Kekurangan Gizi & Patah Tulang, Rani Butuh Bantuan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Rani Butuh Bantuan

Medan, Jelasberita.com Namanya Rani boru Silalahi. Gadis berusia delapan tahun ini, tinggal di Jalan Pukat Banting 1/Rel KA, No.32 Medan Denai. Selain mengalami patah tulang kaki, dirinya juga terlahir dari keluarga kurang mampu, sehingga kekurangan gizi dan butuh bantuan para dermawan.







Pasangan dari Sahab Silalahi dan Ani Sagala ini terus bersedih dan meratapi nasibnya. Upaya pengobatan sang anak juga terasa berat diemban oleh mereka yang hanya tinggal menumpang dirumah gubuk reok milik keluarganya di pinggiran rel KA.

Pasalnya, kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai pengumpul barang bekas (botot) dan sesekali membantu mencari nasi busuk (parnab).

Karena dianggap dari keluarga kurang mampu dan bergizi buruk, enam SD menolak saat orangtuanya mencoba menyekolahkan Rani. Ia adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara. Ketiga saudara dan saudarinya sehat tanpa kekurangan fisik dan mampu sekolah.

Menurut pengakuan ibunya, Rani adalah anak yang rajin dan kemauannya sekolah cukup tinggi. Disamping itu, gadis berusia delapan tahun ini juga terbilang pintar. Walau sakit, Rani tetap membantu orangtuanya di ruman dan mencari nafkah. Ia sering ikut membantu hingga keliling menggunakan becak.




Dari kisah sang ibu, anak ketiganya itu memang sejak lahir sering sakit-sakitan. Tinggal di emperan Rel KA Jalan Tangguk Bongkar 1, ibunya menyebut kalau Rani terkena “Palasik”. Menurut kepercayaan Minangkabau, Palasik adalah manusia yang memiliki ilmu hitam. Dan ilmu hitam itu mengenai Rani sehingga sakit-sakitan.

“Memang dari kecil dia (Rani) sudah sakit-sakitan. Dia kena Palasik dari kecil, sehingga tubuhnya lemah dan terus mencret,” kata ibunya, Kamis (15/10).

Keluarganya sudah mengupayakanpengobatan dari tradisional ataupun bidan walaupun terbatas biaya. Namun, karena hidup dengan penyakit, membuat keluarganya berjuang menghidupinya karena kemauan sang anak untuk bersekolah yang cukup tinggi.

Dalam kondisi tubuhnya yang rapuh, Rani mengalami patah tulang kaki untuk kedua kalinya. Kaki kanannya yang kali ini patah disebabkan kondisi tulang yang rapuh. Kejadiannya beberapa bulan lalu saat dirinya membantu mengerjakan aktivitas dirumah untuk membantu orangtuanya.

Kini, Rani terus menjalani pengobatan tradisional di “Kem-Kem” Jalan Denai Simpang Mandala. Di sela-sela pengusukan tulang kakinya, sesekali dia menjerit memanggil ibunya yang terus mengelus rambutnya yang sebahu. Ini dilakukan guna menenangkan Rani saat  kesakitan.

Ketika diwawancara, ternyata Rani memiliki kemauan bersekolah yang cukup tinggi. Bahkan dia mengaku ingin jadi dokter agar mampu mengobati saudaranya yang sakit. “Aku mau sekolah om, tapi gak bisa”. Mau jadi dokter, biar gak sakit lagi. Bisa ngobati orang juga,” ucap polos Rani, sembari mengusap air matanya usai dikusuk.

Sementara, ibunya mengaku sedih dengan nasib anaknya. Dirinya juga berharap agar ada orang yang memiliki hati nurani danmembantunya. Menganggap anaknya juga anak manusia yang pantas dibantu.

“Sedih kali saya dek. Dia mau sekolah terus, dia juga pintar orangnya. Tapi kami sudah datangienam SD dan tak ada yang mau menerimanya. Saya harap, ada orang yang mau membantu kami dan menganggap anaknya atau saudaranya. Sehingga dia (Rani) bisa sekolah dan bisa merasakan masa kecilnya,” imbuh Ani dengan mata berkaca-kaca. (Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.