Jong Bataks Arts Festival 2015

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





irwansyah

Hadirkan Irwansyah Harahap, Martogi Sitohang, Hendrik Perangin-angin, Murni Surbakti, Idris Pasaribu, Tampe Mangaraja Silaban, Mangatas Pasaribu, Togu Sinambela

Pada 27-31 Oktober 2015 di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan no.33 Medan menghadirkan seniman-seniman berpengaruh yang memiliki integritas dan kapabilitas di jalan seni. Seniman-seniman ini turut ambil bagian dalam perhelatan kebudayaan ini dengan semangat gotong royong. Semangat yang menjadi fondasi Indonesia yang belakangan mulai tergerus oleh karakter individualistis.

Seniman-seniman berpengaruh dalam kesenian dengan jam terbang yang sudah sangat tinggi, merendahkan hati bersama pekarya-pekarya muda lainnya untuk menggugah publik Sumatera Utara tentang makna dari warisan leluhur bangsa. Seniman-seniman ini dengan sukarela menyisihkan waktunya demi sebuah gerakan budaya untuk melestarikan eksistensi kearifan lokal budaya Batak. Secara materi, mungkin panitia Jong Bataks Arts Festival tidak mampu memberikan honor yang tinggi, namun secara spirit mereka dapat menyatukan energi di satu ruang yang bernama panggung kebudayaan.




martogi

Ada Irwansyah Harahap, Martogi Sitohang, Hendrik Perangin-angin, Murni Surbakti, Idris Pasaribu, Tampe Mangaraja Silaban, Mangatas Pasaribu, Togu Sinambela.

Irwansyah Harahap, Martogi Sitohang, Hendrik Perangin-angin, Murni Surbakti selalu berkontribusi di dunia kesenian lewat bunyi, mereka meramu bunyi menjadi sesuatu yang menggugah emosi dan pemikiran publik. Dengan tekhnik dan kepekaan rasa mereka dapat menarik perhatian masyarakat memasuki wilayah-wilayah hening,  tajam, senduh, kencang, tragis, imanjiner, romantis atau rindu yang menyayat.

Dengan ketajaman dan kelembutan bunyi yang mereka produksi lewat seluruh potensi diri kita dapat menikmati dunia yang mungkin saja belum pernah dilihat. Bagaimana terbang dengan mengendarai suara atau kita memasuki belantara leluhur yang ditumbuhi bunyi-bunyi sakral. Mereka mampu menghipnotis seluruh indera kita untuk keluar dari kepenatan rutinitas sehari-hari yang kadangkala menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan.




murni surbakti

 

Karya-karya musik Irwansyah Harahap dengan SUARASAMAnya pada dasarnya mengacu pada elemen konseptual maupun praktikal dari berbagai kebudayaan musik tradisi dunia (roots music). Di samping menggunakan sarana alat-alat musik tradisi dunia, ia juga cenderung untuk merancang ulang (redesain) peralatan musik yang konvensional ke dalam bentuk-bentuk tuning, teknik permainan, maupun karakteristik idiomatik bunyi yang berbeda-beda untuk memenuhi estetik musikal yang ingin dicapai. Terkadang ia juga membuat desain alat musik khusus (custom) untuk memenuhi kebutuhan komposisi musik yang ia kerjakan. Selain itu, ia juga seringkali mensintesa ulang gagasan konspetual maupun paraktikal dari fenomen musik dunia ke dalam formula baru, baik dalam hal pembentukan struktur dasar ritmikal maupun orientasi pada unsur melodiknya.

SUARASAMA memainkan world music yang memadukan musik Batak, Melayu juga Timur Tengah dan Afrika. Mereka mengeluarkan album berjudul “Timeline” yang dirilis oleh Space Rec (Jakarta). Sebelumnya album mereka dirilis oleh Radio France Internationale dan dirilis ulang oleh Drag City Records (USA).

SUARASAMA berkembang ketika ia mendapat undangan dari Sapto Rahardjo untuk terlibat dalam Jogjakarta International Gamelan Festival 1997. Undangan itu berlanjut hingga permintaan perekaman musiknya oleh Jerome Samuel, seorang produser dari Radio France International dan undangan forum Asia Pasific Performance Exchange (APPEX) 1997 di Los Angeles, USA dimana ia mempresentasikan karya-karyanya dalam tajuk Music,Trends, and Future.

