Riduan: Teologi Kebencian

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Oleh Riduan Situmorang

Sebenarnya kata teologi sangat tidak pantas disandingkan dengan kebencian. Tetapi saya paksakan itu di sini mengingat belakangan ini, ujaran kebencian ramai diperbincangkan terkait surat edaran yang dikeluarkan Polri. Dalam hati saya termenung, apakah negeri ini sudah sedemikian gawat sehingga surat edaran remeh-temeh dikeluarkan? Atau, apakah para tokoh masyarakat, tokoh agama, sudah tak berdaya mengajarkan kebajikan kepada masyarakat sehingga polisi turun tangan untuk urusan moral? Sederhana saja alasannya, urusan ujaran kebencian bukan tugas pokok Polri. Guru, tokoh, dan pemuka agamalah yang paling utama mengurusinya.




Kembali ke teologi kebencian tadi. Sesungguhnya, baik teologi maupun kebencian berada pada posisi yang berseberangan atau antitesis. Yang satu menautkan hubungan transsendental dengan yang ilahi, sementara yang satu lebih pada relasi improduktif yang lebih condong pada narasi menghanyutkan yang diperalat iblis. Jika teologi merupakan ujung dari doa, maka kebencian hanyalah ujung dari kekuatan magis dari iblis. Jadi pada prinsipnya, teologi dan kebencian adalah dua hal yang saling menikam.

RIDU2

Gegabah dan Gagap

Namun sialnya, narasi berseberangan inilah yang kemudian kerap kita saksikan. Di sisi lain, kita sendiri bahkan sering meleburkan dan menyatukannya secara paksa sehingga kita tertikam dan tercabik-cabik di dalamnya. Kita gegabah dan gagap sehingga secara tidak terduga teologi sering diolah menjadi bahan peledak kebencian. Sebaliknya, kebencian sering diartikan secara sempit sebagai wujud dari militansi iman terhadap Sang Pencipta. Akhirnya, jadilah Tuhan menjadi komoditas dagangan yang diobral. Celakanya, ujaran kebencian di media sosial diartikan sebagai wujud kepahlawanan terhadap kelompoknya. Baginya, hal itu wujud konkret dari teologi.




Di sinilah agama sudah dikepung pemahaman dangkal, militan, terutama radikal sehingga yang lahir kebencian. Maka, fungsi agama yang adalah jalan menuju surga mendadak berubah menjadi alat peledak kebencian. Hal inilah yang kemudian mengantar kita pada paradigma baru, yaitu manusia untuk agama, bukan agama untuk manusia. Kebencian menjadi sebuah alat dogmatis.

Di ranah politik, agama habis dibasmi. Agama kerap dipakai menjadi tameng pelindung dan legitimasi terhadap tindakan-tindakan radikal. Pada gilirannya, hal ini secara tumpang tindih menggiring kita pada lingkaran setan. Di sana, kita tentu tidak dapat menimbang mana yang benar karena semua yang ada di ujung lingkaran itu hanyalah setan yang terbahak-bahak. Dengan kata lain, secara sepihak kita telah membenarkan tindakan kebencian itu atas dasar militansi yang terlalu sempit kepada agama.

Percayalah, selama ini kita telah dililit kebencian. Akhirnya, segala tindakan yang tidak kita kenal tiba-tiba saja dapat merongrong persaudaraan di antara kita yang sudah lama saling mengenal. Sebut, misalnya, tragedi dan peperangan yang telah menghantam Israel dan Palestina. Agresi militer Israel secara manusiawi memang telah menumbuhkan simpati kepada Palestina. Akan tetapi, simpati kita terhadap yang satu terlalu sering membuat antipati kepada pihak yang lain.

Dalam konteks Indonesia, antipati bahkan lebih cepat berkecambah ketimbang simpati. Akhirnya, kita menyayangi yang satu yang lalu mengutuk yang lain. Ujaran kebencian di antara kita pun berseliweran. Kita memandang bahwa Palestina harus dibela atas dasar persaudaraan agama dan Israel harus dikutuk atas dasar beda mazhab.

