Kabut Asap di Pekanbaru Mengakibatkan Seorang Anak Meninggal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Image via news.viva.co.id
Image via news.viva.co.id

Pekanbaru, Jelasberita.com | Sudah lebih dari 2 bulan kabut asap di Pekanbaru akibat kebakaran hutan. Hal ini juga berdampak pada kesehatan. Kondisi kesehatan yang memburuk akibat asap tebal dialami oleh seorang anak bernama Ramadan Aerli Luthfi (9) siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Pekanbaru. Luthfi akhirnya meninggal dunia akibat mengalami penipisan oksigen di paru-paru. Luthfi menghembuskan nafas terakhir pada Rabu (21/10/2015) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Luthfi merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Bocah yang meninggal akibat asap tersebut merupakan buah hati Heriwiria (45) dan Lili (40), warga Jl Pangeran Hidayat, Pekanbaru. Walau Luthfi sempat mendapat perawatan medis di RS Santa Maria, Pekanbaru. Orang tuanya menduga, kepergian anaknya untuk selamanya karena terkait kabut asap. Heri menjelaskan bahwa Luthfi tidak memiliki riwayat penyakit paru-paru. Kalaupun sakit selama ini hanya sekedar demam. Luthfi dikenal sebagai pribadi ceria oleh teman-temannya. Luthfi oleh teman sepermainannya sosok suka menghibur dan bercanda.




Luthfi sudah merasa sakit sejak Selasa (20/10/2015) siang. Menurut Heri mengatakan bahwa anaknya mengeluh sakit panas setelah pulang bermain di luar rumah. Dia bermain karena sekolah libur karena kabut asap di Pekanbaru yang pekat. Luthfi akhirnya beristirahat di rumah, namun menjelang Magrib Luthfi muntah-muntah. Luthfi juga sempat berpesan ingin makan nasi goreng ketika ditanyakan hendak makan apa oleh ibunya.

Namun ketika ibu Luthfi datang membawa nasi goreng, keadaan Luthfi sudah lemas, ibu Luthfi memeluknya dan menangis. Luthfi muntah lagi ditambah kejang-kejang sampai keluar kotoran.

Luthfi akhirnya segera dibawa ke RS Santa Maria. Tim mendis sempat memberikan pertolongan berupa infus, oksigen dan memompa di bagian dada. Tapi setelah tiga jam tidak ada perubahan apa pun dan layar monitor semuanya datar. Luthfi pun akhirnya meninggal. Luthfi miliki seorang adik lelaki yang masih berumur 2 tahun, Raffi. Raffi kini menjadi anak semata wayang bagi Heri dan Lili setelah Luthfi.

Kronologi kejadian:




Pukul 10.00, Selasa, 20 Oktober 2015. Luthfi bangun tidur dan bermain laptop bersama adiknya.

Pukul 12.00, Luthfi mengeluh demam. Suhu badannya panas. Luthfi makan nasi kemudian meminum obat penurun panas.

Luthfi kemudian tidur sampai pukul 19.00. Namun panas badannya tidak kunjung turun.

Pukul 22.00, Luthfi mengalami muntah dan kejang-kejang di tempat tidur. Heri kemudian membawa Luthfi ke Rumah Sakit Santa Maria. Tiba di rumah sakit, Luthfi mendapat perawatan medis berupa infus dan oksigen.

Pukul 03.00, kesadaran Luthfi menurun. Detak jantungnya mulai melemah. Tim medis, melakukan penanganan menggunakan alat pengejut jantung. Namun kondisi Luthfi tidak kunjung membaik.

Menjelang subuh pukul 04.00 lewat, pada Rabu, 21 Oktober 2015, Luthfi dinyatakan meninggal seiring detak jantungnya yang berhenti.

Menurut penjelasan tim medis di RS Santa Maria bahwa kondisi pasien saat dirujuk ke rumah sakit sudah dalam keadaan berat, telah terjadi penipisan oksigen di paru-paru pasien, di paru-paru pasien tampak tertutup semacam awan-awan, tim medis sudah berusaha maksimal memberikan tindakan medis. (Alex)

Leave a Reply

Your email address will not be published.