Tanda Titik Ini Sudah Tepat Belum Kamu Gunakan?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Penggunaan tanda baca titik apakah sudah benar atau belum?
Penggunaan tanda baca titik apakah sudah benar atau belum?

Mengirim pesan elektronik melalui handphone  (SMS) sudah menjadi alternatif baru dalam penyampaian informasi dalam dua dekade belakangan ini.

SMS menjadi salah satu alternatif populer Sdikarenakan harganya yang murah dan proses pengiriman pesan yang gampang sehingga penggunaannya tidak memandang umur dan golongan masyarakat tertentu. Seiring dengan  menjamurnya trend berkirim pesan teks seperti sms atau melalui aplikasi messenger.




Terciptalah beberapa norma dalam berkirim pesan salah satunya adalah penggunaan tanda baca yaitu tanda titik. Beberapa waktu yang lalu, para ahli psikologi di University of Binghamton, New York, Amerika Serikat melakukan penelitian bahwa mengirim pesan dengan mengakhirinya dengan tanda titik (.) dapat mendeskripsikan bahwa pengirimnya dipandang tak punya perasaan dan mengirim pesan yang tidak tulus.

Penemuan ini diungkapkan setelah para psikolog tersebut melakukan penelitian terhadap 126 mahasiswa University of Binghamton.  Beberapa responden pada penelitian tersebut menganggap pesan teks yang diakhiri dengan tanda titik sebagai pesan yang tidak tulus dan palsu.

Celia Klin yang menjabat sebagai pimpinan dalam studi ini menyatakan bahwa pesan teks pendek bukan lagi sekadar teks. Setiap karakter, termasuk huruf atau tanda lain seperti emoji, membentuk pesan tersebut dan menjadi satu kesatuan pesan yang utuh.

Penelitian ini mereka lakukan sebagai langkah dalam investigasi empiris terhadap artikel  Wartawan Ben Crair yang diterbitkan pada New Republic tahun 2013. Pada artikel tersebut Ben mengungkapkan “Saya telah melihat masalah tanda titik itu dalam SMS dan pesan instan. Orang menggunakan tanda titik tidak hanya untuk mengakhiri kalimat, tetapi untuk mengumumkan ‘Saya tidak senang tentang kalimat yang baru saja saya akhiri.”




Seperti tulisan ‘Tidak.’ yang berarti menyudahi percakapan dan ‘Tidak…’ yang memiliki makna ada kelanjutan dari percakapan tersebut. Hal ini membuat Klin menyimpulkan, tanda baca dalam SMS dan pesan instan telah memengaruhi makna yang ditangkap oleh penerima pesan.

Kin dan tim  menunjukkan studi lain terhadap  tanda seru, seperti yang kita ketahui, bisa saja memiliki arti marah, memerintah, berteriak atau menegaskan sesuatu. Miskonsepsi ini bisa terjadi sekali lagi dikarenakan tidak adanya ekspresi langsung dari si pengirim pesan.

Kenudian selah satu studi lain yang dilakukan oleh tim TalkTalk mobile bahwa berkirim pesan tanda cium (:*) atau tanda x dapat menjadi ranjau kesalahpahaman saat berkirim pesan.

Sama halnya dengan berkirim email beberapa peneliti di University of Glasgow mengungkapkan dalam penelitian mereka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang membalas email dengan sangat cepat dindikasikan sedang mengalami stress berat atau memiliki harga diri yang rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.