1000 KK di Desa Perlis Krisis Air Bersih

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





krisis air bersih
Ilustrasi Foto : Tempo.Co

Medan, Jelasberita.com Tim mahasiswa peneliti dari Unimed mengerjakan projek penyediaan air bersih di Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Hasilnya, tim sukses menyediakan alternatif sumber air bersih dengan produksi 100 galon per hari. Kendati demikian proyek ini masih tahap pengerjaan.

Dedi Gunawan, anggota tim, mengatakan, proyek penelitian ini dikerjakan dengan mengandalkan dana hibah senilai Rp 45 juta dari Kemendikbud Dikti, sebagai ganjaran atas usulan penelitian mereka yang menang lomba proposal Program Hibah Bina Desa (PHBD) tingkat nasional.







“Perlish itu sangat rawan airnya. Tak layak minum. Ada sembilan dusun dengan total sekitar 1000-an Kepala Keluarga tinggal di sana Mereka tinggal di tanah seluas 6.011 meter persegi,” ujar Dedi saat diwawancarai di Aula FMIPA Unimed, Jumat (30/10).

Lebih jauh ia menerangkan, ide penelitian tersebut didapat setelah mereka menggali lebih dalam informasi dari salah seorang kakaknya kelas di Olahraga Unimed. “Kakak kelasku kebetulan warga desa Perlis. Dia cerita. Lalu kami melakukan ekspedisi ke Langkat pada Februari 2014. Maret 2014 tim menyusun proposal dan mengirimkannya ke Dikti. Juni, proposal diumumkan lolos,” bebernya.

Setelah itu, tim mempresentasikan proposal penelitian mereka di Hotel Madina, Medan beserta 16 lainnya peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Sumatera sepasti Aceh, Palembang, Riau, Sumut.

Tim Dedi beranggotakan empat orang, yakni Indra Pratiwi, Mulyono Ardiansyah dan Fadhilla. Pada awal Oktober 2015, tim melakukan pengeboran setelah dana dari Dikti Cair. Awalnya tim mengusulkan pemanfaatan (olah) air sungai Babalan untuk meningkatkan produktivitas air minum, namun, terang Dedi, dikarenakan dana hibah terlalu sedikit, akhirnya tim menggunakan alternatif kedua.




Program Hibah Bina Desa

“Jarak dari sungai ke rumah-rumah penduduk sangat jauh. Butuh banyak pipa. Sementara dana terbatas. Jadi kami banting setir dengan mengebor. Hasilnya, air bersih dapat juga,” terang Dedi.

Pengeboran dilakukan hingga sebulan lebih. Dengan memasukkan pipa sebanyak 28 unit atau sekitar 204 meter ke dalam tanah. “Jika hanya beberapa meter, airnya masih asin. Jadi kami bor hingga 204 meter baru dapat air bersih,” ungkapnya.

Format projek tim ini adalah memasang sumur bor. Air yang ditarik oleh pompa air kemudian ditampung di tabung penampungan. Dari tabung penampungan kemudian air sebagian dikirim ke  mesin RO (penyaring), sebagian lagi masuk ke bak raksasa.

Air saringan mesin RO, inilah yang sebanyak 100 galon perhari untuk dipakai sebagai air minum (dan memasak). Sedangkan air bak digunakan untuk mandi dan mencuci.

Dedi menyebut, mesin RO semua dipesan dari Jakarta, sisanya bahan bangunan dibeli dari daerah Brandan, demi menekan ongkos. Untuk memaksimalkan biaya, Tim bekerja sama dengan masyarakat. Masyarakat sangat akomodatif dan mendukung projek tim. “Warga menyediakan transportasi berupa boat dan sampang untuk mengangkut alat-alat bangunan lewat jalur air. Kemudian, warga memberi bantuan lain seperti tenaga pengeboran,” pungkas warga Jalan Pimpinan Medan Timur ini.

Di awal ekspedisi, tim memastikan bahwa kondisi air payau di Perlis diuji dan ternyata tidak layak minum. Lalu tim menguji air bor yang ada di masjid, dan layak minum. Jadi tim berinisiatif bikin sumur bor persis seperti yang ada di Masjid. Sumur bor di Masjid sudah berusia 30 tahun, dan airnya layak minum. Itulah yang ditiru tim ini.

Ika, ketua tim menambahkan, kalau dulu, ketika belum ada sumur bor ini, warga mengandalkan air panas yang ada di dusun itu, namun harus mengantre panjang dan lama. Sebagian membeli air ke daerah seberang dengan membawa jerigen.

Menurut Dedi, dibutuhkan tiap dusun tersedia satu sumur bor untuk memenuhi kebutuhan 1000 KK demi menekan krisis air bersih di Perlis. Setelah projek ini memberikan hasil positif,  pihak kepala desa. berencana akan mengusulkan program ini kepada Pemkab Langkat.

Wakil Dekan 3, Muhammad Yusuf Nasution, M.Si, Dosen Pembimbing Drs Rappel Situmorang, M.Si dan Ketua Jurusan Fisika Alkhafi Maas Siregar, M.Si sangat mendukung projek penelitian tim dari Unimed. Yusuf senang dengan sikap proaktif dan jiwa sosial mahasiswanya. Bahkan kemampuan mahasiswanya bersosialisasi dan meneliti di masyarakat.

Untuk distribusi air supaya meraya tiap penduduk, tim sedang berencana akan menggunakan kartu KK. Sedangkan upaya menjaga kebersihan daerah tersebut yang masih jorok, tim akan menyediakan tong sampah.

Krisis air bersih di Desa Perlish, menurut Dedi, sudah berlangsung lama. Sebabnya, desa ini tidak terpantau pemerintah, sehingga jarang ada bantuan ke sana.

Untuk projek ini, Rappel Situmorang, Dosen Pembimbing turut memuji kiprah mahasiswanya itu yang ternyata jurusan pendidikan, bukan non kependidikan. “Ini bagus. Mereka mengebor itu dikondisikan di daerah yang agak tinggi supaya tidak terganggu jika pasang tiba,” ujarnya.

Ia berharap, hasil penelitian mahasiswanya itu sebaiknya ditindak-lanjuti pemda. Dan penelitian ini tetap dilanjutkan. Ia juga berharap agar Dikti memberi perhatian besar terhadap penelitian mahasiswa. (Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.