Dicap Sesat MUI, Mantan Ketum Gafatar Akhirnya Angkat Bicara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




152301220160126-131632-1-1-780x390




Mantan Ketum Gafatar di sebalah kiri. (Kompas.com)

Jakarta, Jelasberita.com| Kabar tentang pemulangan eks kelompok Gafatar belakangan ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Organisasi yang dinilai sesat oleh MUI tersebut akhirnya dibubarkan pasca penggusuran hingga pemulangan para anggotanya ke daerah masing-masing.

Mendengar bahwa organisasi yang pernah dipimpinnya dicap sesat MUI, Mantan Ketua Umum Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful M Tumanurung pun akhirnya angkat bicara soal polemik kelompoknya tersebut.

Mahful membantah jika dikatakan Gafatar memiliki keyakinan yang berbeda dengan agam Islam. Karena itu, dia menolak fatwa MUI sejumlah daerah yang memvonis bahwa Gafatar menyebarkan ajaran sesat.

“Kami tidak memiliki paham yang sama, kami bukan bagian dari mereka. Bagaimana kami difatwa kalau kami ada di luar,” kata Mahful, dalam konferensi pers di Gedung YLBHI, Jakarta, Selasa (26/1).




Dilansir dari Kompas.com, Mahful menegaskan bahwa mayoritas mantan anggota Gafatar telah keluar dari keyakinan agama Islam mainstream. Ajaran yang mereka pegang adalah paham Millah Abraham yang dianggap sebagai jalan kebenaran.
Gafatar menggelar kongres pada tanggal 14 Agustus 2011 dan menetapkannya sebagai Ketua Umum. Program utama Gafatar adalah pertanian mandiri, seperti yang dijelaskan oleh pria yang mengaku lulusan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat tersebut.

Namun demikian, pada 13 Agustus 2015, organisasi Gafatar dibubarkan melalui kongres luar biasa. Adapun Mahful mengatakan, pembubaran tersebut dilakukan karena berbagai alasan.

Sejak pembubaran tersebut, seluruh anggota Gafatar diberi kebebasan untuk tetap menjalankan program, pun dengan keyakinan yang mereka anut. Mahful juga menegaskan, bahwa Gafatar melakukan perekrutan anggota secara terang-terangan.

Dari penuturannya, ia mengaku pernah meminta waktu untuk berdialog dengan MUI pada tahun 2015 lalu, tetapi tidak pernah ditanggapi.

“Kantor kami terbuka lebar, kenapa ketika kami eksis kami tidak pernah diajak berdiskusi? Kenapa tiba-tiba kami diberi fatwa? Apakah Anda (MUI) pernah berdialog dengan kami?” kata Mahful, seperti yang dikutip dari Kompas.com.
Dia juga menyatakan, soal keyakinan, itu adalah hak asasi mereka. Dia juga menghimbau untuk saling berlomba, bukan saling mencegah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai, Gafatar mengajarkan ajaran atau paham yang menyimpang, khususnya dari ajaran Agama Islam. Hal itu lantaran Gafatar tidak mewajibkan untuk menjalankan ibada shalat dan puasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.