SGRC UI: Kami Bukan Komunitas LGBT

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





32ceca11-51e4-4bd6-b5a1-bc9e6ac02bb3_169
foto ilustrasi (detikcom)

Jakarta, Jelasberita.com| Terkait pemberitaan mengenai komunitas konseling LGBT di UI, atau yang disebut SGRC UI, UI menyatakan penolakan terhadap SGRC di kampus mereka. UI juga menyangkal sola pemakaian lambang makara UI. Menurut UI organisasi tidak berizin.

Sehubungan dengan itu, seorang aktivis di komunitas SGRC, Nadia Karima Melati, Mahasiswa FIB UI yang juga Koordinator SGRC UI menyampaikan bahwa organisasi SGRC adalah komunitas yang memberikan pemahaman tentang isu gender, khususnya kepada remaja dan dewasa muda sekarang ini.




“Kami memberikan edukasi dan advokasi soal kekerasan yang berhubungan dengan gender di lingkungan kampus, kita publish paper ke konferensi-konferensi untuk mengawal isu-isu seputar itu,” papar Nadia ketika di temui di Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/1) seperti yang dikutip dari detikcom.

Menurutnya, awal pembentukan SGRC berawal dari salah satu rekannya, yang juga mahasiswa UI, mengalami kesulitan saat membuat skripsi tentang isu seksual. Dia mengatakan bahwa sumber untuk skripsinya itu sulit didapatkan.

“Nah, kita berpikir buat resources centre buat teman-teman yang nantinya mau bikin penelitian yang sama. Nah, setelah dipikir-pikir, sayang kalau kita cuma bikin resource centre makanya kita bikin support group supaya untuk memberikan kesan kelompok kita juga mementingkan impelementasinya. Kita bikin support group agar si korban-korban, baik korban pelecehan dan yang lainnya, fokusnya kekerasan berbasis gender,” jelasnya.

Menanggapi tentang pihak UI yang menyebut mereka tak memiliki kewenangan, dia juga mengaku ingin menjelaskannya terlebih dahulu masalah tersebut. Di mana pada awalnya, SGRC ini diterima oleh pihak universitas, dosen-dosen dan yang lainnya karena memang fokus komunitas ini adalah untuk edukasi dan support group.




“Tiba-itba pemberitaan ini bisa boom itu gara-gara poster kerjasama SGRC dengan Melela. SGRC sebenarnya tidak pernah mempublikasikan poster itu. Kami internal kaget begitu poster ini tersebar, kami merasa kecolongan karena sebenarnya program dengan Melela ini tidak pernah di set kami,” katanya menjelaskan mengenai maraknya pemberitaan terkait poster yang beredar di dunia maya itu.

Nadia menegaskan, SGRC bukan Komunitas LGBT. Tetapi tiba-tiba dengan adanya pemberitaan ini, SGRC menjadi dilekatkan dengan Komunitas LGBT. Dia mengaku, padahal dia sendiri sebagai koordinator utama sekaligus salah satu pendirinya merasa bukan bagian dari LGBT.

“Saya pure heteroseksual. Jadi kalau SGRC dibilang komunitas LGBT, terus saya apa? Dan banyak juga teman-teman saya yang heteroseksual, karena kita, kan pengen belajar. Jadi SGRC memang bukan komunitas LGBT. Kita tidak pernah mempublikasikan,” ujar dia lagi.

Menurutnya sendiri, SGRC memandang LGBT sebagai manusia yang membutuhkan teman dan perlindungan. Jadi mereka menolong advikasi bagi orang-orang LGBT yang menerima kekerasan berbasis gender. Dia menyebutkan bahwa gender tersebut memiliki arti luas, dan LGBT adalah bagian dari seksualitas dan merupakan bagian dari kajian mereka.

“Kami nggak mendorong dan kami nggak pernah menyembuhkan orang menjadi gay, yang kami lakukan adalah memberikan informasi kepada generasi muda, bahwa ini tubuh kamu, kamu harus berdaulat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.