Inilah Gereja Unik dengan Sosok Yesus Versi Jawa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




foto: patung yesus versi kebudayaan jawa Hindu (wikipedia)




foto: patung yesus versi kebudayaan jawa Hindu (wikipedia)

Bantul, Jelasberita.com| Sejauh ini, Umat Kristen dan seluruh umat beragama lainnya di seluruh dunia lebih mengenal dengan penggambaran Yesus sebagai seorang dengan ciri ‘timur tengah’ seperti yang kerap digambarkan dalam berbagai lukisan dan film-film Hollywood. Semua digambarkan sesuai dengan karakter dimana Zaman Yesus hidup.

 

Namun, di Ganjuran, Bantul, Yogyakarta tepatnya di gereja Hati Kudus Yesus, ditemukan penampakan berbeda tentang penggambaran Yesus Kristus. Disini sosok Yesus digambarkan dalam versi kebudayaan Jawa dan telah bercampur pengaruh kebudayaan Hindu.

 




Bentuk bangunan gereja nya pun terlihat seperti Pendopo atau candi yang mengadopsi gaya kebudayaan Jawa pada masa lalu.

 

Sekilas, sosok Yesus yang dalam versi jawa bernama ‘Sang Maha Prabu Jesus Kristus Pangeraning para Bangsa,’ digambarkan seperti dewa-dewa pada masa kerajaan Hindu di Jawa.

 

patung tersebut memperlihatkan Yesus duduk di atas kursi dengan mengenakan pakain dan berbagai aksesoris seperti gelang tangan, gelang kaki, kalung, serta mahkota yang membuat orang tidak menyangka kalau patung tersebut adalah sosok Yesus.

 

Selain patung Yesus tersebut, di gereja ini juga terdapat beberapa patung lainnya yang digambarkan dalam kebudayaan Hindu Jawa, seperti patung Malaikat, dan patung Bunda Maria menggunakan kemben tengah duduk memangku Yesus di waktu kecil.

foto: Bunda Maria memangku Yesus Kecil versi Jawa (Wikipedia)

foto: Bunda Maria memangku Yesus Kecil versi Jawa (duribabi.blogspot.com)

 

Romo Yohanes Krismanto yang merupakan Pastor dari gereja Ganjuran mengatakan bahwa, patung Yesus yang ada di gereja ini merupakan wujud dari inkulturasi agama Katolik dan dengan kebudayaan Jawa. Romo Yohannes menambahkan bahwa hal itu dilakukan atas dasar pemikiran bahwa agama dan kebudayaan masyarakat setempat harus dapat menyatu.

 

Romo Yohannes bercerita tentang bagaimana gereja ini dibangun. Romo mengungkapkan bahwa gereja ini dibangun sejak tahun 1924, oleh Joseph Smutzer dan Julius Smutzer, dua pria berkebangsaan Belanda yang memiliki pabrik gula di sekitar daerah sini.

 

Hingga kemudian dibangun lah kompleks gereja yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat, yang bertujuan agar masyarakat tidak memisahkan antara agama dan kebudayaan, semua harus menyatu. Ungkap Romo Yohannes, seperti diberikan Merdeka.com pada Jumat (18/12).

 

Menurut Romo, Bentuk patung Yesus yang berada di gereja ini baru mendapatkatkan persetujuan dari Vatikan di tahun 1965. Romo juga mengatakan bahwa terdapat 2 patung Yesus di komplek gereja ini, satu berada didalam gereja dan satu lagi berada di candi kecil yang digunakan orang untuk berdoa.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.