Pertumbuhan Produksi Manufaktur Sumut Meningkat 8,85% Triwulan III

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




industri manufaktur
Medan, Jelasberita.com | Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan III 2015 naik 8,85 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama 2014. Kenaikan ini terutama didukung kenaikan pertumbuhan produksi industri makanan 15,19 persen, industri karet, barang dari karet dan plastik 9,38 persen serta industri minuman 1,96 persen, ungkap Kepala BPS Sumut Wien Kusdiatmono pada pemaparan data BPS bulanan.
            Secara triwulanan (qtq), pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan III 2015 meningkat 6,31 persen triwulan II. Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan antara lain industri karet, barang dari karet dan plastik 8,69 persen, industri makanan 8,30 persen, industri minuman 4,87 persen serta industri logam dasar sebesar 1,73 persen.
Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil juga meningkat, naik 12,20 persen yoy. Jenis–jenis industri yang mengalami kenaikan yakni industri logam dasar 52,82 persen, industri furnitur 34,40 persen, industri tekstil 17,93 persen, industri mesin dan perlengkapan YTDL 17,81 persen, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki 17,21 persen, industri barang galian bukan logam 16,07 persen, industri pakaian jadi 13,94 persen, industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya 12,56 persen, industri makanan 12,27 persen, industri minuman 10,53 persen dan industri kayu, barang dari kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya 7,85 persen.
Namun, secara triwulanan, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil turun 1,0 persen. Jenis-jenis industri yang mengalami penurunan antara lain industri kertas dan barang dari kertas 12,36 persen, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia 11,95 persen, industri percetakan dan reproduksi media rekaman 9,54 persen, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki 5,45 persen, industri pengolahan tembakau 5,42 persen, industri pengolahan lainnya 3,82 persen, industri pakaian jadi 3,22 persen, industri alat angkut lainnya 3,06 persen, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan 2,64 persen, industri makanan 2,05 persen dan industri barang galian bukan logam 0,05 persen.
Pengamat ekonomi Muhammad Ishak mengatakan meskipun ekonomi melambat, peningkatan produksi industri manufaktur di triwulan berikut dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan dengan asumsi kondisi faktor pendukung industri berada dalam kondisi yang diharapkan para industriawan seperti ketersediaan bahan baku, ketersediaan energi listrik serta infrastruktur peraturan yang memberi dukungan terhadap mereka. Selain itu, harapan akan perbaikan kondisi ekonomi global turut mendukung.
Ia menambahkan, banyak hal yang dapat dilakukan pemerintah guna meningkatkan industri lokal Sumut seperti meningkatkan potensi pasar domestik dan para pelaku industri diharapkan mampu meningkatkan daya serap produk dalam negeri. Peningkatan pertumbuhan industri manufaktur diharapkan dapat menggenjot sektor lain salah satunya sektor perdagangan.
“Sektor perdagangan paling menikmati majunya industri manufaktur. Sebab mereka merupakan perpanjang tangan hasil-hasil produk yang dihasilkan industriawan kita. Di sektor ini, pedagang yang bermain di level usaha kecil menengah (UKM) semestinya menjadi pihak yang paling diuntungkan. Akan tetapi, melihat pertumbuhan mereka hanya 1 persen, ini mengindikasikan peran UKM belum maksimal,” paparnya. (rls/ti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.