Muda-Mudi Bengkulu Kampanyekan ‘Stop Bertanya Kapan Nikah’

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





90f5acba-5e72-4acb-be32-c91d8b0f2b61_169
foto ilustrasi (detikcom)

Nusa Dua, Jelasberita.com| Ketua Harian Forum GenRe (Generasi Berencana) Provinsi Bengkulu, Yulesti, mengatakan angka pernikahan dini di Bengkulu tercatat masih cukup tinggi. Bagaimana tidak, di provinsi tersebut laki-laki tidak juga menikah akan disebut sebagai bujang lapuk.

Para perempuan di provinsi tersebut bahkan terasa lebih besar tekanannya. Selain mendapat label sebagai perawan tua, para perempuan yang tidak segera menikah akan dianggap sebagai beban orangtua dan keluarga. Maka dengan begitu, ketika ada yang melamar, anak perempuan akan langsung dinikahkan meski umur mereka terbilang belia karena masih belasan tahun.




“Nikah dininya tinggi, dan kekerasan juga tinggi di Bengkulu,” kata Yulesti saat ditemui di sela-sela Youth Pre-Conference ICFP (International Conference on Family Planning) 2016 di Nusa Dua, Bali, Minggu (24/1) seperti yang dikutip dari detikcom.

Kondisi masyarakat provinsi Bengkulu tersebut cukup membuat resah. Dikarenakan masih banyak remaja-remaja yang sudah menikah di usia muda. Angka kekerasan dalam rumah tangga pun disebut-sebut tinggi karena faktor usia yang belum matang, namun sudah dihadapkan pada pernikahan.

Atas kondisi itu, Yulesti dan kelompoknya akhirnya menggagas sebuah kampanye untuk menekan angka pernikahan dini. Mereka menggagas sebuah kampanye yang mengajak masyarakat untuk tidak menikah buru-buru. Kampanye ini mulai disisipkan dalam lomba futsal untuk remaja yang mereka gelar akhir Desember 2015 lalu.

“Nah dalam lomba futsal tersebut, untuk pertama kalinya kita sosialisasikan pesan ‘stop bertanya kapan nikah’,” ujar Yulesti.




Menurutnya, respon para remaja atas kampanye tersebut umumnya positif. Namun bukan berarti penolakan. Dia menjelaskan, sebagian remaja memiliki anggapan bahwa menikah muda adalah hak asasi.

“Kalau sudah kebelet hubungan seks, daripada haram dan berbuat dosa, mending nikah saja,” tutur Yulesti menirukan komentar-komentar miring yang diterimanya.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sudah merekomendasikan bahwa usia minimal untuk menikah adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Pada perempuan, pernikahan di usia yang terlalu muda banyak dikaitkan dengan kehamilan yang berisiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published.