Kode Perdagangan Saham

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




 

saham




Bagi masyarakat yang sudah berinvestasi di pasar saham mungkin sudah sangat familiar dengan kode perdagangan saham atau ticker terhadap saham-saham favorit. Tidak jarang seorang investor bahkan lebih mengenal ticker saham dibanding nama lengkap emiten atau perusahaan yang sedang dan akan mereka transaksikan. Contohnya saham PT Astra International Tbk dengan ticker nama ASII, kemudian PT Bank Rakyat Indonesia Tbk lebih sering disebut BBRI. Atapun misalnya saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk yang lebih familiar dengan ticker nama ITMG.

Kode perdagangan, simbol saham atau ticker tadi diberikan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tujuan memudahkan perdagangan saham. Semua emiten yang sahamnya tercatat di BEI memiliki kodenya masing-masing. Biasanya BEI bersama emiten memberikan kode saham yang sesuai dengan nama emiten atau sesuatu yang menyangkut brand perusahaan. Melalui kode perdagangan yang terdiri dari empat huruf tersebut investor akan mudah mengenali saham mereka baik tatkala melakukan transaksi maupun melihat perkembangan harga saham pada papan perdagangan. Sebab dalam publikasi harga saham maupun publikasi apapun yang menyangkut emiten, BEI selalu melekatkan kode perdagangan saham tersebut.

Nah, belakangan kode perdagangan saham emiten ini sempat menjadi pembahasan beberapa pihak dan diulas sejumlah media. Diskusi yang berkembang diantaranya, apakah industri mengatur tentang pergantian kode perdagangan sebuah emiten yang telah melakukan pergantian nama perusahaan akibat aksi korporasi merger atau akuisisi? Pasalnya ketika kepemilikan mayoritas saham emiten itu berganti, pengendali baru biasanya akan melakukan pergantian nama perusahaan.

Jika menilik sejarah para emiten di lantai bursa, setelah terjadi merger atau akuisisi atas suatu emiten, ada beberapa emiten yang melakukan pergantian nama perusahaan. Akan tetapi, pergantian nama tersebut tidak diikuti dengan pergantian kode perdagangan sahamnya. Sehingga aktivitas transaksi dan publikasi yang dilakukan tetap menggunakan kode saham yang sama.




Salah satu contohnya adalah saham PT Bank Mutiara Tbk. Bank yang dulu bernama PT Bank Century Tbk ini masih menggunakan kode saham BCIC, ticker yang telah dipakai sejak sahamnya pertama kali dicatatkan di BEI. Padahal nama perusahaan telah berganti seiring pengambilalihan bank-bank ini oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Bukan hanya Bank Mutiara, hingga saat ini belum satupun emiten yang telah berganti nama dan pemilik, telah melakukan pergantian ticker di BEI. Walaupun memang hal tersebut bisa saja terjadi karena tidak adanya aturan khusus yang mewajibkan emiten untuk mengganti ticker-nya setelah berubah nama dan pemegang saham pengendali. Pernyataan ini diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas pasar Modal dan Anggota Dewan Komisioner OJK Nurhaida. Menurutnya hingga saat ini otoritas tidak menyediakan payung payung hukum terkait pergantian kode. “Untuk ticker kan cuma kode. Sejauh ini OJK tidak memiliki aturan tentang itu,” ujar Nurhaida.

Begitu pula dengan otoritas bursa. Sejauh ini BEI tidak akan melakukan intervensi kepada emiten terkait pilihan perubahan kode saham tersebut meskipun telah berganti nama pasca perubahan pengendali dan pergantian fokus bisnis. Di lain sisi, bursa juga akan membuka peluang bagi emiten untuk mengganti kode sahamnya jika dibutuhkan.

“Bursa mempersilakan bagi emiten yang merasa perlu mengganti kode sahamnya untuk mengajukan perubahan. Emiten bisa mengajukan perubahan ticker dan melakukan pembayaran ke BEI,” ujar Ito.

Bursa melihat perubahan ticker tidak memerlukan aturan khusus untuk merealisasikan prosedur perubahan kode perdagangan. Namun bukan berarti perubahan ticker dapat dilakukan tanpa alasan. Ito mengatakan, perubahan kode diprioritaskan bagi emiten yang mengalami perubahan bidang usaha atau terjadi pergantian nama perusahaan tercatat akibat akuisisi atau merger.

Diskusi tentang perlu atau tidaknya peraturan terkait perubahan kode perdagangan berkembang  seiring dengan persiapan teknis yang dilakukan oleh BEI dalam rangka menyiapkan program penghubung antara data-data emiten dengan ticker saham yang lama dengan yang baru. Pengembangan sistem ini dinilai tidak hanya untuk internal BEI tetapi juga vendor penyedia data pasar modal. “Nanti setelah sistem yang sedang kami susun terbentuk, emiten juga bisa mengubah ticker sahamnya,” tambah Ito. (Tim BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.