Diusir WhatsApp, ISIS Buat Aplikasi Alrawi Untuk Komunikasi Antar Teroris

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





banner-isis
Gambar ilustrasi (jalantikus.com)

Jakarta, Jelasberita.com| Selain masyarakat umum, ternyata para anggota ISIS juga menggunakan aplikasi pesan instan untuk bisa berkomunikasi dengan para anggotanya. Setelah ditendang dari WhatsApp, Telegram dan aplikasi android lainnya, ISIS pun menggunakan aplikasi lain untuk melancarkan komunikasi ke sesama anggota mereka.

Dilansir dari Antara News, salah satu aplikasi chat yang mereka gunakan saat ini adalah Alrawi. Aplikasi yang dibuat terenkripsi itu membuat pemerintah dan badan-badan keamanan lebih sulit dalam memata-matai jejak teroris tersebut.




Hal ini ditemukan oleh jaringan kontraterorisme yang dikenal sebagai Ghost Security Group. Sebelumnya, dikabarkan ISIS berkomunikasi dengan Telegram. Namun pihak pengembang aplikasi Telegram akhirnya mengidentifikasi lebih dari 9.000 akun pengguna dan memblok 78 channel yang diduga milik ISIS atas laporan dari kelompok Anonyous dan GhostSec.

Merasa tak leluasa dalam menggunakan aplikasi umum, ISIS pun akhirnya membuat aplikasi sendiri bernama Alrawi, yang mampu mengirimkan pesan terenkripsi seperti halnya telegram. Seperti yang diketahui, arus pesan yang terkirim tidak akan mungkin mampu terdeteksi oleh pihak berwenang.

Perlu diketahui, aplikasi Alrawi tidak akan muncul di Google Play Store, karena penyebaran aplikasi ini dilakukan secara rahasia dan hanya untuk kalangan ISIS saja.

Belum diketahui bagaimana tampilan aplikasi tersebut, serta apa saja fiturnya. Namun, menurut dugaan, aplikasi ini merupakan aplikasi chat android yang dapat mengirimkan pesan berupa teks, gambar dan video.




Meskipun keamanan Alrawi tidak secanggih WhatsApp atau Telegram, aplikasi chat ini dapat melindungi pengguna dengan mengenkripsi chat. Selain itu, tanpa perusahaan terkemuka di belakang Alrawi, tidak ada yang melarang ISIS menggunakan aplikasi tersebut.

Karena Alrawi tidak bisa diunduh dari Google Play, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa jauh platform mobile tersedia untuk memerangi terorisme.

Pemerintah sebenarnya mampu untuk mendorong agar enkripsi tersebut dibuka, namun mungkin ada cara lain untuk menjaga keamanan tanpa harus melanggara privasi banyak orang. Apple dan Google sendiri dapat dengan mudah mengeluarkan aplikasi yang digunakan untuk banyak orang dari toko aplikasi resmi mereka. Tetapi, timbul pertanyaan, apakah mereka bersedia mengontrol pengguna secara langsung dengan sistem operasi mobile mereka?

ISIS sendiri telah mengakui bertanggungjawab atas serangan teror dan bom yang terjadi di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta pada Kamis (14/1) lalu. Dan sejumlah media massa internasional meyakini bahwa perancang Teror Thamrin berada di Suriah setelah berkomunikasi dengan fasilitas chat Telegram.

Leave a Reply

Your email address will not be published.