Sumut Resmi Jadi Provinsi Pendidikan Inklusif

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Penari Tunarungu. Mittey tampil solo membawakan tarian etnik dalam acara Seminar Nasional Pembudayaan Pendidikan Inklusif di Indonesia, Selasa (15/12). Mittey merupakan tunarunggu yang mampu menjuarai kompetisi tari nasional. Foto oleh Dedy Hutajulu
Penari Tunarungu. Mittey tampil solo membawakan tarian etnik dalam acara Seminar Nasional Pembudayaan Pendidikan Inklusif di Indonesia, Selasa (15/12). Mittey merupakan tunarunggu yang mampu menjuarai kompetisi tari nasional. Foto oleh Dedy Hutajulu

Medan, Jelasberita.com

Dari seluruh anak yang ada di sekolah sekitar 10% di antaranya adalah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun sayangnya, perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus tersebut belum begitu besar sehingga tidak ada penanganan khusus di sekolah-sekolah reguler terhadap ABK. Seperti yang dipaparkan oleh Musjafak Assjari dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dalam Seminar Nasional Pembudayaan Pendidikan Inklusif di Indonesia yang diadakan di Gedung Madinatul Hujjaj, Asrama Haji, Medan, Selasa (15/12).




 

Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Disdiksu) Erni Mulatsih mengatakan, penyelenggaraan seminar nasional ini adalah bagian dari persiapan dan deklarasi Sumut sebagai Provinsi Pendidikan Inklusif. “Besok Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Gubernur Sumatera Utara akan mendeklarasikan Sumut sebagai provinsi pendidikan inklusif. Sumut akan menjadi provinsi ke 8 yang mendeklarasikan diri sebagai penyedia layanan pendidikan inklusif,” terangnya.

 

Erni mengatakan Disdiksu dan USAID PRIORITAS terus berkoordinasi untuk mendukung kesiapan Sumut sebagai provinsi pendidikan inklusif. Agus Marwan, Koordinator USAID PRIORITAS untuk Provinsi Sumatera Utara mengatakan bahwa USAID PRIORITAS memiliki perhatian secara khusus kepada ABK dan mendukung sepenuhnya Sumut agar siap menjadi Provinsi Pendidikan Inklusif.




 

Dr. Sanusi MPd dari Kemendikbud Indonesia yang juga hadir sebagai salah satu narasumber menyatakan bahwa pemerintah akan memberikan dukungan pendidikan inklusif berupa aksesbilitas dan ketersediaan fasilitas. Selain itu menurutnya perlu adanya kerja sama semua pihak, mulai dari orang tua yang dengan kesadaran memasukkan anaknya ke SLB. Begitupun dinas pendidikan harus mempersiapkan semua aturan dan sarana dan peran pemerintah daerah agar semua sekolah siap menerima ABK. “Dinas pendidikan perlu membuat pendidikan khusus kepada para guru saat pra jabatan tentang pendidikan inklusif,” tambahnya.

Amar
Cinderamata. Dr. Sanusi, M.Pd dari Kemendikbud menerima cinderamata dari Koordinator Provinsi USAID PRIRIORITAS Sumut Agus Marwaan setelah menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pembudayaan Pendidikan Inklusif, Selasa (15/12). USAID PRIROITAS mendukung Pemprovsu mendeklarasikan Sumut menjadi Provinsi Pendidikan Inklusif. Foto oleh Dedy Hutajulu

“Untuk pendidikan regular saja belum pada tingkat kualitas optimal. Sekitar 75% pelayanan pendidikan kita belum memenuhi standar, jangankan untuk pendidikan inklusif,” kata Prof. Syawal Gultom, Rektor Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang juga menjadi salah satu narasumber seminar. Prof. Syawal Gultom menambahkan lagi bahwa sebagai kampus yang mempersiapkan tenaga pendidik,

 

UNIMED siap memberikan perhatian khusus kepada pendidikan inklusif. “Tapi kalau mau menyelenggarakan pendidikan inklusif kita harus ketat dengan standar penerimaan guru. Harus pula diikuti dengan regulasi mengikat. Perusahaan-perusahaan juga diikat dengan regulasi yang kuat agar tidak menolak ABK asal berkualitas. Kita semua perlu pula komitmen untuk menegakkan aturan itu. Memang pekerjaan ini butuh effort yang luar biasa, kerja sama, kesiapan tenaga pengajar, dan dukungan yang besar,” katanya lagi. Dengan dukungan dari semua pihak, Sumut tentu siap menjadi Provinsi Pendidikan Inklusif. (Dewa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.