Workshop Penulisan Bahan Ajar

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Workshop Penulisan Bahan Ajar

Pekanbaru, Jelasberita.com | Kabut asap yang menyelimuti kota Pekanbaru tak melenyapkan semangat para pendidik di bawah naungan Yayasan Prayoga Riau dan Yayasan Puteri Hati Kudus untuk terus berkarya. Tampaklah jua rasa bangga ketika melihat karya mereka sendiri di rona wajah para guru. Karya yang mereka susun sekian lamanya akhirnya bisa mereka gunakan sebagai bahan ajar. Pun mereka bersama melanjutkan misi untuk menerbitkan bahan ajar yang mereka susun untuk semester berikutnya. Adalah sejumlah 32 guru mata pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia dari ke dua yayasan tersebut hadir di Gedung Pertemuan Paroki St. Maria Pekanbaru. Sebanyak 9 orang guru berasal sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Puteri Hati Kudus, antara lain SMP Asisi Medan, SMP Asisi Pematangsiantar dan SMP Asisi Kota Batak. Sementara itu, 23 orang guru berasal dari Yayasan Prayoga Riau, dari 7 wilayah koordinatorat yaitu koordinatorat wilayah Pekanbaru, Duri, Dumai, Bagan Batu, Bagan Siapi-api, Air Molek, dan Selat Panjang. Workshop Penulisan Bahan lanjutan ini berlangsung selama enam hari (28 September-3 Oktober 2015).




Ketua Yayasan Prayoga Riau, Rm. Anton Konseng Pr dan Ketua Yayasan Puteri Hati Kudus Pematangsiantar Sr. Maria Frederika Hasugian FCJM turun menyambut hangat dan menyemangati kinerja para guru. “Mengingat kembali bahwa ke depan sekolah-sekolah katolik menghadapi tantangan globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Artinya, persaingan akan semakin ketat dan berat. Dalam hal ini, Yayasan Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) harus terus meningkatkan mutu para gurunya, karena guru yang baik dan bermutu akan menghasilkan siswa yang berkualitas. Untuk itu diperlukan kerjasama antar Yayasan LPK dalam meningkatkan kualitas Lembaga Pendidikan Katolik”, ujar Sr. Maria Frederika Hasugian FCJM.

Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), standard kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk mengembangkan bahan ajar sendiri. Dengan membuat bahan ajar sendiri, guru akan benar-benar menguasai bahan ajar tersebut. Selain itu, bahan ajar tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa yang menjadi sasaran, yaitu lingkungan sosial, budaya, geografis, tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang, dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi perhatian ibu Anna Maria, MPd., salah seorang pemandu dan pembimbing workshop, sekaligus Staff Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru. Beliau menjelaskan bahwa para guru perlu mengolah dan menyusun materi pelajaran sendiri agar mengena atau bermakna bagi kehidupan para siswa. Proses belajar-mengajar yang bermakna akan membawa perubahan dalam diri peserta didik ke arah yang positif.

Nah, atas kesadaran hal tersebut di atas, guru-guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di bawah naungan Yayasan Prayoga Riau dan Yayasan Putri Hati Kudus Pematangsiantar menyusun modul atau bahan ajar ini. Sebelum menyusun modul ini, para guru terlebih dahulu melakukan analisis kurikulum untuk mengembangkan indikator-indikator dari aspek kognitif, psikomotor dan afektif, yang merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Proses pengembangan indikator tersebut sangat penting, karena para guru semakin mendalami dan memahami Kompetensi Dasar (KD). Hal yang penting ketika mengembangkan indikator-indikator, para guru harus benar-benar menguasai materi-materi pokok pelajaran.

Setelah pengembangan indikator selesai dilakukan, para guru masuk pada tahap merumuskan sebuah pemahaman (Understanding) dari indikator-indikator yang telah dibuat. Pemahaman (Understanding) adalah kesimpulan yang memaknai indikator-indikator tadi. Pemahaman (understanding) tersebut menjadi sebuah generalisasi yang bermanfaat bagi para siswa sesuai dengan situasi atau konteks mereka. Selanjutnya para guru merumuskan school value, yakni nilai-nilai yang kiranya dimiliki oleh peserta didik. Indikator, Pemahaman (understanding), School Value merupakan Tujuan Pembelajaran (Big Ideas).




Berpedoman pada KD, Indikator, Pemahaman (understanding) dan school value disusunlah bahan ajar atau modul dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Metode pembuatan modul seperti ini disebut dengan Pola Mundur (Backward Design). Dalam pola mundur ini, arah atau tujuan (Big Ideas) proses pembelajaran terlebih dahulu dirumuskan, dan dari sana bahan ajar, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) disusun untuk mencapai Big Ideas tersebut. Para guru tampak bersemangat dan antusias dalam proses menulis buku. Ada yang tampak sangat kelelahan. Namun, dengan beberapa games dan ice breaking, keadaan yang kaku dapat kembali ceria. Dan merekapun tak sabar untuk kembali melihat hasil karya yang ke dua.

Oleh : Sry Lestari Samosir, S.Pd




Leave a Reply

Your email address will not be published.