BNN Ajak Kampus Bebas dari Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Seminar BNN Medan

Medan, Jelasberita.com | Deputi Rehabilitasi BNN RI dr. Diah Setia Utama mengajak Unimed dan perguruan tinggi lainnya untuk mewujudkan kampus bebas dari rokok. Hal itu, katanya, sebagai bukti nyata keberpihakan perguruan tinggi dalam memerangi narkoba. “Bikin kampus bebas rokok, bisa nggak?” tantangnya, usai memaparkan materi kuliah bertajuk “Peran Strategis BNN dalam Memerangi Penyalahgunaan Narkoba,” yang digelar di auditorium Unimed, Senin (6/10).







Pemberlakuan kampus bebas rokok, menurut Diah, langkah nyata dan sederhana yang bisa diwujudkan setiap perguruan tinggi, asal ada kemauan. Pemberlakuan itu, sambungnya, demi menekan laju peredaran narkoba. Ia kuatir, jika kampus tidak ikut ambil andil, prevalensi penyalahgunaan narkoba akan terus meningkat.

Prevalensi penyalahguna narkoba pada 2015 sebesar 4,2 juta jiwa (2,18 persen dari 245 juta populasi Indonesia) sementara, prevalensi 4,5 juta (2016), 4,6 juta (2017), 4,8 juta (2018), 4,9 juta (2019)
5 juta (2020).

“Tengok prevalensinya. Kalau tidak serius (narkoba) ditangani, atau nggak dilakukan terobosan, akan kita lihat proyeksinya pada 2.020 sebanyak 5 juta jiwa. Akan terjadi lost generation,” bebernya. Ia mengisahkan bagaiman Tiongkok pernah mencapai 10 persen dari populasinya candu narkoba sehingga terjadi chaos.

Kendati demikian, Pemerintah juga masih bergerak lamban dalam mewujudkan program rehabilitasi. Terbukti ada enam Provinsi di tanah air yang sama sekali belum punya pusat rehabilitasi narkoba. Keenam provinsi itu antara lain, Jambi, Maluku Utara, Gorontalo, Jayapura, Riau dan Papua Barat.




Pusat Rehabilitasi

Karena itu, terang Diah, selain menggencarkan pemberantasan, BNN juga mendorong terjadinya pencegahan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pencegahan, BNN menyatakan, di Sumatera Utara yang belum punya pusat rehabilitasi milik pemerintah, yahun ini sedang dibangun dua unit. Satu di Deli Serdang, satu lagi di Sibolangit, Karo.

Di Deli Serdang, ada bangunan milik PTPN. Bangunan itu dulu bikinan Belanda kini direnovasi untuk dijadikan sebagai pusat rehabilitasi pengguna narkoba. Kapasitasnya 120 orang. Untuk rehabilitasi, BNN menggelontorkan Rp 400 M yang diambil dari 1,3 Triliun total anggaran BNN.

Besarnya anggaran BNN, kata Diah, mengingat narkoba telah ditetapkan negara sebagai kejahatan luar biasa dan harus diberantas dengan kerja-kerja hebat.
Lebih jauh ia mengatakan penanganan permasalahan narkoba harus secara berimbang antara aspek hukum dan kesehatan. (Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.