MARTOGI SITOHANG MENGGUGAH SEMANGAT MENCINTAI SENI TRADISI

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




MARTOGI SITOHANG

 




Jong Bataks Arst Festival 2015, Selasa/ 27 Oktober 2015 dibuka oleh 3 pengisi acara yang tidak asing di dunia kesenian Sumatera Utara, bahkan Nasional selama 2 session: 15.00 Wib-17.30 Wib dan 19.00 Wib- 21.30 Wib. Sajian seni berbasis tradisi yang tetap bersinergi dengan budaya modern menjadi pertunjukan unik sekaligus memiliki karakter yang khas. Ada Lae 2 Rocks, Forum Anak Muara, Martogi Sitohang yang siap membuat panggung Taman Budaya , Sumatera Utara bersuara tradisi leluhur.

Martogi Sitohang seseorang yang selalu menginspirasi buat kita anak muda, gerakan – gerakannya yang selalu kita bayangkan sulit untuk terwujud, ditangan seorang Martogi Sitohang bisa terwujud karena semangat, intensitas, totalitas dan jaringannya. Jebolan Entomusikologi ini sudah melalangbuana di dunia internasional melalui musik tradisional. Beberapa tahun ini ia punya program bagaimana mewujudkan Konser Satu Juta seruling, Mewujudkan seruling menjadi Alat Musik Nasional yang digagas dan diselenggarakan dari Sumatera Utara.

Dengan khusuk Martogi Sitohang menjiwai serulingnya hingga menyatu dalam nafas, tubuh dan akhirnya menjelma sebagai gerakan kebudayaan yang membwa pesan tentang bagaimana kita mencintai seni tradisi warisan leluhur kita.

Lae 2 Rock, sebuah group musik yang dibangun oleh para mahasiswa Universitas HKBP Nomensen memadukan musik yang beraliran rock tapi tetap memadatkan nuansa budaya Bataknya. Dengan genre musik yang mereka tempuh, Lae 2 Rocks membawa jiwa-jiwa audiens terhentak tapi tetap kokoh di garis tradisi. Lae 2 Rocks sengaja memadukan musik rock ke tradisi agar generasi muda lebih menerima budaya-budaya tradisi yang sekarang ini dianggap kolot dan tidak berkelas.




Tidak dapat dipungkiri kemeriahan Jong Bataks Arts Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia ini semakin bermakna dengan kehadiran komunitas seni dan individu penyaji yang berbeda-beda genre seninya.

“ Jong Bataks Arts Festival 2015 sangat meriah dibanding tahun lalu, lebih mengangkat budaya lokal Nusantara. Kalau di 2014 masih ada unsur barat. Hal ini tentunya mengajak kaum muda, seperti kami lebih berkompetitif dalam melestarikan etnis budaya daerahnya. Jong Bataks Arts Festival 2015 banyak menginspirasi kaum muda saat ini yang lupa akan budaya daerahnya. Kami Berharap JBAF dapat menginspirasi semua etnis untuk mencintai dan membanggakan budaya sendiri baik musik, tari, sastra, teater, rupa, fotografi, sinematografi. Semoga juga JBAF 2015 makin besar, berkumandang di tingkatan nasional dan mancanegara”. Ungkap pentolan Lae 2 Rocks setelah menggelar glade resik.

Selain Lae 2 Rocks yang memadukan unsure Rock dalam karya-karya ada juga Forum Anak Muara yang beranggotakan anak-anak  berusia 10-15 tahun dari kecamatan Muara, Tapanuli Utara. Mereka berangkat menuju Taman Budaya, Sumatera Utara dengan menggunakan bus, berangkat malam dan tiba pagi. Semangat berkarya mereka mengalahkan rasa lelah, langsung bersiap-siap untuk glade resik karena siang menjelang sore mereka akan menyajikan pertunjukan musik Batak

Bila Lae 2 Rock memadukan tradisi dengan nuansa rock, maka Forum Anak Muara murni tradisi. Generasi-generasi muda yang memahami makna keluhuran warisan para leluhur, dari usia dini mereka mengeksplorasi potensi dirinya untuk menguasai kebudayaannya yang mulai tergerus zaman.

Hendra Siregar ( Forum Anak Muara)

“ Dari even Jong Bataks Arts Festival 2015 ini kami berharap semua kegiatan seni budaya, terutama yang ada di Sumatera Utara dapat ditingkatkan lagi, apalagi yang di pelosok-pelosok agar semua warga Sumatera Utara mengetahui banyak tentang budayanya dan semakin cinta pada budaya Batak. Keistimewaan Jong Bataks Arts Festival 2015 adalah semua kelompok etnis dirangkul dan luber dalam kebersamaan. Jong Bataks Arts Festival tahun ini lebih meriah. Daripada menyaksikan pertunjukan seni yang tidak berbasis tradisi, lebih baik kita menonton Jong Bataks Arts Festival. Kita bisa belajar dari seniman yang lebih senior dan dengan begitu bisa belajar seni tradisi Nusantar.” Hendra Siregar, (Pembina Forum Anak Muara) mengungkapkan pandangannya tentang pelaksanaan Jong Bataks Arts Festival 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published.