Menggelorakan Wisata Bahari

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





header-pengembanganwisatabahari
sumber: pengembanganwisatabahari

Oleh Riduan Situmorang

Jasmerah atau jangan melupakan sejarah adalah semboyan melegenda dari Sukarno. Kurang lebih, pengertian semboyan itu adalah agar kita tak melupakan hal-hal silam yang menyulam negeri ini, baik itu dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Sangat tak elok kalau kita mendurhakai Ibu Pertiwi yang telah menyusui dan membesarkan kita anak-anaknya. Bagaimanapun kita sekarang, tak dapat dibantah bahwa berbagai garam yang telah dicecapi dari negeri ini telah mengantar kita pada tepian yang mungkin nanar, hambar, tawar, juga bugar. Itu semua berasal dari sekujur tubuh eksotis Ibu Pertiwi kita.




Pertanyaannya, setelah berlayar dari tepian ke tepian hingga mengantarkan kita pada posisi sekarang, apakah kita akan menjadi anak durhaka yang melupakan ibu setelah menguras air susunya yang mujarab? Apakah pula air susu yang telah menjadi nutrisi di setiap otot dan otak kita akan menjadi tuba yang cukup membuat mata hati kita buta?

Ibu Peritiwi adalah ibu yang baik. Dia ibu yang mengayomi. Sudah tersiar ke seluruh penjuru mata angin bahwa Sang Ibu sudah melahirkan anak-anak yang ramah dalam berutur. Tubuhnya juga teramat eksotis dan menawan sehingga banyak pelancong yang mencoba merenggutnya! Emosinya bahkan stabil sehingga musim demi musim dibagi dengan porsinya yang pas. Kita akhirnya (harusnya) tak kepanasan, tak kedinginan, tak kehausan, tak kebanjiran. Justru lagi, setelah mandi di kolam susu, kita akan dengan mudah mendapat ikan, buah, dan sayur yang bergelimang.

Mengonversi Kecemburuan

Karena itu, lahirlah kita sebagai anak-anak sehat dan kuat. Gizinya berimbang. Konon, saudara-saudara kita pernah sukses mendirikan Sriwijaya dan Majapahit. Petutur kebudayaan besar, M. Yamin, menginterpretasinya secara berurutan sebagai “Republik Pertama” dan Republik Kedua”. Keduanya saudara-saudara hebat. Asia, kala itu, dalam genggaman dan pengaruhnya. Pedagang-pedagang dari daerah lain berkerumun. Dan, uang pun mengalir deras dalam tali pusatnya.




Dari kesuksesan saudara-saudara tua itu, banyak situs sakral tersaji sebagai warisan. Ada candi, prasasti, keris, alat musik, sarkofagus, dan masih banyak lagi. Segalanya tertata dengan rapi dan menjadi sesuatu yang antik. Tak banyak negara demikian. Tak kalah menarik, bahasa sebagai pengantar pesan kedamaian yang kini menjadi semacam lingua franca di ASEAN bahkan berasal dari kerongkongannya. Mantra-mantra, nasihat-nasihat, puisi-puisi, nyanyian-nyanyian, gerak gemulai tubuh dengan cekatan dipoles dari waktu ke waktu. Dari rahimnya, menetaslah 1.280 suku bangsa yang unik. Punya bahasa sendiri, ritual sendiri, alat musik sendiri, tarian sendiri. Sangat beragam dan harganya tentu saja tak ternilai.

Semua ini, hanyalah bagian pelengkap dari kekayaan lainnya yang secara intrinsik tersusun dari pulau-pulau besar dan kecil sebanyak 17.840 buah dan lautan seluas 5,9 juta kilometer persegi, atau 75,32% dari total area nasional. Lautan yang luas ini memuat berton-ton kekayaan kimiawi. Belum lagi kalau kita menyisir pantainya yang rupawan dan menggoda. Pepohonan yang hijau, pasir-pasir yang kemilau, ombak-ombak yang menubruk-nubruk sudut tanah, perahu nelayan yang tergolek-golek, dan, oh, masih banyak lagi dan itu sudah cukup menjadi alasan bagi negara lain untuk bercemburu.

Dan, kecemburuan itu bagi kita bukanlah sesuatu yang binal, apalagi banal. Ini justru sesuatu yang mahal. Karena itu, kanal-kanal harus dibuka tanpa jegal-menjegal. Kita harus mengonversi kecemburuan itu menjadi tumpukan rupiah setelah, tentu saja, mendapatkan berjuta-juta puja-puji. Maka itu, mari segera buka tangan lebar dan jangan bersikap barbar karena sudah terkabar, kita ini, selain ramah, juga adalah petutur yang sabar.