Sekali lagi, percayalah bahwa kita sudah terlalu dalam terperosok dalam pelukan kebencian. Catat, saya tidak sedang menyalahkan tindakan kita yang barangkali terlalu menyayangi Palestina. Hanya saja, kita sudah terlalu kelewatan yang lalu membenci Israel. Maaf, saya tidak bermaksud menyalahkan tindakan kita yang terlalu memojokkan Israel, barangkali memang Israel pantas mendapatkan cemoohan kita. Hanya saja, jika memang kita ingin membebaskan Palestina sebagai saudara, maka kita harus mengambil posisi yang benar-benar antitesis dengan yang sekarang.

Saya menjadi teringat kalimat yang melegenda dari Nelson Mandela. Beliau pernah mengatakan bahwa apabila kita ingin berdamai dengan musuh, maka satu-satunya jalan bagi kita adalah harus bekerja sama dengan musuh. Artinya, siapa saja yang kita anggap sebagai musuh harus diajak bekerja sama, bukan malah menanam kebencian. Kebencian tidak menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik. Memang, kebencian akan membatasi ruang gerak mereka yang kita benci, tetapi bukankah kebencian juga membatasi ruang gerak kita?

Coba bayangkan, misalnya, apabila kita bersahabat dengan Israel! Saya yakin dengan posisi seperti ini kita akan lebih leluasa membujuk bahkan mengecam Israel. Akan tetapi, memosisikan diri seperti ini masih sangat sulit karena pemikiran masyarakat kita sudah telanjur digerogoti teologi kebencian. Barangkali dengan memosisikan diri seperti ini akan segera dibaca sebagai pengkhianatan terhadap Palestina atau bahkan pengkhianatan terhadap masyarakat Indonesia. Akan tetapi, bukankah menyayangi yang satu secara membabi buta juga berdefinisi sama dengan membenci yang satu secara membabi buta? Posisi seperti ini hanya akan melahirkan ujaran-ujaran kebencian.

Hati Jernih

Filsuf besar kebangsaan Jerman, Friedrich Nietzsche (1844–1900) pernah berkata, “Orang yang memiliki pengetahuan harus dapat bukan hanya mengasihi musuh-musuhnya, melainkan juga membenci sahabat-sahabatnya.” Nah, bukankah kita termasuk sebagai orang yang memiliki pengetahuan? Senada dengan itu, Dalai Lama juga pernah berkata, “Jadi, jika kita sungguh-sungguh ingin belajar, kita harus memandang musuh-musuh kita sebagai guru-guru terbaik bagi kita. Kemarahan dan kebencian adalah musuh-musuh kita yang sesungguhnya.” Artinya, musuh kita yang sebenarnya adalah diri kita sendiri yang sering diperdaya kebencian.

Supaya posisi saya jelas, saya sependapat dengan surat edaran. Tetapi, logika yang terkandung di dalamnya sangat tidak saya sepakati. Adanya surat edaran ini menjadi sebuah bukti lain bahwa ternyata kebencian di antara kita sudah sedemikian gawat. Ini juga mesti dibaca oleh para tokoh masyarakat, entah itu guru, tokoh agama, tokoh budaya sebagai kegagalan mereka dalam mendidik masyarakat.

Sekali lagi, mari mengubah teologi kebencian ini dengan hati jernih. Kita adalah bangsa beradab dan religius, bukan bangsa barbar. Kebencian tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Jadi, sebelum terlalu dalam terperosok dalam teologi kebencian, mengertilah bahwa tujuan akhir dari kebencian itu adalah peperangan. Adakah peperangan merupakan turunan langsung dari agama dan teologi? Apakah kita ingin melakukan genosida atas orang yang kita benci sebagai bentuk pelampiasan kebencian kita?

Saya dalam hati menyimpan sebuah harapan, setelah surat edaran ini keluar, kita secara kolektif tersadarkan bahwa ternyata selama ini kita sudah sedemikian jauh terjerembab pada lubang kebencian. Masa kita harus diatur sebuah surat hanya karena kebencian sudah menjadi tradisi? Apakah kita rela menyebut negeri ini sebagai negeri yang dihunjam kebencian?

Tentang Penulis

Nama               : Riduan Situmorang

T.T. L.             : Simandampin, 31 Desember 1987

Alamat:           : Jl. Sering No. 100 A Medan

Kegiatan          : Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan serta Pegiat Sastra dan Budaya di PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) Medan

No. Rekening  : BNI 0249692678 (Atas nama Riduan Situmorang)

No. Hp.           : 085761434917

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.