI dengan rentang usia 8-21 tahun yang mengaku dicabuli Rehan dan sudah melapor ke kepolisian Resor Mojokerto. Padahal ada sekitar 20 anak perempuan yang les di tempat bimbingan belajarnya.

“Saat les atau bimbingan belajar, tersangka mencium dan meraba korban sambil diajak nonton video porno,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Mojokerto Ajun Komisaris Budi Santoso, Jumat (29/1) seperti yang dikutip dari Tempo.com.

Menurut laporan dari Tempo.com para korban juga mendapatkan ancaman dari tersangka. “Tersangka juga mengancam jika tidak mau melihat video porno akan diperkosa,” kata Budi. Berdasarkan dari pengakuan para korban tersebut, Rehan langsung ditahan polisi.




Aksi bejat tersangka dengan modus bimbingan belajar itu terungkap setelah guru di sekolah anak-anak yang menjadi korban itu merasa curiga dengan perubahan sikap dan perilaku mereka. Anak-anak tersebut dilaporkan mulai suka berkata kotor dan menonton video porno.

“Satu per satu ditanya oleh guru mereka dan akhirnya mengaku jika perilaku buruk itu didapat saat mereka les di tempat tersangka,” jelas Budi.

Kasus ini sedang didalami oleh polisi karena kemungkinan besar masih ada korban lainnya yang belum melapor. Kepolisian sedang berkoordinasi dengan orangtua dan pihak sekolah untuk mencari korban-korban lainnya yang belum melapor.

Rehan ditahan di markas kepolisian setempat dan dijerat hukum dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengana ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.