Umat Islam di Brunei Dilarang Ikut Rayakan Natal Oleh Kesultanan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





sultan-of-brunei-hassanal-bolkiah
Kesultanan Brunei larang umat Islam rayakan Natal

Kesultanan Brunei Darussalam mengumumkan akan beri ancaman pidana berat bagi umat muslim yang ikut serta merayakan hari raya Natal. Hukuman ini tidak main – main, karena bagi pemeluk agama Islam, hukumannya adalah penjara maksimalnya lima tahun. Pengertian ‘ikut merayakan’ hari raya umat Kristiani itu misalnya turut menyalakan lilin, memasang dekorasi khas natal, hingga mengenakan kostum Sinterklas.

Dilansir melalui the Daily Mail, Selasa (22/12), peraturan dari kerajaan yang menerapkan Syariah Islam di negaranya ini juga mengikat bagi warga Kristen. Umat Nasrani diizinkan untuk merayakan Natal hanya di gereja atau komunitasnya saja. Namun bila ketahuan mengajak warga Islam untuk ikut berpesta atau merayakannya maka mereka juga akan dikenakan sanksi penjara dalam hitungan tahun.




Pesta perayaan untuk Natal juga tidak boleh diumumkan pada publik. Pernak – pernik bernuansa natal tak boleh dijual secara sembarangan, seperti pohon cemara atau kartu ucapan hari Natal.

“Pelarangan perayaan Natal secara terbuka ini bertujuan untuk menjaga akidah umat muslim di Brunei Darusalam,” seperti dikutip dari pernyataan pers Kementerian Agama Brunei.

Dari total 420 ribu penduduk Brunei, lebih dari 65 persen adalah pemeluk Islam. Sisanya terdiri atas umat Kristen dan Buddha, serta beberapa agama minoritas lain.

Imam Masjid Jami Umar Ali Saifuddien mendukung kebijakan pemerintah Brunei. Membiarkan umat agama lain merayakan hari rayanya bisa mempengaruhi aqidah umat perlahan-lahan.




Pelarangan ini adalah dampak ditetapkannya hukum syariah Islam sejak April 2014. Sultan Hassanal Bolkiah menyatakan sebagian pelanggaran pidana, misalnya pencurian atau zina, kini secara efektif akan langsung dihukum dengan rajam atau potong tangan.

“Dengan berlakunya hukum Islam ini, maka tugas bangsa kita kepada Allah sudah dipenuhi,” kata Sultan Bolkiah tahun lalu dalam pidato di Ibu Kota Bandar Seri Begawan.

Sebelum ada hukum syariah, Brunei sudah dikenal sebagai salah satu negara di Asia Tenggara dengan aturan paling ketat. Tidak ada penjualan alkohol dan rokok, serta ada ancaman penjara 10 tahun untuk penyuka sesama jenis.

Brunei adalah negara kecil yang makmur berkat kekayaan migas. Produk Domestik Bruto kesultanan mungil di utara Pulau Kalimantan ini tahun lalu mencapai USD 53.431 per penduduk per kapita. Nyaris 100 persen pendapatan negara ini dari minyak. Alhasil, Brunei adalah satu-satunya negara Asia Tenggara yang rasio utang luar negerinya nol persen.

Kendati begitu, ekonomi Brunei rentan terpengaruh anjloknya harga minyak dunia setahun terakhir. Produksi minyak sejak 2006 turun 40 persen dari puncaknya era 1980-an. Kandungan migas Brunei diramal hanya bisa bertahan paling lama tiga dekade lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.