Tiga Lelaki di Warung Lontong Bu Ati

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Bu ati

 




Pentingnya Memanfaatkan Pinjaman

Oleh Dedy Hutajulu
Sunarti (41) alias Bu Ati duduk santai di tokonya—sebuah toko kelontong yang terletak di pinggiran Jalan Perhubungan, Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Seituan—Selasa (15/9).  Siang itu, matahari terik menjerang kulitnya, namun ia baru saja selesai merapikan sayur jualannya—berupa bayam, kangkung dan kol yang masih sisa.

Sembari meladeni pembeli, ibu tiga anak ini bercerita kalau kedainya sudah beberapa kali pindah lantaran kerap kena gusur. “Dulu, kami miskin. Punya warung pindah-pindah. Kami sewa lapak-lapak kecil untuk jualan lontong,” ungkap suaminya, Karina Tarigan (53).

Sudah lama Bu Ati dan suaminya ingin merubah nasib. Mereka berusaha meminjam uang ke sana kemari. Uang untuk modal memulai usaha. Akan tetapi, tak seorang pun memberi pinjaman. Pasangan ini hampir frustasi, karena perekonomian keluarga makin sulit.




Dalam perjuangan itu, Bu Ati terus berjualan lontong plus sayur-mayur segar. Namun, semenjak anaknya naik kelas, tuntutan biaya sekolah anak-anaknya makin kentara. Sunarti pun tambah pusing. Ia harus putar otak untuk mendapatkan pinjaman.

Awal 2004, sebuah ‘keajaiban’ terjadi. Suatu pagi, sekira pukul 10 pagi, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan warung lontongnya. Tiga lelaki berpakaian rapi turun. Mereka singgah di warungnya sekadar untuk sarapan. Membuka pembicaraan terhadap pelanggan, Sunarti bertanya apa gerangan pekerjaan ketiga pelanggannya itu. “Saya tanya mereka, ‘Bapak, bapak dari mana?’ Jawab mereka, dari Bank.”

Mendengar kata bank, otak Sunarti lekas menyala. Ia segera menyahut tanpa malu-malu. “Jadi bisalah saya pinjam uang? Disahut mereka: bisa!” terang Sunarti mengenang percakapan selusin tahun silam.

Lalu Sunarti mencari tau syaratnya. Hari itu juga ia memenuhi segala persyaratan berupa agunan, surat Keterangan tanah dari Camat, fotokopi Kartu Keluarga, Kartu Penduduk dan surat izin usaha. Pertemuan yang tak disengaja hari itu, menjadi titik balik kehidupan ekonomi Sunarti.

Percakapan dengan tiga lelaki rupawan itu rupanya menaruh asa di hati Sunarti. Wanita berambut keriting itu cepat-cepat meminta nomor handphone dan alamat Bank dimana ketiga pelanggannya itu berkantor. “Ketiganya, Pak Salamon atau biasa dipanggil Bowo orang bagian Survei, dan temannya, Pak Dedi serta Idris. Pertemuan itu gak sengaja lho,” ungkapnya.

Usai berdialog sembari bersantap, ketiga perwakilan dari Bank yang berkantor cabang di Tembung itu, lantas beranjak pergi dan menganjurkan Sunarti lekas mengurus semua berkas persyaratannya. “Saya tak curiga sama mereka. Soalnya di kemeja mereka tertera pin simbol Bank Sumut. Makanya saya kumpuli berkasnya dan saya urus surat izin usaha ke kantor lurah. Setelah berkas rampung, langsung saya antar ke Bank Sumut. Seminggu kemudian, saya ditelepon. Terus saya disuruh datang kesana dan pinjaman saya langsung cair,” imbuhnya.

Dengan wajah sumringah, ia pulang dan mulai memperluas usahanya. Selain kebutuhan tambahan kedai, ia juga menambah modal bagi suaminya, dengan membeli sebuah angkot atau mobil pengangku umum (MPU) untuk disewakan kepada orang lain dengan sistem setoran. “Saya isi jualan saya dengan uang itu. Juga beli angkot lagi. Angkot Povri kami yang lama, kami jual. Soalnya, izinnya sudah kadaluarsa dan gak beroperasi lagi. Kami menggantinya dengan membeli angkot KPUM 11, jurusan Bandar Setia-Padang Bulan. Setorannya Rp 85 ribu per hari,” terangnya.

Selain membuka usaha warung sarapan pagi, hingga kini Sunarti juga membuka toko kelontong serta sayuran dan ikan segar. Ia juga mengisi kegiatannya dengan mengutip jula-jula atau arisan. “Saya ngutip jula-jula dari 240 orang. Sehari 10 ribu per orang. Dapatlah 40 ribu, untuk uang capek dan minyak kendaraan. Soalnya saya yang ngutip serta pegang uang itu,” katanya.

Sedangkan dari dagang ikan segar dan sayur per hari, Sunarti meraup keuntungan minimal Rp 150.000. Kentungaan dari jualan ikan dan sayur itu cukup untuk biaya sekolah tiga anaknya yaitu Ratna Yunita Sembiring (23), Muhammad Fadly Sembiring (20) dan Teguh Ramadan Sembing (14).

Sudah 12 tahun Sunarti meminjam uang dari Bank Sumut dengan beberapa kali pengambilan. Itu dilakukannya, lantaran pinjaman tersebut membantu usahanya. “Usaha kelontong saya dari tahun 2010. Pinjaman ke Bank sejak 2004. Cukup membantulah, makanya saya tetap minjam. Gak pernah ke Bank lain. Soalnya, di Bank Sumut ini, pelayanannya bagus,” ucapnya.

