Ritual Penguburan Jenazah Dalam Batu Alam Di Desa Nuabari

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





yukpegi.com
yukpegi.com

Medan, Jelasberita.com | Menjelajah lebih dalam lagi tentang keanekaragaman budaya bahkan ritual-ritual adat yang begitu unik pada masyarakat Nuabari, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Desa Nuabari ini terletak diketinggian 850 meter diatas permukaan laut utara Flores dan laut selatan Flores. Untuk mencapai Desa Nuabari diperlukan waktu sekitar 2 jam menggunakan kendaraan dari Kota Maumere. Namun kita tidak bisa sampai ke Desa tersebut dengan menggunakan kendaraan. Untuk mencapai Desa tersebut diperlukan berjalan kaki lagi sekitar 2 Km. Jalan kelok bertanjak yang rusak berat menjadi saksi bagi siapa saja termasuk para wisatawan yang akan mengunjungi Desa yang terkenal dengan julukan “Desa Kubur” tersebut.




Desa Nuabari memiliki sebuah tradisi yang sangat unik dalam hal ritual penguburan jenazah. Disini setiap jenazah orang yang meninggal biasanya akan dikuburkan dalam sebuah batu alam yang yang menurut kepercayaan masyarakat setempat bahwa arwah orang yang dikuburkan tersebut akan berada dalam ketenangan yang abadi dan mampu melindungi mereka saat menuju alam baka.

Batu-batu alam yang telah berisi jenazah biasanya diletakkan dipermukaan tanah atau ditanam, tergantung kesepakatan para mosalaki, tetua adat. Posisi jenazah diletakkan seperti posisi dikandungan (rahim) ibunya, dengan kaki menghadap ke Gunung Lena Ndareta. Posisi itu bermakna jenazah tersebut telah kembali ke rahim ibunya. Mereka yakin bahwa arwah orang itu akan berangkat ke Gunung Lena Ndareta, setelah dianggap layak atau menjadi orang suci melanjutkan perjalanan ke Danau Kelimutu sebagai tempat peristirahatan terakhir.

Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun lalu tersebut pada awalnya hanya diperuntukkan bagi mosalaki, riabewa, dan bupu muwa atau orang terpandang saja, karena biayanya yang sangat mahal. Namun, sejak tahun 1970 an, semua warga Nuabari dapat dimakamkan didalam kubur batu alam tersebut, karena semua manusia dianggap sama atas kesepakatan adat.

Menurut Ketua Adat Suku Nuabari pengadaan kubur batu alam ini tidak gampang. Masyarakat dengan susah payah, secara gotong royong mengambil batu alam dari gunung lalu diangkut menuju tengah Kampung Nuabari. Batu itu dipahat dengan lubang berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman satu meter. Penutup lubang diambil batu dari tempat lain, berbentuk ceper dan dipahat sedemikian rupa sehingga dapat menutup dengan rapi.




Masyarakat Nuabari yakin bahwa semua anggota keluarga yang meninggal hanya berubah wujud dan berpindah tempat. Mereka sesungguhnya tetap hidup, dan selalu memiliki hubungan khusus dengan anggota keluarga yang masih hidup.

Setiap mengadakan satu batu kubur biasanya selalu melibatkan hampir seluruh warga Kampung Nuabari. Jika hanya dilakukan keluarga saja akan sangat membebankan keluarga, karena akan menghabiskan biaya yang besar. Biaya pemakaman menggunakan batu alam diperkirakan akan menghabiskan minimal Rp 20 juta.

Bagi keluarga yang kurang mamu, pemakaman adat ini bisa ditunda hingga mereka memiliki modal cukup. Untuk sementara jenazah dimasukkan ke peti kayu, lalu dimakamkan kedalam tanah. Setelah keluarga memiliki uang cukup, mereka kembali menggali makam, dan memindahkan jenazah ke dalam batu alam. Pemindahan jenazah ini pun dilakukan dengan ritual adat. Tengkorak kepala, jari kaki, dan tangan tetap mengarah ke gunung.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.