Justru, marilah bergirang, dunia kini semakin tersambung dan kita bisa semakin melambung. Kosmetika keelokan Ibu Pertiwi berikut hasil karya buah tangan anak-anaknya (saudara-saudara kandung kita terdahulu) harus dirawat. Tugas kita sekarang, mari membuat mereka semakin bercemburu dengan kompak. Wujudnya bisa dengan menebar bangga di media sosial. Bangga dengan kemolekan pantai, kerimbunan pohon, kejernihan air, kelokan sungai. Bangga dengan riuh rendah tari-tarian, musik tradisional, serta tradisi budaya yang unik, seperti pertunjukan kuda kepang yang dililit antara modern dan kuno atau  pertunjukan kebudayaan massal dan kolosal. Ini menjadi sebuah iklan yang hebat.

Dan harus dicatat, kebanggaan ini jangan sampai-sampai serupa dongeng belaka. Iklan, jika itu memang disebut iklan, jangan sampai meninggalkan keriuhan semata. Kita harus menata segala yang ada pada Ibu Peritiwi dengan mewah dan sumringah. Kita juga harus mahfum bahwa para pencemburu akan benar-benar cemburu ketika apa yang kita banggakan sesuai dengan apa yang di lapangan. Kalau itu terjadi, mereka akan semakin bercemburu teramat dalam sehingga akan berkali-kali kembali menikmati Ibu Pertiwi tanpa bosan-bosan.

Sebaliknya, mereka akan sangat menyesal pernah cemburu jika apa yang kita bangga-banggakan hanya dongeng. Maka itu, menjadi kewajiban bagi kita menjaga kemolekan tubuh Ibu Pertiwi. Menjadi keharusan pula bagi kita merawat warisan dari saudara-saudara tua. Tugas kita kini adalah lagi-lagi membuat para pelancong semakin dirasuki rasa cemburu. Dan, kita yang kini di dunia internasional dinamai Republik Indonesia harus belajar dari saudara-saudara tua. Kita harus belajar dari mereka bagaimana menjadi republik yang disegani. Lebih-lebih, kita harus belajar bagaimana agar kelak tidak jatuh seperti mereka.

Sangat Relevan

Jika Sriwijaya dulu mampu mengendalikan lautan luas yang lalu tertatih karena adanya perseteruan antarpenguasa federasi dan ketidakmampuan mengendalikan armada suku-suku laut, maka tentu saja kini kita harus seanggukan menjaga Indonesia. Jika Majapahit berhasil menguasai perdagangan yang lalu runtuh karena konflik antarkekuatan politik internal yang tajam memuncak pada peristiwa huru-hara (Perang Paregreg), kini kita mesti saling merangkul satu sama lain, bukan saling memukul.

Pelukan di antara kita harus semakin lekat. Silaturahmi di antara kita harus semakin hangat. Kita sambut niat pemerintah yang ingin membuat tol laut. Ini menjadi momen bagaimana kelak kita saling terhubung. Ini juga menjadi sarana bagaimana kita membuat para pencemburu bermanja-manja menikmati Indonesia.

Ringkasnya, jangan melupakan kedirian kita. Negeri ini negeri yang dikepung laut. Garis pantainya panjang dan menawan. Produk sejarah dan budayanya unik. Negeri ini harus menjadi negeri wisata, tepatnya wisata bahari. Bahari diserap dari bahasa Arab yang artinya (1) dahulu kala, kuno, tua sekali (2) indah atau elok sekali (3) mengenai laut. Dalam arti “dahulu kala”, bahari berkaitan dengan sejarah yang menunjuk khususnya pada Sriwijaya dan Majapahit. Sebagai ingatan kolektif bangsa, kedua kerajaan itu, seperti dikatakan George McT Kahin, jadi unsur pembentuk nasionalisme.

Kini, di masa Republik Ketiga, kita harus mengembangkan, membanggakan, serta mengembalikan kesuskesan Republik I dan II dengan kembali menggali dan merawat Ibu Pertiiwi. Jasmerah menjadi relevan menjadikan negeri ini sebagai negeri wisata bahari (kemolekan tubuh dan budayanya)! Semoga!

 

Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan serta Pegiat Sastra dan Budaya di PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) Medan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.