Guna Turunkan Angka HIV, Wali Kota di Afrika Berikan Beasiswa Untuk Gadis yang Jaga Keperawanannya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




0445fcbf-67c2-4e00-9496-8168767d9fea_169




gambar ilustrasi. (detikcom)

Uthuleka, Jelasberita.com| Afrika merupakan salah satu negara dengan kasus HIV terbesar di dunia. Untuk menekan angka kasus HIV tersebut pemerintah sudah melakukan banyak cara dan upaya. Salah satunya adalah dengan menyekolahkan para gadis dengan jenjang pendidikan setinggi-tingginya.

Cara inilah yang dilakukan oleh seorang wali kota sebuah distrik bernama Uthuleka, Provinsi Kwazulu-Natal, Afrika Selatan. Mulai tahun ini, wali kota Dudu Mazibuko berjanji akan memberikan beasiswa penuh kepada 113 gadis potensial di wilayahnya untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Uniknya, beasiswa tersebut diberikan kepada gadis yang bersedia menjaga keperawanannya selama menempuh studi. Ada 16 gadis yang mendapat beasiswa yang diberi nama Maiden’s Bursary Awards.

Untuk memastikan gadis-gadis tersebut tetap perawan, gadis-gadis tersebut diminta menjalani tes kepewanan yang dilakukan secara rutin. Tak hanya itu, mereka juga harus mengambil bagian dalam ritual tahunan di suku Zulu yang berfungsi sebagai tes keperawanan tradisional.




Menurut wali kota Dudu, beasiswa ini diberikan kepada gadis-gadis muda karena mereka rentan terhadap eksploitasi lingkungan, kehamilan dini hingga penyakit menular seksual.

Kekhawatiran tersebut dibuktikan dengan data yang diperoleh dari Departemen Pendidikan Dasar Afrika Selatan yang mencatat ada 20.000 kehamilan yang terjadi pada gadis di usia sekolah sepanjang tahun 2014. 223 kasus di antaranya bahkan dialami oleh bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dengan adanya beasiswa yang diberikan ini, Dudu berharap para gadis muda di Afrika Selatan bisa menjaga keperawanannya sekaligus untuk menekan angka kasus HIV/AIDS di negara itu. Termasuk kehamilan yang tak diinginkan (KTD).

Seperti yang dikutip dari detikcom, Afrika Selatan telah mendapatkan predikat sebagai negara dengan jumlah pengidap HIV terbanyak di dunia, yaitu mencapat angka 6,3 juta jiwa.

“Bagi kami, ini hanyalah ungkapan terima kasih karena mereka telah menjaga diri mereka,” ujar Dudu dalam sebuah acara bincang-bicang di stasiun radio.

Meskipun begitu, hal ini tak lantas mendapatkan persetujuan dari semua pihak. Sejumlah kelompok HAM maupun pendukung persamaan gender memberi kritikan terhadap kebijakan Dudu tersebut.

Mereka menilai, beasiswa itu justru akan memperlihatkan diskriminasi nyata terhadap perempuan karena menutup peluang mereka untuk memperoleh kesempatan yang sama.

“Lagi pula tes keperawanan tidak akan membantu menghentikan penyebaran HIV dan AIDS,” pungkas Idumeleng Muloko dari People Opposing Women Abuse (Powa) Afrika Selatan, kepada BBC, Selasa (26/1).

Leave a Reply

Your email address will not be published.