Badai Salju Hebat di AS Telan Korban Jiwa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





1451143Salju780x390
Akibat badai salju yang hebat, delapan orang dinyatakan tewas karena angin kencang dan badai salju. (Kompas.com)

Washington, Jelasberita.com| Badai salju hebat yang membawa salju dengan ketinggian lebih dari 60 cm dan angin kencang bergerak ke arah pantai timur Amerika Serikat. Atas kejadian itu, beberapa orang dilaporkan tewas akibat badai salju tersebut.

Karena badai salju itu, lebih dari 50 juta orang di belasan negara bagian telah diperingatkan untuk tetap berada di rumah masing-masing menyusul badai yang masih terus bergerak ke arah utara.




Di ibu kota Amerika Serikat sendiri, Washington, ketinggian salju mencapai 76 cm yang merupakan rekor terburuk pada saat badar berlalu, Minggu (24/1) nanti.

Akibat badai salju tersebut, sebanyak delapan orang telah dinyatakan tewas dalam berbagai kecelakaan lalu lintas terkait badai salju, dan enam negara bagian sudah mengumumkan keadaan darurat. Tak hanya itu, ribuan penerbangan pun sudah dibatalkan.

Salju pertama turun pada hari Jumat siang di Washington. Dinas Cuaca Nasional AS menyebutkan, badai ini bisa jadi merupakan yang terburuk dalam sepanjang sejarah kota tersebut.

Seluruh warga di ibu kota dan sekitarnya telah diberi tahu bahwa salju bisa saja mencapai ketinggian yang melampuai rekor sebelumnya, yakni 71 cm saat Washington dilanda hujan salju selama dua hari pada tahun 1922 silam.




Umat Katolik, di Baltimore dan Delaware di Washington sudah mendapat himbauan dari para petugas gereja agar mereka tak harus melakukan misa pada hari Minggu dikarenakan cuaca yang terlalu ekstrim.

Menyusul hebatnya badai salju tersebut, berbagai pasar serba ada harus mengalami kehabisan persediaan makanan.
Beberapa toko bahkan rak-raknya kosong melompong sesudah warga bergegas memborong kebutuhan pokok menjelang turunnya salju pertama pada Jumat lalu.

Sharon Brewington, seorang penduduk Baltimore mengatakan, saat badai salju tahun 2010 lalu, ia dan anaknya harus melewati hari-hari hanya dengan memakan mi dan air minum.

“Saya tak mau hal itu terjadi lagi,” ujarnya tentang alasan mengapa ia memborong dan menumpuk persediaan makanan selama badai terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.