Riwayat Obesitas Mempengaruhi Sensitifitas Anak pada Rasa Manis Gula

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




obesitas

Obesitas sudah menjadi topik besar belakangan ini banyak masyarakat yang mulai concern terhadap perkembangan isu ini mulai dari cara penanganan maupun pencengahan. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa obesitas dapat menyentuk seluruh kalangan usia mulai dari usia dewasa bahkan hingga usia anak – anak.




beberapa waktu yang lalu sebuah studi menyatakan bahwa sensitifitas mendetkesi rasa manis berbeda untuk masing – masing individu manusia. kepekaan individu dalam mendeteksi rasa manis ini dapat dijadikan acuan untuk mendeteksi adanya obesitas pada anak.

Seperti yang dilansir oleh seorang ahli perilaku genetika bernama Danielle Reed, PhD, pada halaman News Medical. Beliau menyatakan bahwa “Anak-anak dua puluh kali lebih baik untuk merasakan rasa manis.”

Dalam penelitian yang team daniel lakukan mereka mengambil 216 responder anak sehat dengan usia 7 sampai dengan 14 tehun. masing – Mmsing Responder diberikan dua cangkir, satu cangkir berisi air biasa dan cangkir lainnya diberikan tambahan gula. Prosedur ini dilakukan secara berulang-ulang degan cara mengubah konsentrsi gula secara bertahap.

Berdarakan penelitiannya ditemukan bahwa, konsentrasi terendah ternyata dapat dideteksi oleh anak-anak. Ambang batas deteksi yang diperoleh bervariasi, tetapi anak yang paling sensitif bisa mendeteksi 0,005 sendok teh gula dalam larutan air. Berbagai aspek berat badan anak-anak juga dicatat dan DNA mereka diuji untuk menemukan kesamaan antara subyek yang lebih sensitif.




Daniel berpendapat bahwa anak yang kurang sensitif kemampuannya mendeteksi kadar gula berseiko lebih tinggi terhadap obesitas. Hal ini dikarenakan sang anak akan memerlukan kadar gula yang lebih banyak untuk efek rasa yang sama.

Namun hal yang diperoleh dari penelitian berbeda ternyata anak – anak yang obesitas memiliki sensitifitas yang lebih terhadap rasa manis.

Para peneliti belum menemukan mengapa hal tersebut terjadi. Namun, merekea berpendapat bahwahal tersebut itu mungkin karena gula memiliki efek yang sangat kuat pada reseptor lidah yang juga mungkin memiliki efek yang kuat pada organ-organ tubuh lain

“Asumsi kami adalah anak-anak yang lebih gemuk akan lebih sensitif terhadap gula dan oleh karena itu perlu konsentrasi yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama seperti anak yang lebih ramping,” tutur Paule Valery Joseph, PhD, seorang mahasiswa doktoral di University Pennsylvania School of Nursing and Visiting Fellow di Monell memberikan pendapatnya.

Menurutnya, ini bukan kasus yang mengejutkan. Anak-anak memiliki lebih banyak lemak tubuh sehingga lebih sensitif terhadap gula dan mampu mendeteksi rasa manis pada konsentrasi yang lebih rendah dari sukrosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.