Tua Hanya Masalah Usia, Semangat Tetap Muda Demi Hidup

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





lebih-berharga-ketimbang-ngemis-j166
Sunari yang berjualan di pinggir pagar apartemen

Perempuan tua itu sibuk melakukan sesuatu di pinggiran pagar Apartemen Latumeten, Jakarta Barat. Tangannya yang sudah keriput itu masih sigap bergerak walau gemetaran. Membuka ikatan karung berisi sayur mayur di dalamnya.

Dalam sekejap, aneka sayuran itu tertata rapi di lapak beralaskan plastik hitam. Suaranya serak namun tetap terus berteriak. Menawarkan dagangan pada siapa saja yang mendengar.




Namanya Sunari. Pedagang sayur yang sudah biasa membuka lapaknya di situ. Di pelataran hunian kelas menengah itu, dia menjajakan dagangannya untuk menjalani hidupnya. Pagi buta ia memulai semua aktivitas, bergumul dengan panasnya matahari, debu, dan pekatnya asap kendaraan bermotor.

Dan hari itu, ternyata dagangan Sunari laris manis. Perempuan renta ini seakan kekurangan waktu yang ia miliki. Jangankan untuk berleha-leha,mengambil nafas panjang pun tak sempat. Begitu satu pembeli dilayani, pelanggan lain sudah datang menanti.

Setiap hari Sunari memeras keringat di bawah teriknya mentari dan guyuran hujan. Penat, peluh serta dingin sudah menjadi makanannya sehari-hari.

“Kemarin karena hujan yang beli kurang rame. Alhamdulillah hari ini dagangan lumayan laku,” kata Sunari sambil merogoh kantong mengambil obat puyer sakit kepala.




Perempuan dengan kepala yang tak ada lagi rambut hitamnya memang tengah merasa kurang sehat. Kemarin, hari sedang hujan namun ia tetap berdagang sayuran. Hanya mengenakan menutup kepalanya dengan kantong plastik.

Tubuh kurusnya yang tak lagi muda sesekali bergetar menahan hawa dingin. Bibir keriputnya pun ikut bergetar. Matanya memandang nanar. Menunggu satu dua orang membeli dagangan yang ia jajakan.

“Kemarin karena hujan mungkin jadi banyak yang malas keluar berbelanja. Tapi saya tetap jualan, kalau engga lalu makan dari mana. Makanya kepala sedikit pusing karena kena hujan semalam,” kata wanita tua yang berasal dari Indramayu.

Wanita yang hidup sebatang kara ini pertama kali menginjakkan kaki di ibukota saat berusia 12 tahun, bersama suaminya, Aswan. Pasangan muda itu membanting tulang demi mencukupi kehidupan sehari-harinya. Sunari berkerja sebagai pelayan restoran, sedangkan Aswan menarik becak.

“Suaminya paling banyak dapat uang narik Rp 100 ribu. Kalau saya diupah Rp 100 per bulan. Buat bayar kontrakan saja susah, apalagi buat makan,” kata Sunari dengan mata berkaca-kaca mengenang.

Hidupnya makin berat setelah sang suami lebih dulu dipanggil sang khalik, setahun lalu. Sulit, tapi Sunari tak menyerah. Ia pantang menerima belas kasihan orang lain, apalagi ngemis. Selama masih punya tenaga dan kesehatan, lebih baik seperti ini, walaupun pendapatan tidak seberapa, begitulah prinsip hidupnya.

Jalan Sunari menyambung hidup tanpa mengemis akhirnya datang dari sebuah komunitas yang eksis di sosial media Instagram, @Ketimbang.Ngemis.Jakarta.

Komunitas itu banyak mengangkat kisah mengharukan dari para manula dan penyandang cacat yang tetap berjuang untuk hidupnya dengan jualan ketimbang mengemis.

Di zaman serba cepat, komunitas ini memanfaatkan sarana sosial media. Biasanya mereka mendapatkan kiriman gambar dari followers via instagram. Dari situlah KNJ mulai bergerak terjun ke lapangan untuk memberikan bantuan berupa modal usaha.

Sunari salah satunya. Ia mendapatkan bantuan sebesar Rp500 ribu dari komunitas itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.