Riduan Situmorang : Manusia-Manusia Binatang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Aristotle

Oleh Riduan Situmorang *)




Man is by nature a social animal; an individual who is unsocial naturally and not accidentally is either beneath our notice or more than human. (Aristotle, Politics)

Sadar atau tidak, manusia sesungguhnya pernah berhala pada binatang. Dalam hal ini, tentu binatang dianggap sebagai yang lebih “kuat”, setidaknya punya “roh”. Lihatlah, misalnya, bagaimana orang Mesir menyembah Spinx, makhluk berkepala singa, bersayap garuda dan berekor ular, dan Orang Yunani pada Centaurus, yaitu manusia yang bertubuh kuda. Dalam Perjanjian Lama bahkan dikisahkan bagaimana mereka yang sudah dibebaskan oleh Musa malah menyukurinya dengan menyembah patung anak lembu.

Di sini, selain sebagai yang sakral, binatang dipandang sebagai yang “lebih besar”. Arti turunan langsungnya, manusia pada saat itu masih menganggap apa yang di sekelilingnya sebagai yang mistis dan penuh gaib sehingga manusia merasa takut dan cemas. Karena takut, mereka akhirnya memberi sesaji sebagai bentuk membujuk. Tidak saja cemas, mereka juga merasa dirinya sangat kecil menghadapi amarah dari “roh” tersebut. Artinya, rasio masih belum dominan.

Pemuas Hawa Nafsu




Setelah itu, zaman binatang sebagai yang punyah “roh” perlahan memudar. Manusia perlahan-lahan menganggap binatang sebagai mahluk hidup biasa, bahkan lebih rendah. Maka, jadilah pemburuan secara massal. Tidak cukup demikian, di sini pula, binatang dipandang bukan lagi sekadar alat pemuas kebutuhan biologis, melainkan juga sebagai komoditas untuk ekonomi, termasuk gengsi. Praktis, binatang yang dulu masih ada dianggap sakral dan “jago” seperti harimau, singa, dan gajah mendadak tidak. Semua dipandang rata sebagai alat pemuas hawa nafsu.

Pada tahap ini, rasio mulai mempunyai panggung utama. Masalahnya, belakangan, binatang itu pelan-pelan habis. Dengan rasionya, manusia kemudian berpikir untuk mengatasinya. Maka, jadilah masalah reproduksi binatang yang dulunya alami dan lambat direkayasa sedemikian rupa. Dalam hal ini, selain rasio, manusia menjadikan dirinya sebagai “sang Pencipta” yang dapat merekayasa genetika, mengatur siklus lahir, mengatur kapan panen, dan sebagainya. Jangankan sebagai pemuas nafsu, binatang kini dipandang semata sebagai objek percobaan yang sama sekali tidak punya “nilai” hidup. Dimatikan saja sesuka hatinya.

Lalu, pada masa kontemporer, khususnya di negeri ini, manusia rupa-rupanya tidak bosan-bosan bereksplorasi. Tidak puas membalaskan dendam kepada binatang, manusia malah mengimitasi sebagian besar sifat-sifat hewani. Manusia ternyata tak puas bertubuh manusia, mereka harus berhati binatang. Maka, lahirlah adagium yang mengatakan bahwa manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia. Ini merupakan rumus turunan dari apa yang pernah dimaklumatkan Aristotels:  animale rationale. Dan sialnya, manusia ingin menjadi manusia sekaligus menjadi binatang pula. Serakah!

Jelas saja, manusia yang dulunya pernah tahu cara berbagi mendadak tidak. Lihatlah DPR kita. Mereka mencari kesepahaman, tiba-tiba berseteru sehingga meja terguling. Mereka mencari keputusan, tiba-tiba keluar dari rapat, ketika diputuskan malah bertanya balik, kok begitu? Ini tidak adil! Mereka yang dibayar mestinya memperjuangkan rakyat, tiba-tiba hanya berdebat dan berdebat yang tidak ada pangkal ujungnya. Alih-alih menyenangkan, mereka malah mempertontonkan bagaimana cara meraih kekuasaan, tanpa sedikit pun berbagi. Mereka mengatakan ini sebagai kerja sama, pada praktiknya hanyalah demi kelompok untuk tidak menyebut demi gerombolan.

