Amerika Darurat Virus Zika, Apa Itu Virus Zika?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





160123094056_zika_virus_640x360_ap_nocredit
Microcephalus yang disebabkan oleh virus Zika pada perempuan yang hamil/istimewa

Jakarta, Jelasberita.com| Sejak tahun lalu, dunia kesehatan terfokus oleh pemberitaan tentang mewabahnya virus Zika di sebagian wilayah Amerika Latin, khususnya Brasil. Virus tersebut kemudian menyebar hingga ke sejumlah negara-negara Eropa dan menjadi perhatian dunia. Dari catatan otoritas kesehatan setempat, virus tersebut menyebar melalui wisatawan.

Gejala awal dari terjangkitnya penyakit ini sama seperti gejala-gejala yang terjadi akibat flu. Virus ini pun disebarkan sama seperti demam berdarah dan Chikungunya, yakni gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Namun virus ini tak bisa dianggap remeh, karena virus ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan cacat. Dan kasus kelahiran bayi cacat akibat Zika telah terjadi di Brasil.




Gejala yang umum dirasakan pasien yang terkena virus ini biasanya adalah demam mendadak, lemas, kemerahan atau ruam pada kulit badan, punggung dan kaki, nyeri otot dan sendi, dan juga sakit kepala. Karena gejala virus ini mirip dengan virus Dengue yang menyebabkan demam berdarah, infeksi ini seringkali tidak terdeteksi karena umumnya gejalanya ringan.

Virus Zika ini merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus, bagian dari virus RNA yang pertama kali diisolasi pada tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika, Uganda. Menurut ahli, Zika sendiri merupakan nama hutan tempat virus ini berhasil diisolasi.

Virus ini kemudian menyebar ke beberapa negara di Afrika Asia khususnya Asia Tenggara, Mikronesia, Amerika Latin dan Karibia. Beberapa peneliti menyebutkan, sejumlah kasus membuktikan adanya keterkaitan antara penyakit Microcephalus atau kepala kecil pada bayi yang lahir di Brasil merupakan dampak dari virus Zika. Microcephalus sendiri terjadi karena pertumbuhan otaknya terganggu.

Sementara itu, dilansir dari BB Indonesia, para ilmuwan Amerika Serikat yang mengkaji virus Zika memperingatkan, diperlukan waktu sepuluh tahun sebelum vaksin tersedia bagi masyarakat umum. Saat ini vaksin atau obat belum ada, sedangkan uji diagnosa sulit dilakukan.




Pencarian vaksin tersebut dipimpin para ilmuwan di University of Texay Medical Branch. Mereka mengunjungi Brasil untuk melakukan penelitian dan mengumpulkan sampel. Sekarang mereka sedang melakukan analisis di laboratorium yang dijaga ketat di Galveston.

Leave a Reply

Your email address will not be published.