Menjadi Doktor Termuda di Usia 26 Berkat Limbah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




doktor-fikri

Pada Parade Doktor 2015 di lingkungan Kementerian Kesehatan beberapa doktor terpilih dari politeknik di seluruh Indonesia diundang untuk mempresentasikan penelitiannya. Hal yang menarik saat melihat satu sosok yang begitu lain dari yang lain.




Ia tampak berbeda dari doktor yang lainnya, ia lebih muda dan memang paling muda di antara doktor-doktor yang menghadiri Parade Doktor 2015.

Di usianya yang masih 26 tahun, Dr Elanda Fikri, SKM, MKes, sudah menempatkan dirinya di antara kalangan peneliti-peneliti doktor senior. Ia kini bekerja sebagai dosen pengajar di Poltekkes Kementerian Kesehatan RI Bandung setelah menyelesaikan pendidikannya Agustus 2015 lalu.

Ia mengakui bahwa tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan studinya namun kesempatan melalui beasiswa yang selalu ada di depan mata itulah yang tidak mungkin ia lewatkan.

“Saya kuliah S1, S2, S3 di Universitas Diponegoro Semarang. Sebenarnya nggak ingin cepat-cepat juga sih cuma karena ada lagi kesempatan beasiswa jadi saya ambil. Dari S1 langsung S2 langsung S3,” ujar pria asal Cirebon ini.




“Saya juga sambil bekerja dari mulai sebagai konsultan, dosen di sebuah universitas swasta, sampai terakhir menjadi sanitarian di RS Karyadi Semarang,” uajrnya melanjutkan.

Untuk pendidikan S2 kesehatan lingkungan (kesling) yang ditempuhnya dalam waktu satu tahun (2011-2012), Fikri mendapatkan beasiswa dari Universitas Diponegoro. Sementara itu beasiswa S3 untuk jurusan yang sama diperolehnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan ditempuh dalam waktu tiga tahun (2012-2015).

Waktu yang singkat tersebut tak lain karena Doktor Fikri memang menjalaninya dengan serius dan tanpa hambatan yang ebrarti namun ia mengakui ada satu hal yang cukup sulit ia lalui ketika akan menyelesaikan studi S3 miliknya.

“Hambatan untuk saya pribadi itu salah satunya syarat S3 harus publish jurnal internasional. Itu lumayan cukup berat sampai publish karena menunggunya berbulan-bulan. Kendalanya di situ sih,” kata Fikri.

Pelitian yang dilakukan doktor Fikri mengenai bagaimana limbah sampah rumah tangga seharusnya dikelola. Hal ini dikarenakan limbah tersebut tergolong mengandung bahan berbahaya beracun (B3). Dan limbah ini tak hanya berasal dari pabrik saja namun juga datang dari limbah sampah rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.