MUI: Kami Tantang Petinggi Gafatar Debat di Depan Pengikutnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





94eefbcb-e905-4d8d-ace0-2409be0e8f2f_169
seorang warga sedang membaca tabloid Gafatar terbitan 2014. (CNN Indonesia)

Jakarta, Jelasberita.com| Kontroversi mengenai Gafatar semakin meluas di Indonesia, apalagi sejak terjadinya penggusuran dan pemulangan pengikutnya dari daerah masing-masing. MUI sendiri menyatakan bahwa Gafatar adalah aliran sesat karena mengajarkan paham yang bertentangan dengan Islam. Namun Gafatar menolak dinyatakan sesat karena mengaku mereka bukan Islam.

Zaitun Rasmin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama (MUI) pun mengungkapkan, pihaknya menantang para petinggi organisasi Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar untuk melakukan debat di hadapan para pengikutnya. Menurutnya, hal tersebut diharapkan dapat menyadarkan anggota-anggota mereka bahwa selama ini yang diajarkan kepada mereka adalah hal yang tidak benar.




“Yang paling penting adalah bagaimana anggota-anggota mereka ini bisa disadarkan. Karena itu, saya sudah memberikan saran kepada Menkopolhukam agar tokoh-tokohnya (Gafatar) ini diajak dialog, kalau perlu sampai debat, di depan pengikut-pengikutnya, supaya pengikutnya bisa langsung tahu, ‘oh ternyata selama ini kita dikibulin,’” jelas Zaitun di Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Selasa (26/1) seperti yang dikutip dari CCN Indonesia.

Dia juga melanjutkan, bahwa MUI siap berdebat dengan Gafatar asalkan dilakukan di depan para pengikutnya.
Menurut Zaitun, para anggota Gafatar tersebut sebenarnya memeluk agama Islam, namun mereka menjadikan Milah Abraham sebagai modus untuk bisa mengelak dari Undang-Undang Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, meski telah mengajarkan pemahaman yang dinilai menyimpang dari ajaran agama.

“Mereka pakai Milah Abraham itu, sehingga tidak kena peraturan agama itu. Ini tidak boleh, karena mereka, walaupun mengistilahkan keluar, itu hanya formalnya saja. Mereka tetap menggunakan ajaran agama Islam, hanya nanti mereka ubah-ubah, seperti tidak mewajibkan salat, jilbabnya dibuka. Itu kadang-kadang dalam keadaan terpaksa dilakukan perubahan-perubahan. Jadi itu modus,” jelasnya, seperti yang dikutip dari CCN Indonesia.

Zaitun juga menjelaskan, Milah Abraham yang menjadi pegangan Gafatar itu sebenarnya hanyalah rekayasa untuk mencoba memadukan Yahudi, Kristen dan Islam yang kemudian dijadikan modus. Karena jika mereka tetap mengaku Islam, namun dengan ajaran yang menyimpang, berdasarkan peraturan tersebut, para anggota Gafatar bisa dijerat pasal penistaan agama.




“Jadi kalau mereka (mengaku memeluk) agama Islam, mereka itu kan melakukan penistaan agama Islam. Kalau Kristen, melakukan penistaan agama Kristen. Mereka mencoba membuat Milah Abraham, sehingga bisa keluar (tidak terkena) aturan itu,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.