Gafatar Klaim Bukan Aliran Sesat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




pengurus-gafatar-saat-pelantikan-_160111082732-790




Gafatar saat pelantikan (republika.co.id)

Yogyakarta, Jelasberita.com| Sejak kasus menghilangnya Dr. Rica dan beberapa orang lainnya, nama Gafatar menjadi sorotan publik. Organisasi ini ditenggarai penyebab hilangnya orang-orang tersebut.

Aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) tengah menjadi sorotan publik belakangan ini. Setelah kasus perginya warga Namburan Lor yang disebut-sebut pergi ke Kalimantan untuk bergabung dengan Gafatar, kini warga Sinduadi, Mlati, Sleman, yang bernama Ahmad Kevin (16) yang disebut-sebut bergabung dengan organisasi tersebut.

Menurut Sekretaris MUI DIY, Ahmad Muhsin, seperti yang dilansir di Tribunnews, organisasi Gafatar adalah jelmaan aliran sesat yang patut dihindari.

“Gafatar kan jelmaan Al-Qiyadah al-Islamiyah. Saya kira kita sudah tahu, jadi al-Qiyadah al-Islamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Musadeq itu (sudah ) dibubarkan oleh MUI Pusat,” terangnya, Senin (11/1/2016) .




Dengan banyaknya warga yang bergabung dengan Gafatar, MUI DIY mengimbau kepada warga Yogya untuk tidak bergabung ke organisasi tersebut.

Gafatar sendiri adalah organisasi yang disebut dideklarasikan di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada tahun 2012 lalu. Menurut mereka, Indonesia masih dijajah neokolonialis. Di sisi lain, para pejabat serakah dan kerap bertindak amoral.

“Kenyataan ini membuat kami terpicu untuk berbuat,” tulis Gafatar di websitenya.

Namun menurut M. Faried Cahyono, paman dari salah satu warga yang hilang, organisasi tersebut merupakan organisasi sesat. Hal itu dibuktikan saat pemerintah melarang organisasi tersebut dalam surat Dirjen Kesbangpol Kementrian Dalam Negeri RI Nomor 220/3657/D/III/2012 tertanggal 20 November 2012.

Menurut Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (UGM), kesesatan Gafatar bisa dilihat dari apa saja yang diajarkan kepada pengikutnya. Dia menyebutkan bahwa Gafatar mengajarkan pengikutinya agar tidak menjalankan salat lima waktu dan puasa Ramadan.

Pengamat Intelijen Wawan Heri Purwanti mengatakan, salah satu pintu masuk organisasi tersebut adalah dengan cara mendekati orang-orang yang sedang bermasalah atau galau.

Wawan sendiri mengatakan, banyak kalangan terpelajar yang mungkin ikut perekrutan Gafatar. Hal itu dimanfaatkan Gafatar sebagai cara untuk mengumpulkan donasi.

“Ya banyak yang terpelajar, karena memeng mereka itu sudah discouting dulu. Mungkin disitu ada upaya mengumpulkan uang juga, golongan terpelajar kan juga memiliki uang, jadi ini salah satu cara untuk mendapatkan donasi,” papar Wawan.

Namun Gafatar sendiri membantah organisasi mereka adalah organisasi keagamaan.

“Kami, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR), berpendapat bahwa saat ini, kita perlu melakukan gerakan reinterpretasi dan reaktualisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa menuju fajar kebangkitan dan kejayaan Nusantara di masa datang. Gerakan ini semakin niscaya dalam rangka upaya memperkuat paham kebangsaan kita dan sekaligus memberi solusi atas sebuah ketidakpastian, ke mana biduk peradaban bangsa ini akan berlayar di tengah lautan dunia yang penuh tantangan dan multikrisis,” tulis mereka seperti yang dilansir oleh repulika.co.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.