5 Keterangan Saksi Mengarah Ke Jessica Sebagai Pelaku Kasus Kematian Mirna

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





liputan6.com
liputan6.com

Jakarta, Jelasberita.com | Meninggal dalam keadaan kejang-kejang saat meminum es kopi Vietnam di Olivier Cafe, West Mall, Grand Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Mirna Salihin (27) diduga menjadi korban salah sasaran akibat racun pada kopi yang ditenggaknya. Hingga kini kasusnya masih dperiksa pihak kepolisian.

Dugaan tersebut bukan hanya sekedar dugaan, hal ini juga diperkuat oleh hasil pemeriksaan Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri terhadap kopi yang diminum Mirna.




“Dari hasil sampel yang dikirim ke Labfor, ditemukan kandungan sianida sebanyak 15 gram,” kata Kepala Pusat Laboratorium Forensik Polri Brigadir Jenderal Alex Mandalika.

“Sebagai perbandingan, 90 miligram sianida bisa menyebabkan kematian pada orang dengan berat badan 60 kilogram. Sekitar 90 miligram, jika dalam bentuk cairan, dibutuhkan 3-4 tetes saja. Sedangkan 15 gram, sekitar satu sendok teh. Bayangkan saja, banyakan mana 90 miligram dengan 15 gram,” katanya.

Sebelumnya, Polisi telah memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di dalam Olivier Cafe, namun hal ini tidak memberi banyak petunujuk tentang kematian Mirna.

Selain pengumpulan bukti di TKP, pihak kepolisian juga melakukan interogasi terhadap orang-orang yang berada disekitar Mirna saat peristiwa tersebut terjadi. Hal ini dapat dilihat dari sebuah video yang beredar, dimana polisi sedang menginterogasi kepada dua manager dan karyawan Olivier Cafe.




Namun pada saat interograsi itu berlangsung ada hal yang ganjil dengan emosi yang diperlihatkan kedua teman Mirna saat itu, yaitu Hanny dan Jessica Kusuma Wongso.

Dari keterangan saksi kecurigaan tertuju pada salah satu teman Mirna, yaitu Jessica. Berikut ini 5 keterangan saksi yang mengarah kepada Jessica sebagai pelaku dalam kasus ini.

  1. Jessica memesan sendiri minuman untuk kedua temannya, lalu membayar minuman tersebut sebelum minuman yang dipesan dibuat. Padahal, prosedur yang berlaku di Cafe tersebut tidak demikian, tagihan pembayaran dilunaskan ketika pelanggan akan pulang. Disini para pegawai Olivier muali merasa curiga dan aneh kepada Jessica. Meskipun begitu, Jessica saat itu beralasan bahwa dia ingin mentraktir temannya dan membuat surprise ke mereka.
  2. Tempat duduk yang luas tidak dimanfaatkan Jessica untuk menaruh barang belanjaannya di sofa. Malah Jessica menaruh Goodybag nya tersebut diatas meja, sehingga posisinya menutupi gelas dari tangkapan kamera CCTV. Disini kecurigaan para saksi bertambah. “Dengan sofa seluas itu harusnya dia bisa menaruh belanjaannya di tempat duduk. Tapi tidak dilakukannya. Ini aneh,” ujar saksi yang diduga manager Olivier.
  3. Jessica telah mengatur dan menyetting setiap gelas minuman. Bahkan, tempat duduk bagi Hanny dan Mirna sudah disiapkannya. Selain itu, ketika kedua temannya tiba, Jessica sudah memposisikan diri di bagian pinggir. Mau tak mau Mirna yang datang belakangan harus duduk di bagian tengah. Ini menimbulkan kejanggalan bagi pihak kepolisian.
  4. Saat Mirna menenggak minumannya sekali dan langsung kejang-kejang, Hany langsung panik. Tapi tidak demikian dengan Jessica. Seluruh saksi mulai dari pramusaji hingga manager berani bersumpah jika Jessica tak menunjukkan tanda-tanda wajah khawatir dan bingung. Sebaliknya, dia kelihatan sangat tenang dan masih saja duduk. Bahkan ketika para pegawai Cafe hendak menolong Mirna, Jessica tak bergeming. “Kami mau lewat harus minta izin dulu sama Bu Jessica. ‘Permisi bu, kami mau menolong Ibu Mirna’, baru deh Bu Jessica mempersilahkan,” ujar manager Cafe Olivier.
  5. Dan yang paling mengherankan lagi, Jessica langsung menuduh jika minuman itu diberi racun. Manager yang menjadi saksi langsung mengamankan minuman tersebut. Setelah polisi datang, barulah minuman tersebut diberikan. “Padahal yang ada dipikiran para karyawan apakah Bu Mirna ada penyakit ayan atau apa saja. Tapi Bu Jessica malah mengarah ke minuman,” ungkap manager tersebut.

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyebutkan, jika kematian Wayan Mirna Salihin (27) usai minum kopi adalah sebuah kasus pembunuhan dengan racun sianida yang dibubuhkan di kopi yang diminum Mirna, maka pelakunya bukanlah orang awam atau umum.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.