Sebagaimana perilaku hewan, maka yang kini dominan pula adalah naluri untuk memuaskan syahwat. Otak, apalagi perasaan tidak menemui tempatnya lagi di sini. Kalaupun ada otak, gunanya hanya mengatur strategi bagaimana mencari, bahkan mencuri kekuasaan. Kalau tidak dapat dari eksekutif, mari dari legislatif. Tidak cukup, kalau tidak boleh dari pusat, mari dari segala lini di berbagai daerah. Inilah logika otak binatang yang serakah. Di sini, kita tidak usah lagi melihat perasaan, apalagi hati sanubari, dia sudah “pingsan”, bahkan mungkin sudah menemui kiamatnya.

Hukum Rimba

Karena itu, yang berlaku bukan lagi hukum nalar, melainkan hukum rimba. Lihatlah, yang korup yang adalah mencuri untuk bisa bermewah-mewah dibebaskan. Kalaupun dipenjarakan, mereka menempati ruang eklusif, bahkan masih bisa bertamasya, membawa pacar dan bercinta di sana. Dan, karena selama ini tidak sempat kuliah, kini mereka menyempatkan diri kuliah di sana. Sebaliknya, yang mencuri untuk sekadar makan malah dipenjarakan begitu saja, di tempat yang “kejam” pula. Padahal kalau logika dan perasaan bermain, maksud saya, kalau kita memang manusia, bukan manusia-binatang, kita akan tahu bahwa yang mencuri tadi balik mencuri karena koruptor lebih dahulu mencuri haknya.

Ya, inilah yang disebut sebagai binatangisme politik. Tema dan tempatnya hanya keserakahan. Pelakonnya manusia berperilaku binatang. Penontonnya dibinatangkan pula. Seperti perumpamaan W. Trotter (1916) yang mengatakan orang Jerman sebagai serigala dan orang Inggris melantik singa sebagai “tuannya’, Indonseia pun demikian pula.

Ironisnya, Indonesia terdiri atas berbagai binatang. Mahbub Djunaidi, misalnya, mencatat bahwa Indonesia itu bagaikan marmut walau sebenarnya babi lebih gawat dalam hal angka kelahiran dan keserakahan. Dari sudut kepatuhannya yang serampangan, lebih tepat bebek. Dari ranah pemerintah, khusus DPR, mereka bisa menjadi banteng yang dipertandingkan, kuda yang ditunggangi seseorang, maksud saya seseorang berhati binatang, singa yang diraja, bekicot yang lamban, atau “binatang cerdas” yang tidak punya perasaan yang menganggap rakyatnya sebagai binatang.

Inilah evolusi manusia, tepatnya manusia Indonesia. Yang dulu manusia “takut” pada binatang, lalu membunuh binatang, mengatur hidup-matinya, saya termenung, tepatnya takut mengakaui bahwa kalau kini kita berevolusi menjadi manusia berhati binatang, manusia “bertubuh” binatang.

Hehehe, negeri ini rupanya kebun binatang. Kita ini manusia-manusia binatang. Mungkin beberapa dari kita masih ada manusia benaran. Tetapi percayalah, manusia binatang yang adalah elite di negeri ini telah membinatangkan kita, memperlakukan kita sebagai binatang. Jadi meski Anda yakin masih manusia benaran, manusia-manusia binatang itu telah memperlakukan kita secara binatang. Tetapi sudahlah, mari merawat kebun binatang kita ini dengan baik. Dan berdoa pula semoga evolusi ini berkelanjutan: dari yang mulanya binatang ke manusia, mudah-mudahan kita berhasil ber-evolusi dari binatang menjadi manusia.

*) Penulis adalah Pendidik, Konsultan Bahasa, dan Pegiat Sastra dan Budaya, dan Penggagas “Teater Z” Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published.