Pemerintah Gencarkan Sosialisasi Sentra Peternakan Rakyat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




EDIT2Bogor, Jelasberita.com |Dalam rangka mempercepat pelaksanaan Sentra Peternakan Rakyat (SPR), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Muladno menggalakkan sosialisasi. Dirjen PKH Muladno berkata, pihaknya telah menyiapkan alokasi anggara sebesar Rp 1 miliar per SPR.

Dia menyebutkan, selama ini program-program peternakan ada yang sukses dan ada yang gagal. Namun hasilnya tidak menjadikan sektor peternakan berkembang. “Dari dulu peternak hanya memiliki 1-2 ekor sapi, sapi kurus-kurus, dan pemeliharaannya buruk,” katanya di Bogor, Kamis (15/10).







Dengan SPR ini, peternak diberikan pemahaman secara teknis, manajemen, dan pemasaran dari pemerintah dan perguruan tinggi. Karena itu syaratnya dalam satu kecamatan itu harus sudah memiliki ternak. Program ini berlaku untuk berbagai jenis ternak: sapi, kambing, domba, ayam ras, dan ayam lokal. Ada pun syarat-sayarat SPR yaitu: setiap 1 kecamatan harus ada 1.000 indukan sapi, atau 2.000 ekor kambing, atau 100.000 ekor ayam ras, dan atau 450.000 ekor ayam lokal.

Muladno menuturkan, setiap sentra memiliki Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT). GPPT tersebut merupakan perwakilan peternak dengan jumlah 9 orang. GPPT bertugas, kata Muladno, layaknya komisaris perusahaan untuk menentukan kebijakan. Selain itu, setiap SPR memiliki 1 orang manajer dengan pendidikan sarjana. Fungsi manajer adalah sebagai narasumber peternak, motivator, mediator, dan fasilitator.

Syarat menjadi manajer SPR adalah sarjana semua jurusan, baru lulus, dan memiliki pengalaman kepemimpinan. Manajer SPR akan digaji Rp 8 juta per bulan. “Setiap manajer SPR bertugas mendatangi 9 orang GPPT untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang ada,” jelasnya.

Muladno mengaku ada kesulitan dalam menjalankan program SPR. Pasalnya, peternak pada umumnya tamatan SD hingga SMP sehingga sulit menjalankan program. Di Bojonogero, ia mencotohkan, baru 60 peternak yang diyakini sudah memahami konsep SPR. “Meskipun anggotanya banyak, namun belum semua memiliki pikiran yang sama. Ini membutuhkan waktu lama,” terangnya.




Dalam SPR, peternak diharapkan tidak menjual sapi indukan hingga menopause, mengebiri setiap sapi jantan remaja, ternak sudah diasuransikan, dan ternak memiliki Buku Pemilik Ternak Indukan (BPTI).  Capaian keberhasilan program SPR idealnya bisa dilihat pada tahun keempat. “Tahun keempat, SPR sudah menjadi perusahaan kolektif atau berjemaah. Berjemaah artinya memberi pakan yang sama, mejual sapinya melalui satu pintu, dan manajemen yang sama,” pungkas Muladno. (Roni)

Leave a Reply

Your email address will not be published.