Komunitas Ubi Luncurkan Buku Keempat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Sampul buku Kombi (Jalar) Terbitan 4
Sampul buku Kombi (Jalar) Terbitan 4.

Jakarta, Jelasberita.com | Komunitas Ubi meluncurkan buku keempat seusai lokakarya kepenulisan yang diselenggarakaan oleh Komunitas Ubi di Jakarta, Minggu (15/11). Buku ini memuat curahan ide dari 20 penulis dalam dua belas rumpun tulisan yang dikumpulkan kurun waktu 1 tahun.

“Kita bahagia di tahun keempat ini sudah meluncurkan empat buku. Buku ini kumpulan tulisan dalam kurun satu tahun dari Juli 2014 sampai Juni 2015. Mudah-mudahan di tahun kelima kita bisa mencurkan buku lagi. Sampul buku ini juga unik, sebuah sketsa sudut wilayah di Indonesia yang berada dekat sungai,” ucap Efraim Sitinjak, sebagai pengurus Komunitas Ubi (Kombi).







Tema yang diangkat dalam buku tersebut adalah: mahasiswa Kristen yang “mahasiswa”, jiwa merdeka, aksara Nusantara, apresiasi di balik ikrar, belajar dari “Robohnya Surau Kami”, damai dirindu bumi, balik ke suara kenabian, kenal orisinal, batu besar Indonesia, palang gembira, boomerang budaya kekeluargaan, dan menulis adalah berpikir.

Komunitas Ubi atau Kombi adalah sekumpulan anak Indonesia Kristen yang ingin melihat kekristenan turut menyumbangkan hal-hal baik, khususnya melalui ide dan tulisan, bagi keindonesiaan. Melalui buku ini, 20 penulis berkontribusi menuliskan ide-ide sedap, unik dan menarik dengan tema kebanggsaan dan bernuansa kekristenan.

Efraim Sitinjak secara resmi meluncurkan Jalar Terbitan 4 Juli 2014- Juni 2015.
Efraim Sitinjak secara resmi meluncurkan Jalar Terbitan 4 Juli 2014- Juni 2015.

Lokakarya Kombi diadakan setiap dua bulan sekali dalam rangka menghasilkan tulisan-tulisan bermutu. Dalam lokakarya tersebut 18 perserta berlatih membuat balon ide dan kerangka tulisan secara cepat dan bermutu. Setiap peserta diminta menjabarkan hasil balon ide dan kerangka tulisan dengan tema Inovasi. Empat peserta yang menunjukkan hasil terbaik akan dipilih menjadi penulis pada tanggal 17 Januari 2015.

Jadi kita kumpul-kumpul di sini (lokakarya) bukan tanpa hasil. Ini (buku) hasil kita,” tutur Sam Tumanggor, pelatih lokakarya Kombi.




Salah satu peserta Ericko Sinuhaji mengatakan lokakarya kali ini semakin memotivasi dan memacu kemampuan. “Saya jadi termotivasi dan terpacu untuk belajar lagi. Kita dituntut agar ide-ide bisa dirumsukan secara abstrak dalam waktu yang singkat,” ujarnya.

Kombi digagas oleh Sam Tumanggor. Ia adalah seorang penulis buku-buku dengan tema kekristenan dan kebangsaan. Sam telah menulis sembilan buku sejak tahun 2006. Lalu pada tahun 2011, ia bersama rekannya Yulius, Efraim Sitinjak, dan Viona Wijaya mendirikan Kombi di Bandung.

Sam mendorong penulis-penulis Kombi agar menulis di blog dengan bidang kajian masing-masing. “Cobalah kalian lipatgandakan hasil pelajaran dari Kombi. Bila perlu bikin blog sendiri dan tuangkan pikiran-pikiran mengenai keadilan, ketahanan pangan, pendidikan, dan lainnya,” katanya dihadapan peserta lokakarya. (Roni).

Leave a Reply

Your email address will not be published.