30 Tahun Hidup Mengidap HIV, Pria Ini Tetap Tabah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




penderita-hiv

Mengidap satu macam penyakit saja mungkin sudah membuat seseorang sedih dan merasa stres. Tapi, pria asal Wales bernama Steve Craftman ini bisa dibilang amat tangguh. Didiagnosis mengidap HIV pada 1987 dan hidup dengan komplikasi penyakit, Steve tak pernah patah semangat.




Kini, di usianya yang sudah menginjak 58 tahun, Steve harus berjuang menghadapi berbagai masalah kesehatan yang salah satunya dikaitkan dengan obat-obatan yang ia konsumsi. Steve mengidap osteopenia, yaitu tahap sebelum oseteoporosis di pergelangan kaki dan pinggulnya, yang membuatnya tidak bisa lagi mengendarai motor.

“Kerusakan pada tubuhku bukan salah siapa-siapa. Tim medis hanya berusaha memberikan yang terbaik untukku dan bisa dikatakan aku mengalami efek samping dari obat yang aku konsumsi,” kata Steve seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (6/12/2015).

Steve juga menjelaskan bahwa ia sudah banyak berduka, bersedih, serta kehilangan banyak teman dan kekasih. Hal ini diakuinya tidak mudah untuk dilewati. Tak heran, dalam keseharian Steve sering merasa kesepian. Meskipun sudah hampir 30 tahun hidup dengan HIV, Steve tetap bersyukur ia masih bisa hidup sampai sekarang.

Dulunya, selama 10 tahun Steve sempat tinggal di Bristol dengan pasangannya. Namun, mereka memutuskan pindah ke Wales setelah merasa kurang nyaman dengan warga di daerah tersebut. Namun, di tahun 2007, pasangannya meninggal karena AIDS.




“Aku sangat terbuka tentang situasi yang aku alami. Saat dokter baru-baru ini bertanya apakah aku sudah menceritakan dan terbuka tentang fakta aku mengidap AIDS, aku hanya membalikkan badan dan menunjukkan simbol ‘biohazard’ yang ada di bagian belakang leherku. Tentu saja aku menganggap hal itu sebagai jawaban ‘ya’,” ungkap Steve.

Steve adalah seseorang yang dapat memberikan inspirasi bagi kita bagaimana menerima keadaannya dengan hati lapang. Tak banyak orang yang bisa berlapang dada ketika didagnosis dengan penyakit menular tersebut.

Dan bahkan tak jarang beberapa orang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tak tahan menanggung malu dan mendapat sikat tidak nyaman dari warga tempat tinggalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.