Ketidakpastian Data Jagung

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Komposisi pakan unggas 50-55 persennya berasal dari jagung.




Komposisi pakan unggas 50-55 persennya berasal dari jagung.

Jakarta, Jelasberita.com | Ketidakpastian data produksi jagung nasional dianggap menjadi pemicu perdebatan antara pemerintah dengan pengusaha makanan ternak. Pemerintah selalu mengatakan pasokan jagung dalam negeri aman untuk kebutuhan pangan dan pakan sehingga impor jagung dibatasi. Di pihak lain, pengusaha pakan mengklaim bahwa pasokan jagung dalam negeri tidak cukup sehingga perlu impor.

“Tingginya harga jagung menembus Rp 5.300 per kg membuktikan bahwa pasokan jagung lokal benar-benar tidak ada,” beber Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman dalam seminar bisnis peternakan yang diadakan Asosiasi Obat Hewan Indonesia di Menara 165, Jakarta, Rabu (18/11).




Menurut peternak ayam petelur asal Subang, Jawa Barat, Fafik Doni ketika dihubungi secara terpisah mengatakan bahwa jagung langka. “Kita mulai kesulitan mendapat jagung, jika pun ada harganya melambung tinggi,” katanya melalui pesan WhatsApp (13/11).

Fafik menduga tingginya harga jagung ini akibat kebijakan pemerintah yang keliru dengan data jagung. “Dengan harga jagung yang mahal, saya tidak yakin petani punya punya barang (jagung),” ujarnya pekan lalu.




Data statistik jagung yang dikeluarkan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dinilai lebih dapat masuk akal ketimbang data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Tahun 2014, USDA melaporkan pasokan jagung lokal sebanyak 9,2 juta ton, sedangkan BPS merilis 19,2 juta ton. Tahun 2013 data USDA (9,1 juta ton) dan BPS (18,8 juta ton); Tahun 2012 data USDA (8,5 juta ton) dan BPS (19,3 juta ton).

Sempat ramai diberitakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman menahan jagung impor yang sudah bersandar di tujuh pelabuhan Indonesia. Ia khawatir jika jagung impor masuk ke Indonesia maka harga jagung yang sedang tinggi kembali merosot. Kekhawatiran Mentan bisa dimaklumi dalam rangka menyelamatkan petani jagung.

Upaya Mentan dalam mengendalikan impor jagung memang membuahkan hasil. Empat bulan terakhir ini, harga jagung pipilan kering di tingkat petani tembus sebesar Rp 3.200 per kg dari biasanya Rp2.900 – Rp 3.000 per kg pipilan kering. Bahkan di Jawa Timur, salah satu sentra jagung di Indonesia, disana harga jagung melonjak hingga Rp 5.000 – Rp 5.300. Tingginya harga jagung menembus Rp 5.200 per kg sekaligus merupakan rekor sejarah.

Di balik naiknya harga jagung, peternak ayam pedaging (broiler) dan petelur (layer) mengeluh lantaran biaya pakan ikut naik. Peternak mengeluh bukan hanya karena harga melonjak tetapi keberadaan jagung lokal kian langka. Kelangkaan jagung ini akibat stok jagung tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri sebagaimana yang diklaim oleh GPMT.

Pada tanggal 16 November, Mentan Amran harus mengakui bahwa keberadaan jagung lokal sudah memang menipis dan nyaris habis. Lalu ia menghubungi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) bahwa 400 ribu ton jagung yang masih bertengger di 7 pelabuhan akan segara dibongkar.

Ketua PINSAR Singgih Januratmoko mengakui bahwa Mentan Amran membolehkan jagung yang di pelabuhan dibongkar semua. “Hal ini dilakukan pak Mentan supaya harga jagung tidak naik,” kata Singgih melalui pesan BBM, Senin (16/11).

Tantangan pabrik pakan ternak

Tantangan pabrik pakan tahun 2016 tergantung kepada kebijakan pemerintah. Kalau pasokan jagung lokal tidak memenuhi kebutuhan pabrik pakan, pemerintah mestinya tidak menahan jagung impor. “Pabrik pakan sangat bergantung dengan bahan baku seperti jagung,” terang Sudirman.

Silo: tempat penyimpanan bahan pakan yang dimiliki industi pakan ternak.

Silo merupakan tempat penyimpanan bahan pakan seperti: jagung, kedelai, gandum, dll.

pabrik pakan ternak di Indonesia terus bertumbuh dalam kurun waktu tiga tahun ini. Tahun 2013 mencapai 68 pabrik dengan kapasitas produksi sekitar 18,5 juta ton. Tahun 2014 bertambah menjadi 82 pabrik dengan kapasitas produksi 20 juta ton. Tahun 2015 bertambah lagi menjadi 84 pabrik dengan kapasitas produksi 21 juta ton.

Bertambahnya jumlah pabrik pakan ternak di Indonesia menunjukkan investasi terhadap pakan ternak kita cukup besar. Namun, Sudirman mengungkapkan bahwa selama tahun 2015 ini ada sejumlah pabrik yang terkapar lantaran menghadapi berbagai tantangan. “Siapa yang kuat dia (pabrik) akan jalan terus. Siapa yang lemah dia akan tergilas,” tutupnya. (Roni).

Leave a Reply

Your email address will not be published.