Sunarti, pedagang kelontong
Sunarti saat ditemui di toko kelontongnya di Jalan Perhubungan, kecamatan Percut Sei Tuan

Ketertarikan Sunarti kepada Bank Sumut, diakuinya juga, dengan proses pinjaman yang mudah, cepat dan gak bertele-tele. Untuk itu, ia mengatakan, kalau ada orang yang meminjam, namun tidak diterima, hal itu bukan dikarenakan pihak bank, melainkan kekurangan berkas dan ketidak-layakan usaha.

“Kalau yang lain gak tembus, mungkin berkasnya gak lengkap. Kayak KTP saja harus diurus, surat silang sengketa, PBB dan lainnya. Pertama sekali, saya ajukan pinjaman Rp10 juta, tapi cair Rp 8 juta. Agunannya rumah saya. Baru Maret 2015 lalu saya ngambil lagi, dengan massa 2 tahun dan pinjaman 50 juta. Setiap minjam, yang saya pilih tenggat waktunya 2 tahun,” ujarnya sembari menunjukan bukti pembayaran dan brosur dari Bank Sumut.

Sunarti mengaku tidak pernah telat dalam pembayaran. “Ini ada brosur terbarunya. Tapi itu untuk surat yang bersertifikat, minimal pinjaman Rp 100 juta. Kalau saya, surat tanah dan SK Camat hanya dapat pinjaman Rp 50 juta maksimalnya. Sudah enam kali saya minjam uang di Bank Sumut. Kalau sudah tiga atau empat bulan lagi, saya malah ditawari untuk minjam lagi. Yang penting, kami gak pernah nunggak bayar bulanan. Tapi kalau lewat tanggal boleh. Itu kata pihak Bank,” pungkasnya.

Dedi, Petugas Survei Bank Sumut Kantor Deli Serdang ketika dikonfirmasi via telepon seluler terkait pelayanan dan proses pinjaman di Bank Sumut membenarkan hal itu. Namun ia hanya berkomentar singkat. “Iya. Begitu. Maaf pak, saya lagi rapat. Biar lebih enak, datang saja ke kantor . Kita ngobrol,” balasnya via telepon seluler.

Berbeda dengan Sunarti, seorang pengusaha ayam penyet, Supratman (35), warga Jalan Tembung, mengaku kecewa dengan pihak Bank Sumut yang tak menggolkan permohonannya. “Saya juga punya agunan. Rumah saya. Tapi sudah saya coba ajukan, namun sampai hari ini gak lolos juga. Entah dimana salahnya. Akhirnya saya gak mau lagi meminjam ke situ. Saya cari bank lain saja,” gerutunya saat ditemui di teras rumahnya yang hanya berjarak sepuluh meter dari warungnya.

Gagalnya Supratman, dan yang lainnya mendapatkan pinjaman, menurut Muhammad Ishak, Dosen Ekonomi dari Universitas Negeri Medan, dikarenakan tak jeli dengan pemberkasan serta persyaratan lainnya yang diminta bank. “Bank selalu menggunakan azas kehati-hatian. Dan Supratman, mungkin tidak memenuhi secara lengkap syarat yang ditentukan,” terangnya.

Sedangkan, suksesnya Sunarti semata-mata berkat pinjaman, melainkan lebih dipengaruhi aspek psikologis dan manajemen. “Modal itu nomor dua. Jika sudah ada rencana bisnis, dan psikologis si peminjam sehat, usahanya pasti maju. Pinjaman dari bank efektif, jika usaha sudah ada, bukan dimulai dari nol. Jika masih pemula sebaiknya meminjam ke Dinas Koperasi. Bunganya jauh lebih rendah,” sambung Ishak.

Menyikapi rencana pemerintah mendorong sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), Ishak menganjurkan, sebaiknya ada kerangka kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak bank. Bahkan, Pemda harus bisa menggaransi pihak bank manakala terjadi kegagalan cicilan pembayaran dari pelaku UMKM. Pemerintah bisa mengevaluasi dan mengantisipasi hal tersebut dengan cepat.

Sebaiknya, usul Ishak lagi, UMKM diajarkan cara-cara manajemen. “Bank bisa bikin roadshow. Kerjasam BI dan Bank Sumut serta Pemda misalnya. Undang Pelaku UMKM. Diskusi bersama mereka tentang cara mengakses perbankan dan bagaimana berbisnis,” pungkasnya.

Sebenarnya upaya mendorong UMKM terus maju turut didukung bank Indonesia (BI). Surat edaran BI menyebut mewajibkan bank memberikan pinjaman kepada sektor riil/umkm. Hal tersebut diatur dalam PBI No. 17/12/PBI/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No.14/22/PBI/2012 tentang pemberian kredit atau pembiayaan oleh bank umum dan bantuan teknis dalam rangka pengembangan UMKM dan dijelaskan dalam Surat Edaran no.17/19/DPUM.

 

Kewajiban pencapaian rasio kredit dimaksud dilakukan secara bertahap, yakni pada 2013 dan 2014, rasio kredit sesuai kemampuan bank. “Tetapi pada 2015, rasio kredit paling rendah lima persen dari total kredit tersalur. Sedang 2006 minimal 10 persen, 2017 minmal 15 persen dan 2008 minimal 20 persen,” tulis Analis Manajer Unit Komunikasi dan Layanan Publik, Bank Indonesia-Sumatera Utara, Aegina Surbakti, via surat elektronik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.