Efek Asap Akibat Kebakaran Hutan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Bakar Hutan




Oleh: Meutia Verayanti*




Setelah membaca artikel ‘Ketahanan Sekolah Atas Gangguan Asap’ saya memandang masalah ini dari sudut pandang berbeda. Keputusan untuk meliburkan sekolah adalah tindakan tepat. Malah menurut pendapat saya, sekolah sudah harus diliburkan beberapa hari lebih cepat dari tanggal yang ditetapkan tersebut.

Ada beberapa alasan untuk mendukung pendapat ini.
Pertama, kualitas udara di Medan mulai minggu kedua di Oktober sudah berkategori ‘tidak sehat’ dan hal ini semakin memburuk mulaiRabu (14/10)) dan Kamis (15/10).Harian yang sedang anda pegang ini, selalu mengupdate kualitas udara di kota Medan di halaman pertamanya.

Kualitas udara yang kian tidak sehat sangat berdampak buruk bagi kesehatan warga kota ini terutama anak-anak dan para lanjut usia. Namun bukan berarti orang dewasa terbebas dari bahaya asap karena akibat yang ditimbulkan tidak dirasakan pada saat itu juga.




Kedua, asap ini juga punya tingkat bahaya yang sama dengan kondisi krisis lainnya sehingga disebut dengan ‘bencana”.

Asap ini juga menjadi seperti ‘a silent killer’ seperti yang dijelaskan dalam berita Analisa,Kamis, 29 Oktober 2015, yang berjudul; ‘YSKI bagikan 30 ribu masker, Udara di Medan lampaui batas aman’(halaman 9 kolom 4-6). Dr. Hidayati (Kepala BLH Sumut)mengatakanParticulate Standard Index (PSI) di medan sempat mencapai angka 504 mikro gram per norma meter kubik, yang berarti sudah melampaui batas aman yaitu 150 mikrogram(Palangkaraya pernah mencapai angka 3000-an).

Hidayati menambahkan,partikel melayang(silka karbon) sudah melewati ambang aman. Masih menurut Hidayati dalam berita tersebut, asap yang berasal dari kebakaran hutan ini juga dihasilkan zat berbahaya, karena didalamnya mengandung karbon monosida (gas CO) dan karbon dioksida (gas CO2) dalam jumlah besar, yang juga beracun seperti nitrogen monoksida dan dioksida, gas sulfur, formaldehida, hidrokarbon, partikel dan zat oksidan dan aneka bahan beracun.

Akibat yangditimbulkan bagi mereka yang menghirupnya adalah beresiko mendapat berbagai gangguan penyakit, seperti, kesulitan bernafas dan mudah lelah, paru-paru, asma, alergi, serta iritasi mata, hidung dan tenggorokan.Dalam jangka panjang, efek asap ini jugadapat menyebabkan gangguan pada jantung dan menurut penelitian juga dapat menyebabkan kanker.

Dari penjelasan di atas, jelas sekali asap yang datang menyelimuti wilayah sumatra Utara dan sebagian besar daerah lain di Indonesia ini berbahaya. Sehingga tidak salah jika pemerintah dan media dalam dan luar negri  menggunakan kata ‘bencana’ dalam hal ini dan pers asing juga menggunakan istilah ‘Indonesia Fire Crisis’ untuk menyatakan betapa serius masalahkebakaran hutan tahun ini dan asapyang ditimbulkan, sama dengan bencana banjir, gunung berapi, longsor atau bencana lainnya.

Pasti sekolah harus diliburkan dalam kondisi ini, malah sebaliknya, jika tidak diliburkan hanya dengan alasan mempertahankanketahanan sekolah, pasti kita merasakan ada sesuatu yang janggal disana.Walaupun mungkin resikoterparah dari bencana asap ini(mis: kematian)tidak seketika dan berjangka waktu panjang (long term effect), namun asap ini adalah ‘a silent killer’ sehingga tidak dapat disamakan denganpernyataan‘karena hujan maka tidak sekolah’, sehingga ketahanan sekolah dianggap rendah. Tidak benar.

Ketiga, jika melihat banyak siswa, dan bahkan orang dewasa,dalam kondisi asap seperti ini masih berada di ruang terbukauntuk rekreasi,saya percaya dan setuju dengan pendapat Dr.Hidayati, itu semua karena mereka tidak mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan oleh asap yang terhirup mereka. Mereka abai untuk tetap berada di dalam rumah,mereka juga abai jika harus berada di luar rumah untuk menggunakan masker. Terutama bagi orang dewasa yang harus mencari nafkah dan harus berada di ruang terbuka. Sebaiknya, jika memungkinkan, di dalam ruangankita menggunakanair purifier, untuk menjaga kualitas udara di rumah terutama kamar tidur pada waktu tidur malam. Juga menutup setiap celah rumah untuk meminimalisir asap masuk ke dalam.

Pengalaman saya bertanya kepada seseorang,‘mengapa tidak memakaimasker?’Jawabannya singkat, ‘tidak biasa’. Lalu saya coba jelaskantentang angka indeks polusi yang ada saat itu dibandingkan dengan batas wajar. Sebagai tambahan, saya juga bandingkan dengan angka indeks polusi di Palangkaraya. Betapa terkejutnya orang tersebut dan dengan ringan hati menerima dan menggunakan masker yang saya tawarkan kepadanya. Saya yakin, jika para ahli medis yang menjelaskan bahaya asap ini tentu lebih baik dari penjelasan saya, maka para orangtua akan tetap menjaga anak-anak mereka di dalam ruang tertutup dan anak-anak juga tidak keberatan untuk beberapa hari melakukan aktifitas di dalam ruangan.

Sebagai kesimpulan, kebijakan untuk menutup sekolah guna melindungi anak-anak dari bahaya asap sebenarnya sudah tepat, namun sayangnya tidak dibarengi oleh informasi yang cukup akan bahaya asap itu sendiri kepada anak-anak dan masyarakat umum.

Alangkah baiknya, sosialisasi tentang bahaya yang ditimbulkan asap dapat diberikan kepada masyarakatdengan lebihgencar lagidengan menggunakan media massa seperti koran, radio dan televisisertamenggunakan para profesional berlatar pendidikan atau profesi yang terkait seperti para ahli medis dan BLH dalam penyampaian informasi ini.

Pemerintah dapat menggunakan saluran televisidan radiomiliknya, dan jugadapat bekerja sama dengan stasiun TV swasta, yang dapat menjangkau masyarakat dalam level mana saja untuk menyosialisasikan dampak bahaya yang ditimbulkan dan tindakan antisipasi apayang sebaiknyadilakukan.

*Penulis adalah seorang dosen sekaligus ibu yang sayang pada anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.