Hingga di tahun ke 17 berdirinya kelompok SUARASAMA saat ini, telah banyak karya-karya yang dihasilkan antara lain “Fajar di Atas Awan” (RFI France 1998; DragCity Chicago 2008), Rites of Passages (Suarasama Indonesia-Wellington New Zealand), Lebah (Suarasama, Indonesia) dan akan merilis album “Timeline” pada tahun ini. Secara pribadi pun ia pernah menjadi artists in residence dalam kegiatan Wellington-Asian Artists Residence Exchange (WARE) oleh Wellington-Asian Foundation selama tiga bulan bersama istrinya.

hendrik perangin-angin

Martogi Sitohang seseorang yang selalu menginspirasi buat kita anak muda, gerakan – gerakannya yang selalu kita bayangkan sulit untuk terwujud, ditangan seorang Martogi Sitohang bisa terwujud karena semangat, intensitas totalitas dan jaringannya. Jebolan Entomusikologi ini sudah melalangbuana di dunia internasional melalui musik tradisional. Beberapa tahun ini ia punya program bagaimana mewujudkan Konser Satu Juta seruling, Mewujudkan seruling menjadi Alat Musik Nasional yang digagas dan diselenggarakan dari Sumatera Utara.

Murni Surbakti adalah salah satu penyanyi berdarah Karo yang sudah punya pengalaman musik di kancah nasional maupun internasional. Dengan latar belakang musik Jazz, Murni Surbakti juga tidak lupa untuk membawa lagu-lagu Karo di beberapa tour ke New York,USA. Ia pernah bernyanyi keliling Indonesia bersama Rita Nasution, Diana Nasution, Glen Fredly, Yoppy latul, Meriam Bellina Dan Dorce Gamalama. Tahun 1993 membentuk Trio Ryms ( Rey Wowor, Yuyun George, Murni ) dan bernyanyi ke Luar negri untuk acara kenegaraan seperti Indonesia Independence Day di Sydney

Tahun 1994 Murni Surbakti join bersama band senior D ‘Lloyd , tour show keliling Malaysia ( Kuala Lumpur, Kuala Pilah, Penang Dan Johor ) selama satu setengah bulan dengan Yuyun George. Tahun 1999 mulai bergabung bersama musisi Dan composer senior Elfa Secioria (almarhum) mempelajari tehnik vocal private untuk persiapan Album pertama. Tahun 2000 meluncurkan album pertama ” Pesta Dansa ” (Dancing Party). Di tahun yang sama bersama Elfa Secioria Jazz Choir mengikuti kontes Championship Jazz Choir se dunia dengan peserta dari 86 negara di Linz ( Austria ) Dan berhasil menjadi Juara 1 membawa Nama harum untuk negara Indonesia. Kini ia menetap di Bali.

Hendrik Perangin-angin nama beliau selalu membumi dikalangan anak muda medan, sosok yang menginspirasi dan selalu mendukung kegiatan anak-anak muda sumatera utara agar berani melangkah dan berkontribusi pada negeri ini, composer yang rendah hati ini, sudah memperdengarkan  bunyi-bunyi yang ia garap sampai ke luar negeri.

Selain musik, seniman berpengaruh dari  sastra juga menghentak panggung Jong Bataks Arts Festival 2015. Siapa yang tidak kenal Idris Pasaribu? Sastrawan gaek yang selalu pantang disebut tua. Dia tak pernah lelah mendidik anak-anak muda menjadi sastrawan di bawah pohon asam Taman Budaya Sumatera Utara. Dari bawah pohon asam ini, puluhan sastrawan lahir dari olah jiwanya.

Sejak tahun 1977 puisi-puisinya mulai dimasukkan dalam antologi sastrawan Sumatera Utara. Antologi puisi bersamanya terbit di Aceh, Jakarta dan Yogyakarta. Antologi cerpen bersama diikutkan di berbagai antologi yang terbit di Medan, Aceh, Jakarta bersama Hamsad Rangkuti dan penulis lainnya (Aisyah, Di balik Tirai Jendela) serta antologi cerpen bersama cerpenis Malaysia-Indonesia di Muara I dan Muara III.

Karya-karya sastra Idris Pasaribu mengambil tema-tema sejarah, budaya, kritik sosial. Seorang pengamat sastra Martin Alaeda, menilai cerpen-cerpennya memiliki gaya sastra reportatif. “Dia yang pertama kali mengatakan ada sastra reportatif, yaitu saya sendiri, Idris Pasaribu,”ujarnya.

Di seni rupa ada Mangatas Pasaribu dan Togu Sinambela mengerakkan karya-karyanya yang selalu bicara tentang ke-batakkan.

Para seniman berpengaruh sengaja diturunkan pada ajang ini untuk memberi darah segar pada kreator-kreator muda agar terus berkarya dalam kondisi sesulit apapun.  Untuk menyaksikan even ini anda dapat menggunakan donasi dan dapat menghubungi Hana Pagit (081397357055).

Leave a Reply

Your email address will not be published.