Tak Hanya Brunei, Somalia dan Tajikistan Juga Larang Rayakan Natal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





foto : www.visitcapitalcity.com
foto : www.visitcapitalcity.com

Sebelumnya Brunei dan Tajikistan telah mengeluarkan sebuah peraturan pelarangan untuk merayakan Natal di Negara mereka dan kini diketahui Somalia pun mengeluarkan larangan yang sama beberapa tahun lalu.

“Perayaan – perayaan begini tidak terkait dengan ajaran Islam,” terang seorang pejabat di kementeriaan Agama di Somalia.




Pemerintah menurunkan pihak keamanan untuk bersiaga menghentikan adanya perayaan terkait dengan Hari Natal. Namun orang asing dibolehkan untuk merayakan Natal mereka di kediaman mereka masing – masing sementara hotel dan tempat umum dilarang mengadakan acara serupa.

“Adanya Muslim yang merayakan Natal di Somalia bukanlah hal yang tepat,” media lokal mengutip perkataan dari Mohamed Kheyrow, pejabat di Kementerian Kehakiman dan Agama Somalia.

Somalia telah menrapkan secara resmi syariah Islam di engara mereka sejak 2009, dan mengeluarkan juga mengeluarkan larangan untuk merayakan natal pada 2013.

Yusuf Hussein Jimale, Wali Kota Mogadishu, mengatakan kepada BBC, perayaan juga bisa menjadi sasaran bagi kelompok Al-Shabab yang sebelumnya juga mengincar hotel – hotel sebagai sasaran.




Turut dengan Brunei dan Somalia, pemerintah Tajikistan juga menerapkan larangan bagi warganya untuk merayakan natal, melarang pohon Natal, menyalakan kembang api juga bertukar kado natal.

Sementara di Brunei Darussalam, warga akan dikenakan sanksi penjara selama lima tahun atau membayar denda sebesar USD 20.000 atau sekitar RP 273 juta jika kedapatan merayakan Natal. Namun umat non-Muslim dapat merayakan Natal di rumah masing – masing dan bukannya tempat umum.

Sama dengan Brunei, Arab Saudi juga mengeluarkan perintah tahunan yaitu pelarangan beredarnya tanda-tanda apapun terkait perayaan Natal.

Bahkan pemimpin ektremis Yahudi di Israel, Benzi Gopstein juga turut melarang mengadakan perayaan Natal dan mengatakan mengatakan Natal tidak memiliki tempat di sana.

Namun larangan ini ternyata mengundang banyak kritikan dari netizen melalui media sosial dengan menggunakan tagar #MyTreedom singkatan dari kata Tree, yaitu pohon dan Freedom, berarti kebebasan.

Sebanyak 2.000 kali tagar tersebut disinggung di media sosial Twitter dan sebanyak 29.000 orang menggunakan tagar ini. Kampanye tagar #MyTreedom digunakan sebagai seruan untuk umat Kristiani agar mengunggah foto –foto perayaan Natal mereka di Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published.