Mario si Penyusup Roda Pesawat Garuda Akan Disidang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





201412291064
ilustrasi maskapai Garuda Indonesia (ANTARANews.com)

Pekanbaru, Jelasberita.com| Masih ingat aksi nekat yang dilakukan oleh Mario Steven Ambarita? Beberapa waktu yang lalu, pria berumur 21 tahun asal Bagan Batu, Rokan Hilir, tersebut sempat membuat heboh masyarakat Indonesia dan bahkan menjadi buah bibir internasional karena ulahnya yang nekat menyusup di rongga ban pesawat Garuda Indonesia GA177 di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Akibat ulahnya yang membahayakan itu, Mario dibawa ke pengadilan. Ia pun kini harus menjalani sidang di Pengadilan Negeri Pekanbaru setelah jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Pekanbaru melimpahkan berkas perkaranya ke PN Pekanbaru.




“Berkasnya sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Pekanbaru,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kajari Pekanbaru, Adi Kadir, Senin (25/1).

Seperti yang dikutip dari Tempo.co, Adi mengatakan, penuntutan akan dilakukan jaksa penuntut dari Kejaksaan Agung dan Kajari Pekanbaru. Menurutnya, hingga ini kejaksaan masih menunggu jadwal sidang yang ditentukan oleh majelis hakim di PN Pekanbaru.

Selama ini, Mario diketahui menjalani pemeriksaan oleh penyidik pegawa negeri sipil terkait dengan aksi nekatnya itu. Dia dijerat dengan Pasal 421 ayat 1, Pasal 433, dan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Mario terancam hukuman 1 tahun penjara dan diwajibkan membayar denda sebesar Rp 500 juta.

Kasus Mario yang nekat ‘menumpang’ pesawat Garuda Indonesia GA177 ini memang sangat mengagetkan. Dirinya diketahui petugas saat keluar dari dalam rongga pesawat Garuda yang berangkat dari Bandara Syarif Hasim II, Pekanbaru, ke Bandara Seokarno-Hatta, Jakarta, pada Selasa malam tanggal 7 April 2015 silam.




Petugas yang menemukan Mario mengaku kaget dan langsung membawanya ke klinik untuk diperiksa kesehatannya. Setelah pemeriksaan 24 jam, penyidik pegawai negeri sipil Kementerian Perhubungan akhirnya menetapkan Mario sebagai tersangka karena terbukti melanggar UU Penerbangan.

Meski ditetapkan sebagai tersangka, Mario tidak ditahan karena tuntutan hukumnya hanya 1 tahun penjara. Penyidik akhirnya membebaskan Mario dan memulangkannya ke kampung halamannya pada hari Selasa tanggal 14 April 2015.

“Tapi proses hukum akan terus berjalan dan terbuka,” kata Ketua Tim penyidik PPNS Kementerian Perhubungan, Rudi Ricardo.

Meski tak terdapat korban jiwa, atas insiden tersebut, General Manager Bandara Syarif Hasim II harus dicopot dari jabatannya lantaran dianggap lali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.