Kamu Kesulitan Tidur Atau Insomnia? Ini Sebabnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Ilustrasi insomnia
Ilustrasi insomnia

Kesulitan tidur atau insomnia berpotensi dialami oleh siapa saja. Jika sudah mulai parah maka jam biologis pun berubah. Idealnya, manusia tidur pada pukul 9 atau 10 malam, namun karena mengalami kesulitan tidur, jam istirahat yang harusnya digunakan untuk tidur di malam hari tersebut bergeser hingga beberapa jam ke belakang.

 




Kesulitan tidur tidak hanya saat hendak tidur, namun orang yang menderita insomnia juga sering mengalami terbangun berulang kali, tak hanya itu pula, mereka sering bangun lebih awal dengan watu tidur yang singkat.

 

Menurut dr Andri SpKJ, FAPM, psikiater dan kepala Klinik Psikosomatik Omni Hospitals Alam Sutera, insomnia merupakan kasus yang akan banyak dihadapi oleh dokter di Indonesia baik dokter umum ataupun dokter spesialis. Sebab di berbagai negara, insomnia pun sering menjadi keluhan pasien.

 




Data di Amerika Serikat menyebut sekitar 30-50 persen orang dewasa mengalami insomnia selama satu tahun kehidupannya. Yang memprihatinkan, 10 persen di antaranya menjadi kronis atau parah.

 

Dr. Andri juga mengatakan bahwa proses berubahan umum banyak menjadi kasus seseorang memiliki pola dan kualitas tidur yang tidak baik. Hal ini biasanya dialami oleh pasien berusia lanjut. Biasanya mereka membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk mulai terlelap, beberapa diantaranya banyak yang terbangun di malam hari dan sulit untuk tidur kembali.

 

Insomnia juga dikaitkan sebabnya dengan gangguan jiwa. Banyak pasien dengan keluhan depresi, demensia dan skizofrenia sering mengeluh kesulitan tidur.  Selain itu,  gangguan medis seperti nyeri kronis pada pasien reumatik, diabetes melitus, gangguan prostat, stroke, parkinson, sleep apnea dan restless leg syndrome disebut sebagai kondisi medis umum yang bisa memicu insomnia. “Ada juga kesulitan tidur yang disebabkan karena penggunaan obat seperti obat flu yang mengandung bronkodilator, obat asma seperti teofilin dan aminofilin, serta obat antidepresan,” kata dr Andri.

 

Insomnia juga bisa karena telah menjadi penyakit turunan. Masalah ini dialami hampir seluruh keluarga tersebut secara turun-temurun. Menurut penelitian pada 2008, remaja dengan orang tua yang menderita insomnia lebih mungkin menderita insomnia pula, kantuk di siang hari dan memiliki peningkatan resiko untuk mengkonsumsi pil tidur dan bahkan mengalami masalah mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published.