Jangan Ucapkan Kalimat Ini Kalau Anda Tidak Ingin Anak Mendapat Dampak Buruk

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





mother-talking-to-kid
Jangan ucapkan kalimat-kalimat ini karena akan memberikan dampak buruk pada anak.

Dalam keseharian, orang tua kerap melontarkan kata-kata yang tanpa sadar berpengaruh pada psikis dan pola pikir anak. Baik berupa pujian atau rasa kesal ibu dan ayah, secara tidak langsung kalimat tersebut dapat berpengaruh buruk pada anak.

Apa saja kata-kata yang sering dilontarkan orang tua namun tak disadari bisa berdampak buruk pada anak? Berikut rangkumannya seperti ditulis detikHealth pada Senin (7/12/2015).




1. ‘Kamu anak nakal dan kamu anak yang bodoh’

Gregg Chapman, psikolog dan manajer klinis di Strategic Psychology. menyarankan cobalah ganti perkataan itu dengan yang lebih halus dan positif. Misalnya saja ‘Yang kamu lakukan ini tidak tepat dan justru menyakiti orang lain. Jangan ulangi lagi dan ayo kita perbaiki kesalahanmu ya’.

“Jangan pula katakan bahwa anak itu bodoh. Sebab, anak akan melabeli diri mereka dengan apa yang diajarkan pada mereka. Label negatif seperti bodoh juga bisa menimbulkan hubungan yang tak sehat antara anak dengan dirinya sendiri,” kata Chapman.

2. ‘Dia memang anak papanya’

Terkadang, tanpa disadari, ayah atau ibu melontarkan kalimat yang tak langsung menyebut bahwa si kecil lebih condong pada salah satu orang tua. Misalnya saja ‘si adek ini emang anak papanya, dekat banget sama papanya’ atau ‘memang dia ini anak mamanya’.

“Nggak, nggak boleh shaping. Kan memang hati anak yang merasakan ya, jadi dia bisa merasa dia nyaman dengang siapa,” tutur psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi, dari RaQQi – Human Development & Learning Centre.




Dengan sering melontarkan kalimat yang seakan menunjukkan si kecil hanya anak salah satu pihak saja, menurut Ratih bisa membuat anak berpikir bahwa dia hanya anak mama atau papanya saja. Padahal, seharusnya salah satu pihak yang tidak terlalu dekat dengan anak terus berusaha untuk menjadi sosok yang baik.

3. ‘Kamu kok gendut’ atau ‘kamu kok kurus banget sih?’

Diungkapkan psikolog Denise Greenway, hanya mengomentari tubuh anak yang kurus atau gemuk bisa menimbulkan masalah bagi persepsi anak terhadap tubuhnya. Sebab, sebutan atau komentar seperti itu bisa dikatakan sebagai bentuk pelabelan bagi anak.

Menurut Greenway, ketika anak atau remaja mendapat label tertentu, maka ia berusaha mencari bagaimana bentuk tampilan tubuh yang sempurna. Selain menimbulkan rasa frustasi, bukan tak mungkin mereka melakukan berbagai cara yang cukup berbahaya, misalnya diet ekstrem untuk mencapai ‘kesempurnaan’ di mata orang lain.

Sementara, psikolog klinis Julie Malone mengatakan alih-alih memberi komentar negatif soal gemuk-kurusnya anak atau remaja, lebih baik tanamkan bahwa bentuk tubuh seseorang memang beragam. Apalagi, komentar negatif tentang tubuh anak bisa menimbulkan tekanan bagi mereka.

“Lagipula memuji anak tidak melulu harus terkait fisiknya. Puji aspek lain yang menjadi kelebihan anak misal kepintarannya. Jika memang Anda ingin anak memiliki tubuh yang lebih sehat, tanamkan terlebih dulu padanya bahwa dia harus mencintai tubuhnya yang sudah diberikan oleh Tuhan,” kata Malone memberi saran.

4. ‘Kamu cantik ya’ atau kalimat ‘Kamu pintar ya’

Psikolog Rosdiana Setyaningrum, M.Psi., MHPed mengatakan orang tua tak boleh membiasakan memuji anak dengan mengacu pada sifat tertentu seperti ‘Kamu cantik ya’ atau ‘Kamu pinter ya’.

Hal ini akan mendorong anak untuk berpikir bahwasanya ia adalah seorang anak yang cantik atau ganteng, dengan kata lain hanya mementingkan penampilan fisik semata. Begitu juga bila anak sering dipuji pintar, anak bisa merasa tak perlu belajar lagi karena sudah bisa atau pintar. Lantas bagaimana memuji anak yang benar?

“Yang bener mujinya begini, ‘Cantik ya jam segini udah mandi’, ‘Pinter ya PR-nya sudah selesai’, atau ‘Pinter ya menulisnya rapi’. Jadi harus ada tingkah lakunya, supaya dia tahu yang bagus itu apanya, yang tidak kita suka itu apanya. Ini yang penting,” tegas Diana.

5. ‘Kamu bikin mama bahagia banget karena udah menghabiskan makan kamu.’

Dympna Kennedy, pendiri organisasi parenting Creating Balance menambahkan saat memuji anak, jangan menggunakan kalimat semacam ini: “Kamu bikin mama bahagia banget karena udah menghabiskan makan kamu.”

Menurut Kennedy, penting untuk menanamkan pada anak agar mereka tidak melakukan sesuatu untuk mengharap pujian orang lain. Sebab hal ini akan membuat anak tumbuh sebagai sosok yang cenderung suka menyenangkan orang lain karena mengharapkan pujian.

Kennedy menyarankan orang tua hanya perlu mengucapkan ‘terimakasih’ jika anak melakukan sesuatu untuknya sehingga tidak perlu memujinya berlebihan. Lebih memungkinkan jika Anda mendorong anak untuk memberikan pujian internal sekaligus menanamkan rasa syukur, seperti misalnya: ‘kamu perlu bangga dan bersyukur akan makan malam yang kamu makan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.