Bisa-bisanya Gadis Ini Sangat Membenci Orang Tua Kandungnya!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




ayah

Adalah Alya seorang gadis berusia 21 tahun sulung dari empat bersaudara. Alya telah bertahun-tahun hidup satu atap bersama orang tuanya dan rasa bencinya sejak kecil semakin membesar sampai ia sedewasa ini.




Tapi mengapa ia bisa membenci orang tuanya sebegitu besar? Ini alasannya.

apakah kamu mencintai orang tua mu? Jawabanmu iya? Mungkin mereka orang tua terbaik yang kamu miliki. Tapi tidak untukku. Aku membenci orang tua ku. Mereka terlalu bodoh, mereka terlalu naif untuk selalu percaya kata-kataku.

Aku benci Ayahku. Setiap pagi pukul 05.30 dia selalu membangunkanku dan adik-adikku. Ia takut kami terlambat ke sekolah dan tidak bisa mengikuti pelajaran pertama. Padahal seharusnya Ayah bisa bersiap-siap untuk membuka depot kecilnya.

Aku benci Ibuku. Ia selalu bangun pukul 03.00 hanya untuk menyiapkan makanan untuk depot dan sarapanku serta adik-adikku. Seharusnya ibu bisa tidur lebih lama, mengistirahatkan mata, tubuh, tangan, kaki dan abtinnya agar ia tidak kelelahan.




Aku benci Ayahku. Ia masih sempat mengantarkan kami hingga ke ujung jalan, sebelum kami naik angkutan umum menuju sekolah. Huh! Bisa-bisanya Ayah menggandeng adik dan tersenyum lebar kepadanya. Padahal ia seharusnya bisa menghabiskan kopinya di rumah sambil bersantai membaca koran sebelum bekerja di depot. Dan tahu apa alasan Ayah? Hanya ingin memastikan semua anaknya aman.

Aku benci Ibukku. Ia membuang waktunya dengan membungkus bekal untukku dan adik-adikku. “Daripada jajan terus di kantin, uang jajanmu bisa kamu tabung kan, Kak?” begitu sanggahan ibu ketika aku bertanya mengapa ia masih rajin membawakanku bekal makan siang. Padahal ibu bisa memanfaatkan waktunya untuk duduk dan istirahat sejenak setelah memasakan makanan untuk depot.

nasi-uduk

Aku benci Ayahku. Ia bekerja terlalu keras bersama Ibu di depot. Kalau ada orang yang pesan cukup banyak, ayah harus naik motor untuk mengantarkan seluruh pesana. Belum lagi kalau ada yang salah atau kurang, Ayah selalu dibentak-bentak dan dimaki orang. Tapi yang keluar dari mulut Ayah hanya kata maaf.

Aku benci Ibuku. Ia selalu berdiri dan memasak di dapur hingga kakinya selalu sakit di malam hari. Aku tahu itu walau Ibu menyembunyikannya dariku. Belum lagi kalau depot ramai di siang hari. Aku juga marah pada keadaan karena Ayah dan Ibu tidak bisa membayar orang yang dapat membantu pekerjaan mereka. Jadi mereka terpaksa melakukannya semuanya sendirian.

Aku benci Ayahku. Ia harus emninggalkan Ibu di depot sendirian hanya untuk menjemput anak-anaknya di ujung jalan. Lebih tepatnya adik-adikku, kadang aku merasa malas untuk pulang ke rumah. Buat apa sih?! Seharusnya Ayah bisa membuang tenaganya di depot, bukan untuk menjeput adik-adik, berjalan bersama sambil mendengarkan cerita enggak penting adik-adik soal kegiatan mereka di sekolah seharian.

Aku benci Ibuku. Ia suka sekali berbohong!

Aku tahu kadang hingga sore, ia belum menyantap makan siang karena terlalu sibuk. Tapi ia selalu berusaha menenangkanku, “Enggak apa-apa, kak. Ibu sudah makan sedikit kok tadi.”

Aku benci Ayahku. Tak peduli seberapa lama aku pergi, ia selalu ada di sana. Di ujung gang. Di pinggir jalan. Menanti putri sulungnya pulang kembali. Seharusnya ia bisa duduk di rumah, bersantai menonton televisi bersama keluarga lainnya. Tapi ia ada di sana. Tak peduli saat panas ataupun hujan, Ayah selalu ada di sana saat aku pulang.

ayah-peluk-anak

Aku benci Ibuku. Mungkin ia terlalu bodoh untuk bisa kubohongi. Ia selalu mengira aku pergi mengerjakan tugas bersama temanku. Padahal aku pergi jalan-jalan bersama teman-teman. “Buat apa Ibu tidak percaya padamu? Kamu kan anak Ibu, sudah hal yang pasti Ibu percaya padamu karena Ibu sayang padamu.” Naif sekali kan?

Aku benci Ayah dan Ibuku. Malam-malam benar, aku tahu mereka lelah, tapi mereka masih menyempatkan diri masuk ke kamar kecilku dan adik-adikku hanya untuk memastikan apakah kami semua baik-baik saja.

Aku benci Ayah dan Ibuku. Mereka juga masih menyempatkan berdoa lima waktu. Tak lupa juga mereka selalu minta perlindungan untuk anak-anaknya. Seharusnya mereka bisa meminta kekuatan untuk diri mereka yang sudah makin menua itu.

Aku benci Ayah dan Ibuku. Sebenci-bencinya mereka terhadap diriku, entah mengapa aku selalu dimaafkan. Mereka selalu ada di sana, duduk manis mendengarkan keluh kesahku. Aku heran megnapa orang tuaku seperti orang yang terlalu bodoh untuk diajari dunia.

Aku benci Ayah dan Ibuku. Mereka terlalu bekerja keras di depot hanya supaya aku dan adik-adikku bisa terus bersekolah dan mencicipi indahnya dunia. Seharusnya mereka bisa menafaatkan uang tersebut untuk hal-hal lain, keinginan mereka berdua yang tidak pernah terwujud, berlibur bersama misalnya.

Aku benci Ayah dan Ibuku. Mereka selalu menyimpan bagian terbaik untuk keempat anaknya. Anak-anak yang mungkin tidak pernah menghargainya. Tapi mereka tetap melakukannya siang dan malam. Mungkin mereka sudah dibutakan oleh cinta.

orang-tua-muslim

Aku benci Ayah dan Ibuku. Mereka terlalu bodoh karena masih menanggapi buah hatinya. Walau sering sekali anak-anaknya menyakiti hati mereka berdua dan bersikap kurang ajar, tetapi mereka masih mengulurkan tangannya, menarik lembut tangan anak-anaknya, emndekap mereka dalam pelukan. Mereka masih bisa berkata, “Tidak apa-apa, nak. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.” Sambil mengelus-elus rambut kami. Entah apa yang ada di otak mereka berdua, tapi aku benci mereka. Tidakkah kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku?

Karena Ayah dan Ibu terlalu sayang anak-anaknya.

Karena Ayah dan Ibu terlalu banyak rela berkorban.

Karena Ayah dan Ibu selalu ada di sana ketika anak-anaknya membutuhkan.

Karena Ayah dan Ibu selalu setia menggandeng tangan kami untuk memberikan rasa aman dan tenteram.

Apa kamu punya orang tua seperti orang tua ku?

Leave a Reply

Your email address will not be published.