KNKT Ungkap Kronologis Kecelakaan Pesawat Air Asia QZ 8501

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Merdeka.com
Merdeka.com

Jakarta, Jelasberita.com | Pada selasa kemarin (01/12/2015) Komite Nasional Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap fakta yang menarik tentang kronologis kecelakaan yang menimpa pesawat Air Asia QZ 8501. Awalnya jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 ini dikarenakan cuaca yang sangat buruk di udara. Tapi sekarang penyebab kronologis penyebab pasti jatuhnya psawat air asia tersebut telah dapat dipastikan.

 




Melalui konferensi pers yang diadakan pada selasa (01/12/2015) kemarin , KNKT memberikan keterangan berupa 5 faktor penyebab pasti jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 yang selama ini diinvestigasi lewat blackbox yang didapat di bulan Januari lalu. Keterangan ini disampaikan oleh Kepala Investigasi Air Asia QZ 8501, Margono.

 

Pertama, dapat dipastikan bahwa penyebab pertama kecelakaan tersebut adalah Retakan solder pada modul elektronik yang terdapat di Rudder Travel Limiter Unit (RTLU), yang mengatur derajat gerak komudi guling. Hal ini menimbulkan hubungan yang berselang dan menyebabkan masalah yang berkelanjutan dan berulang.

 




Kedua, sistem perawatan pesawat dan analisis perusahaan yang kurang optimal sehingga mengakibatkan tidak terselesaikannya masalah dan kejadian yang sama terus berulang sebanyak 4 kali dalam penerbangan.

 

Ketiga, Awak pesawat sudah melaksanakan prosedur sesuai dengan  Electronic Centralized Aircraft Monitoring (ECAM) pada tiga gangguan awal. Namun, pada gangguan keempat, FDR mencatat indikasi yang berbeda, sama seperti kondisi dimana Cirkuit Breaker (CB) di reset ulang sehingga terjadinya pemutusan hubungan arus listrik pada Flight Auqmentation Computer (FAC).

 

Keempat, dengan terputusnya arus listrik FAC menyebabkan auto pilot disengage,flight control logic berubah dari normal law menjadi alternate law dan menyebabkan rudder bergerak 2 derajat kekiri, sehingga mengakibatkan pesawat berguling mencapai sudut 54 derajat.

 

Kelima,lanjut Margono bahwa pengendalian pesawat secara manual pada alternate law menyebabkan pesawat dalam kondisi “Upset” dan “Stall” secara berkepanjangan, sehingga kondisi ini menyebabkan semua berada diluar batas-batas penerbangan yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat.

 

Seperti diketahui sebelumnya diawal menjelang tahun 2015 dunia terutama Indonesia dikejutkan dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 dari radar dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura,dan diperkirakan hilang disekitar langit Selat Karimata. Saat itu pesawat membawa 155 Penumpang dan 7 kru pesawat ,termasuk diantaranya terdapat warga asing yang turut serta dalam penerbangan. Pencarian pesawat mulai mencapai titik terang ketika ditemukannya serpihan pesawat pada tanggal 30 Desember 2014 yang kemudian satu persatu korban tewas berhasil ditemukan, serta ekor pesawat,dan terakhir blackbox yang ditemukan di Januari 2015. Dan peristiwa ini bukan hanya menjadi duka bagi dunia penerbangan Indonesia, tapi juga bagi dnia penerbangan Internasional.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.