Arab Saudi Perintahkan Semua Diplomat Iran Keluar Dari Negaranya Dalam 2 Hari

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Menlu Adel al-Jubeir

Pada Minggu (03/01) malam Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, memberikan pengumuman bahwa Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran setelah kasus penyerbuan demonstran di kedutaan besar Saudi di Teheran.




Banyak warga Iran datang berunjuk rasa di kantor kedutaan Saudi yang letaknya di ibu kota Iran tersebut untuk memberikan protes terhadap pelaksanaan eksekusi mati terhadap ulama Syiah terkemuka , Nimr al-Nimr, yang dilakukan oleh pemerintah Saudi pada hari Sabtu (02/01), ulama tersebut diduga sebagai salah satu orang yang terlibat kasus terorisme.

Dalam keterangannya yang ia berikan, Adel al-Jubeir mengatakan bahwa pemerintahnya tidak akan membiarkan Iran untuk “mengganggu keamanan dalam negeri” Arab Saudi.

“Iran telah mengedarkan senjata dan menanam sel-sel teroris di banyak kawasan, termasuk di Saudi … ada intervensi dan agresi negatif terhadap masalah-masalah Arab yang diikuti dengan kematian dan kerusakan,” kata Adel al-Jubeir.

Selain memutus hubungan diplomatik bersama Iran, Adel al-Jubeir juga memerintah pada semua diplomat Iran untuk meninggalkan Saudi dalam 48 jam.




Presiden Iran sendiri, Hassan Rouhani, telah mengecam serangan yang terjadi di kantor kedutaan Saudi di negaranya tetapi ia juga tidak membenarkan pemerintah di Riyadh, karena menurutnya telah memicu kemarahan dengan menghukum mati ulama Syiah.

Ulama Syiah terkemuka Sheikh Nimr al-Nimr, adalah salah satu dari 47 orang yang dihukum mati setelah menjalani hukuman karena kejahatan terorisme yang emreka lakukan, sebut sebuah pernyataan.

Nimr al-Nimr merupakan pendukung vokal protes anti-pemerintah yang marak aktivitasnya di Provinsi timur Arab Saudi pada tahun 2011 silam.

Yang telah ia lakukan adalah mengkritik pemerintah dan menutut adanya penyelenggaraan pemilihan umum.

Nimr al-Nimr ditangkap dua tahun lalu dengan cara ditembak, hal ini sempat menyulut kerusuhan selama berhari-hari karena pendukungnya yakin Nimr al-Nimr tidak pernah menganjurkan melakukan kekerasan. Hukuman mati untuk dirinya telah dijatuhi sejak bulan Oktober 2015.

Pernyataan yang datang dari saudara laki-lakinya bahwa Nimr al-Nimr ¬†dinyatakan bersalah sebab “mencari bantuan asing” di Arab Saudi, lalu “tidak mematuhi” pemimpinnya dan melawan pihak keamanan.

Penduduk Iran yang umumnya menganut agama Syiah dan juga sebagai negara saingan bagi Arab Saudi sebelumnya telah memberi peringatan kepada Arab Saudi bahwa negara tersebut akan menghadapi hukuman yang besar jika mereka mengeksekusi Nimr al-Nimr.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.